RADAR TULUNGAGUNG- Kasus ratusan siswa SMP yang tidak bisa membaca dan menulis di Kabupaten Buleleng, Bali, kembali memicu perdebatan tentang krisis literasi pendidikan Indonesia. Fenomena ini dianggap sebagai sinyal serius bahwa sistem pendidikan nasional masih menghadapi masalah mendasar pada kemampuan dasar siswa.
Isu tersebut mencuat setelah beredar laporan hasil tes literasi yang menemukan sejumlah siswa sekolah menengah pertama belum menguasai kemampuan membaca dan menulis. Kasus ini langsung ramai dibahas di media sosial dan memicu kekhawatiran publik terhadap kualitas pendidikan dasar di Indonesia.
Kondisi tersebut juga diperkuat dengan berbagai konten viral yang menunjukkan siswa SMA kesulitan menjawab soal matematika sederhana, seperti pembagian dan perkalian dasar. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar tentang efektivitas proses belajar di sekolah.
Masalah Literasi Dasar Sudah Lama Disorot
Persoalan krisis literasi pendidikan Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Berbagai studi internasional telah menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan numerasi siswa Indonesia masih tertinggal dibandingkan banyak negara lain.
Salah satu rujukan utama adalah tes internasional Programme for International Student Assessment yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa di berbagai negara.
Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca masyarakat berpendidikan tinggi di Indonesia bahkan masih berada di bawah kemampuan siswa sekolah menengah di beberapa negara Eropa.
Hal ini menunjukkan bahwa masalah literasi bukan sekadar persoalan individu, tetapi persoalan sistem pendidikan secara keseluruhan.
Bukan Salah Siswa, Tapi Sistem
Pengamat pendidikan menilai kondisi ini tidak bisa sepenuhnya menyalahkan siswa. Masalah utama justru berada pada sistem pendidikan yang belum mampu memastikan semua siswa menguasai kemampuan dasar.
Selama ini, sistem sekolah sering kali memungkinkan siswa naik kelas meskipun belum benar-benar menguasai literasi dan numerasi dasar.
Akibatnya, kesenjangan kemampuan terus menumpuk dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Siswa bisa saja diminta mempelajari materi yang lebih kompleks, padahal kemampuan dasar mereka belum terbentuk.
“Masalah di SMA sering kali merupakan akumulasi dari masalah yang tidak diselesaikan sejak SD,” ungkap seorang pengamat pendidikan dalam diskusi publik yang membahas isu tersebut.
Indonesia Dinilai Masih di Level Pendidikan Dasar
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa negara yang berhasil meningkatkan kualitas pendidikan biasanya menyesuaikan sistem pembelajaran dengan level perkembangan pendidikan mereka.
Penelitian yang sering dirujuk dalam kajian reformasi pendidikan dilakukan oleh konsultan global McKinsey & Company. Studi tersebut menganalisis negara-negara yang berhasil meningkatkan kualitas pendidikan secara signifikan dalam waktu relatif singkat, seperti Singapura dan Korea Selatan.
Dalam penelitian tersebut, sistem pendidikan dibagi menjadi lima tingkat perkembangan, yaitu poor, fair, good, great, dan excellent.
Berdasarkan berbagai indikator literasi dan numerasi dasar, Indonesia dinilai masih berada pada tahap awal atau level “poor”. Artinya, prioritas utama pendidikan nasional seharusnya fokus pada penguatan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung.
Jika negara pada tahap awal mencoba meniru sistem pendidikan negara yang sudah berada di level tinggi, hasilnya justru tidak efektif.
Peran Guru dan Teknologi Pendidikan
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, peran guru menjadi faktor paling krusial. Selain kesejahteraan, kompetensi guru dalam mengajar literasi dasar juga harus diperkuat.
Guru tidak hanya perlu memahami materi, tetapi juga memiliki kemampuan pedagogi untuk mengajarkan konsep dasar secara efektif kepada siswa dengan kemampuan yang beragam.
Selain itu, perkembangan teknologi pendidikan juga dinilai dapat membantu mempercepat peningkatan kualitas pembelajaran.
Platform pembelajaran daring seperti Zenius dan Ruangguru disebut sebagai contoh bagaimana teknologi dapat memperluas akses terhadap materi pembelajaran berkualitas.
Dengan dukungan internet dan perangkat digital, sumber belajar dari pengajar terbaik bisa diakses lebih luas oleh siswa di berbagai daerah.
Pentingnya Sistem Evaluasi Nasional
Selain peningkatan kualitas pengajar, para ahli juga menekankan pentingnya sistem evaluasi yang jelas untuk memastikan siswa benar-benar menguasai kompetensi dasar.
Salah satu caranya adalah melalui asesmen terstandar nasional yang berfungsi sebagai alat ukur perkembangan kemampuan siswa.
Evaluasi tersebut tidak hanya digunakan untuk menentukan kelulusan, tetapi juga untuk mengukur sejauh mana sekolah dan guru berhasil meningkatkan kemampuan siswa.
Sekolah yang mampu meningkatkan kemampuan literasi siswa secara signifikan dinilai layak mendapatkan dukungan dan insentif lebih besar.
Sebaliknya, sekolah yang tidak menunjukkan peningkatan perlu mendapatkan evaluasi dan pendampingan lebih lanjut.
Transparansi Pendidikan untuk Publik
Langkah lain yang dianggap penting adalah transparansi data pendidikan kepada publik.
Data mengenai capaian belajar siswa, penggunaan anggaran pendidikan, hingga hasil evaluasi sekolah sebaiknya dapat diakses secara terbuka.
Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui sejauh mana dana pendidikan yang mencapai sekitar 20 persen dari APBN benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas belajar siswa.
Para pengamat menilai, jika kemampuan literasi dasar tidak segera diperbaiki, berbagai program pendidikan lanjutan berpotensi gagal karena fondasi kemampuan siswa sudah lemah sejak awal.
Karena itu, penguatan literasi dan numerasi dasar dinilai sebagai langkah paling mendesak untuk memperbaiki masa depan pendidikan Indonesia.
Editor : Cholifatun Nisak