Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Studi Harvard: Pendidikan Indonesia Tertinggal 128 Tahun dari Negara Maju, Ini Penyebab dan Solusi yang Diungkap Peneliti

Cholifatun Nisak • Selasa, 10 Maret 2026 | 13:25 WIB

Studi Harvard menyebut pendidikan Indonesia tertinggal 128 tahun dari negara maju. Ini penyebab utama dan solusi yang diusulkan peneliti.
Studi Harvard menyebut pendidikan Indonesia tertinggal 128 tahun dari negara maju. Ini penyebab utama dan solusi yang diusulkan peneliti.

RADAR TULUNGAGUNG- Pendidikan Indonesia tertinggal 128 tahun dari negara maju. Pernyataan ini bukan sekadar opini, melainkan hasil penelitian akademik yang dilakukan ekonom pembangunan dari Harvard University.

Studi tersebut dilakukan oleh Lant Pritchett yang meneliti sistem pendidikan di berbagai negara berkembang. Temuannya cukup mengejutkan: masalah utama pendidikan bukan lagi soal akses sekolah, melainkan kualitas pembelajaran yang terjadi di dalam kelas.

Dalam risetnya, ia menyebut istilah “schooling is not learning”, yang berarti bersekolah tidak selalu berarti belajar secara efektif.

Menurut penelitian tersebut, anak-anak di Jakarta diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 128 tahun untuk mengejar kualitas pembelajaran agar setara dengan rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development.

Bukan Masalah Akses Sekolah

Selama dua dekade terakhir, Indonesia sebenarnya berhasil meningkatkan akses pendidikan. Angka partisipasi sekolah meningkat dan fasilitas pendidikan terus dibangun.

Namun studi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan sekolah belum otomatis meningkatkan kualitas kemampuan siswa.

Ukuran kualitas pendidikan global sering dilihat melalui hasil tes internasional seperti Programme for International Student Assessment yang menilai kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa usia 15 tahun.

Hasilnya menunjukkan kesenjangan yang cukup jauh antara Indonesia dan negara maju.

Skor literasi membaca siswa Indonesia tercatat sekitar 359, jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai sekitar 487. Dalam bidang matematika, skor Indonesia berada di kisaran 366, sedangkan sains sekitar 383.

Data tersebut menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil siswa Indonesia yang mencapai level kompetensi minimum untuk berfungsi secara optimal di masyarakat modern.

Sistem Pendidikan Dinilai Terlalu Administratif

Penelitian tersebut juga mengungkap akar masalah yang membuat kualitas pendidikan sulit berkembang.

Salah satu penyebab utamanya adalah sistem pendidikan yang terlalu administratif dan berorientasi pada kepatuhan.

Proses pembelajaran masih banyak menekankan hafalan dan penyelesaian silabus dibandingkan pemahaman konsep secara mendalam.

Guru sering kali didorong untuk mengejar target kurikulum, bukan memastikan bahwa siswa benar-benar memahami materi yang diajarkan.

Akibatnya, tidak sedikit siswa yang naik kelas meskipun kemampuan dasar seperti membaca atau berhitung belum dikuasai dengan baik.

Kualitas Guru Belum Merata

Faktor kedua yang disoroti adalah kualitas dan kesiapan guru yang belum merata.

Sebagian guru dinilai belum mendapatkan pelatihan pedagogi yang fokus pada kemampuan awal siswa. Banyak program pelatihan guru lebih bersifat sosialisasi kurikulum daripada penguatan metode mengajar.

Persoalan ini juga diperparah oleh kondisi kesejahteraan guru, terutama di sejumlah sekolah swasta.

Tidak sedikit sekolah yang memiliki fasilitas fisik yang baik namun memberikan gaji guru jauh di bawah standar layak. Kondisi tersebut membuat sulit bagi guru untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran.

Kurikulum Terlalu Tinggi dari Kemampuan Murid

Masalah lainnya adalah kurikulum yang sering berubah dan dianggap terlalu tinggi dibanding kemampuan awal siswa.

Akibatnya, banyak siswa tertinggal sejak awal proses belajar. Guru kemudian berusaha mengejar target kurikulum sehingga kesenjangan pemahaman semakin melebar.

Pendekatan seperti teaching at the right level yang menyesuaikan materi dengan kemampuan siswa sebenarnya terbukti efektif di berbagai negara berkembang, tetapi belum menjadi arus utama dalam sistem pendidikan nasional.

Budaya Kelas Juga Jadi Sorotan

Selain kebijakan pendidikan, budaya di ruang kelas juga dianggap menjadi faktor yang memengaruhi kualitas belajar.

Di sejumlah sekolah, siswa yang bertanya kritis justru sering dianggap melawan atau tidak sopan.

Hal ini membuat proses pendidikan lebih menyerupai latihan kepatuhan dibanding ruang untuk berpikir kritis.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi melahirkan lulusan yang pasif, takut salah, serta memiliki kemampuan analisis yang rendah.

Solusi: Fokus Literasi dan Reformasi Guru

Penelitian tersebut juga menawarkan beberapa solusi realistis untuk memperbaiki kualitas pendidikan.

Langkah pertama adalah memprioritaskan penguatan literasi membaca dan numerasi dasar di tingkat SD hingga SMP.

Pendekatan ini menekankan prinsip bahwa materi pelajaran sebaiknya lebih sedikit tetapi benar-benar dikuasai siswa.

Selain itu, reformasi guru juga perlu difokuskan pada pelatihan metode pengajaran yang menyesuaikan dengan kemampuan siswa.

Pemerintah juga didorong untuk memastikan kesejahteraan guru agar mereka dapat menjalankan peran pendidikan secara optimal.

Yang tidak kalah penting adalah perubahan budaya belajar di kelas, di mana pertanyaan kritis harus dihargai dan kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar.

Dengan langkah tersebut, para peneliti menilai ketertinggalan pendidikan Indonesia sebenarnya masih bisa diperbaiki jika kebijakan yang diambil berbasis bukti dan konsisten dalam jangka panjang.

 

Editor : Cholifatun Nisak
#skor pisa indonesia #reformasi pendidikan #lant pritchett #pendidikan indonesia #studi harvard