RADAR TULUNGAGUNG- Pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan dalam diskusi publik Bangkit Fest. Sejumlah pembicara menilai tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini bukan hanya soal fasilitas atau beasiswa, tetapi juga kultur belajar, kesenjangan akses, hingga fenomena praktik joki yang dianggap semakin lumrah.
Dalam forum tersebut, pembicara dari kalangan akademisi, pemerintah, dan media menyoroti berbagai persoalan yang membuat tingkat optimisme masyarakat terhadap pendidikan nasional masih rendah. Berdasarkan survei yang dipaparkan dalam diskusi, tingkat optimisme publik terhadap pendidikan Indonesia berada di angka 5,51 dari skala 10.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih pesimis terhadap masa depan pendidikan Indonesia, terutama terkait pemerataan kualitas pendidikan dan kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.
Salah satu narasumber menjelaskan bahwa perubahan zaman membuat masyarakat kini lebih mudah membandingkan kualitas pendidikan. Media sosial menjadi salah satu faktor yang memperlihatkan kesenjangan pendidikan antara daerah, kota besar, hingga luar negeri.
“Dulu sebelum era media sosial kita tidak tahu bagaimana sekolah di negara lain. Sekarang semuanya transparan. Orang bisa melihat perbedaan fasilitas, cara belajar, bahkan interaksi guru dan murid,” ujarnya.
Ketimpangan Pendidikan dan Realita Dunia Kerja
Selain kesenjangan akses, persoalan lain yang disoroti adalah ketidaksesuaian antara materi pendidikan dan kebutuhan industri.
Banyak lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang merasa ilmu yang mereka pelajari tidak sepenuhnya relevan dengan tuntutan dunia kerja saat ini.
Situasi ini diperparah dengan kondisi pasar kerja yang semakin kompetitif. Lulusan dari daerah sering kali harus bersaing dengan lulusan dari kota besar yang memiliki akses pendidikan lebih baik.
Menurut pembicara dari kalangan akademisi, kondisi tersebut berpotensi menjadi bom waktu jika tidak segera ditangani. Setiap tahun, jutaan lulusan baru masuk ke pasar kerja, sementara pertumbuhan lapangan pekerjaan tidak selalu sebanding.
“Anak muda kita semakin banyak, tapi penciptaan lapangan kerja biasa-biasa saja. Ini tantangan besar,” katanya.
Fenomena Joki Tugas yang Dianggap Lumrah
Salah satu isu yang paling menyita perhatian dalam diskusi tersebut adalah fenomena joki tugas atau joki ujian yang dinilai semakin biasa di kalangan pelajar.
Seorang pembicara mengaku terkejut saat mengetahui praktik tersebut dianggap normal oleh sebagian mahasiswa.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak mahasiswa bahkan tidak menyadari bahwa praktik tersebut termasuk bentuk kecurangan akademik.
“Yang membuat kaget bukan adanya joki, tapi banyak yang tidak merasa itu salah. Mereka membandingkannya dengan menyewa konsultan atau jasa lain,” katanya.
Fenomena ini dinilai menunjukkan adanya masalah kultur dalam pendidikan. Banyak pelajar lebih fokus pada hasil akhir dibandingkan proses belajar.
Peran Kultur dan Keluarga dalam Pendidikan
Diskusi juga menyoroti pentingnya kultur belajar dalam membentuk kualitas pendidikan. Pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Salah satu contoh yang diangkat berasal dari penelitian internasional tentang negara dengan sistem pendidikan terbaik seperti Finlandia dan Korea Selatan.
Penelitian tersebut menemukan bahwa kebiasaan sederhana seperti orang tua menanyakan kepada anak tentang pelajaran di sekolah dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan pemahaman siswa.
Ketika anak diminta menjelaskan kembali apa yang mereka pelajari, kemampuan berpikir kritis mereka berkembang secara alami.
“Budaya yang menghargai belajar itu sangat penting. Anak perlu merasa bahwa belajar itu sesuatu yang keren dan dihargai,” ujar pembicara.
AI dan Masa Depan Pendidikan
Topik lain yang tak kalah menarik adalah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan.
Sejumlah guru dan dosen mulai khawatir teknologi AI akan menggantikan peran mereka.
Namun dalam diskusi tersebut ditegaskan bahwa AI tidak akan sepenuhnya menggantikan tenaga pengajar. Peran guru tetap penting, terutama dalam membangun inspirasi, karakter, serta pola pikir siswa.
AI dinilai hanya akan menggantikan metode belajar yang bersifat teknis atau pengulangan informasi.
Sebaliknya, kemampuan seperti inspirasi, pembentukan karakter, hingga pengembangan pola pikir kritis tetap membutuhkan peran manusia.
“Kalau dosennya hanya membaca PPT mungkin bisa tergantikan. Tapi guru yang menginspirasi tidak akan tergantikan,” kata salah satu narasumber.
Tantangan Menuju Indonesia 2045
Dalam penutup diskusi, para pembicara menekankan pentingnya inovasi dalam pendidikan untuk menghadapi target Indonesia Emas 2045.
Inovasi tersebut harus didukung oleh berbagai faktor mulai dari pendidikan yang relevan dengan industri, budaya belajar yang sehat, hingga ekosistem yang mendukung kreativitas generasi muda.
Selain itu, pemerintah juga diharapkan terus memperkuat investasi pendidikan melalui beasiswa dan pengembangan sumber daya manusia.
Dengan berbagai langkah tersebut, optimisme terhadap masa depan pendidikan Indonesia diharapkan dapat meningkat.
“Kalau kita ingin maju, kita harus menginsentifkan inovasi. Pendidikan harus mendorong anak muda untuk berpikir kritis dan berani mencoba hal baru,” pungkas pembicara.
Editor : Cholifatun Nisak