RADAR TULUNGAGUNG - Jagat media sosial kembali diramaikan polemik viral alumni LPDP yang memamerkan paspor Inggris milik anaknya. Sosok tersebut adalah Dwi Sasetianing Tias atau yang akrab disapa Tias. Video pernyataannya langsung menuai pro dan kontra karena dianggap menyinggung status kewarganegaraan Indonesia.
Dalam video yang beredar luas, Tias mengungkapkan pernyataan yang memantik perdebatan. Ia menyebut dunia terasa tidak adil dan berharap anak-anaknya memiliki paspor yang lebih kuat. Bahkan ia sempat mengatakan dirinya lelah menjadi WNI. Pernyataan itu sontak membuat publik mempertanyakan komitmen seorang alumni LPDP terhadap Indonesia.
Isu viral alumni LPDP ini pun semakin memanas karena Tias diketahui merupakan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), program beasiswa yang dibiayai negara melalui dana abadi pendidikan. Banyak warganet menilai, sebagai penerima beasiswa uang rakyat, seharusnya ia menunjukkan sikap nasionalisme yang lebih kuat.
Profil Dwi Sasetianing Tias, Alumni LPDP ITB
Di balik kontroversi tersebut, Tias bukanlah sosok sembarangan. Ia merupakan lulusan Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia.
Ia kemudian melanjutkan studi S2 melalui beasiswa LPDP ke Delft University of Technology di Belanda, mengambil jurusan Sustainable Energy Technology pada periode 2015 hingga 2017. Program tersebut dikenal sebagai salah satu kampus teknik terbaik di Eropa.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Tias mengaku kembali ke Indonesia untuk menjalankan kewajiban sebagai penerima beasiswa LPDP. Ia menyebut telah menetap selama enam tahun di Tanah Air dan berkontribusi dalam berbagai bidang pembangunan berkelanjutan.
Jejak Kontribusi: Energi Surya hingga Penanaman Bakau
Sebelum viral alumni LPDP ini menjadi polemik, Tias dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan. Ia mengembangkan platform energi surya gratis di Pulau Sumba, membantu akses energi terbarukan bagi masyarakat.
Tak hanya itu, ia juga mendirikan platform “Kawan Kompos” yang fokus pada pengelolaan sampah organik. Upaya tersebut menjadi bagian dari kampanye pengurangan limbah dan edukasi lingkungan.
Tias juga tercatat sebagai inisiator penanaman 10.000 pohon bakau di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Program tersebut bertujuan mencegah abrasi serta memperbaiki ekosistem pantai. Selain itu, ia turut berperan dalam pembangunan sekolah di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Rekam jejak inilah yang membuat sebagian pihak menyayangkan polemik viral alumni LPDP tersebut. Banyak yang menilai kontribusinya cukup nyata, namun pernyataan di media sosial justru menimbulkan persepsi berbeda.
Alasan Tinggal di Inggris dan Status Anak
Tias diketahui kini berada di Inggris untuk mendampingi suaminya yang bekerja sebagai research consultant di University of Plymouth. Dari pernikahannya, ia dikaruniai seorang anak yang memiliki hak kewarganegaraan Inggris.
Dalam konteks hukum, anak yang lahir atau memiliki orang tua dengan status tertentu di Inggris memang bisa memperoleh kewarganegaraan setempat. Namun, pernyataan Tias tentang “paspor kuat” dinilai publik sebagai bentuk perbandingan yang kurang sensitif.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Setelah gelombang kritik terus bergulir, Tias akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengakui pernyataannya telah menimbulkan kegaduhan dan melukai sebagian pihak.
Dalam klarifikasinya, ia menegaskan tetap menghargai Indonesia serta mengingat kembali komitmennya sebagai alumni LPDP. Permintaan maaf tersebut mendapat respons beragam, ada yang menerima, namun tak sedikit pula yang tetap mempertanyakan integritasnya.
Polemik viral alumni LPDP ini menjadi pengingat bahwa figur publik, terlebih penerima beasiswa negara, memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik. Media sosial memang ruang personal, namun dampaknya bisa meluas dalam hitungan detik.
Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang nasionalisme, peluang global, hingga dinamika diaspora Indonesia di luar negeri. Di era globalisasi, mobilitas lintas negara semakin lumrah. Namun sensitivitas terhadap isu kewarganegaraan tetap menjadi perhatian utama masyarakat.
Hingga kini, perbincangan terkait viral alumni LPDP tersebut masih ramai di berbagai platform media sosial. Publik pun menanti langkah selanjutnya dari Tias serta sikap resmi dari pihak terkait bila diperlukan.
Editor : Edo Trianto