RADAR TULUNGAGUNG– Kisah hidup ilmuwan Indonesia Sastia Putri menjadi bukti bahwa label “bodoh” dalam sistem pendidikan tidak selalu mencerminkan potensi seseorang. Saat masih taman kanak-kanak (TK), ia bahkan pernah dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran dan direkomendasikan masuk sekolah khusus.
Namun siapa sangka, perempuan yang kini berkarier sebagai peneliti metabolomik di Jepang itu justru berhasil menorehkan lebih dari 100 publikasi ilmiah dan memimpin laboratorium riset sendiri.
Cerita tersebut menjadi sorotan dalam sebuah wawancara yang membahas perjalanan kariernya, sekaligus kritik terhadap sistem pendidikan yang dinilai terlalu seragam.
Dalam perbincangan tersebut, Sastia mengungkap bahwa dirinya pernah dilabeli anak yang tidak bisa fokus dan tidak mampu mengikuti cara belajar yang diajarkan di kelas.
“Saat TK saya sampai dibilang bodoh. Katanya saya tidak bisa fokus, tidak bisa mengikuti pelajaran, dan tidak bisa mengulang cara yang diajarkan guru,” ungkapnya.
Padahal, menurutnya, masalahnya bukan pada kecerdasan, melainkan metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan cara berpikirnya.
Sistem Pendidikan Dinilai Terlalu Homogen
Menurut Sastia, sistem pendidikan yang ia alami sejak kecil sangat homogen. Semua siswa dipaksa belajar dengan cara yang sama tanpa mempertimbangkan perbedaan karakter dan kemampuan individu.
Ia mengaku sering merasa frustrasi karena harus mengulang materi yang sebenarnya sudah ia pahami.
“Saya tidak cocok belajar di lingkungan pendidikan yang memaksa kita duduk dan mengulang sesuatu yang sebenarnya sudah kita tangkap,” katanya.
Metode belajar yang terlalu menekankan hafalan juga dinilai membuat proses belajar menjadi membosankan.
Baginya, memahami konsep jauh lebih penting dibandingkan sekadar menghafal rumus atau mengikuti langkah-langkah yang diajarkan guru.
“Belajar itu bukan menghafal, tapi memahami konsepnya. Kalau sudah paham konsep, kita bisa menemukan cara sendiri untuk menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Anak Gaul yang Berprestasi
Menariknya, semasa SMA Sastia dikenal sebagai siswa yang aktif dalam kegiatan non-akademik. Ia bahkan menjadi ketua ekstrakurikuler dance di sekolahnya dan cukup populer di lingkungan pergaulan.
Meski begitu, nilai akademiknya tetap tinggi.
Ia mengaku jarang belajar dengan cara konvensional seperti mengulang pelajaran di rumah.
“Bukan berarti saya tidak belajar. Saya belajar dengan cara berbeda. Saya cukup melihat sekali lalu menjelaskan ke orang lain. Dari situ langsung ‘ngunci’,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan memiliki IQ di atas 140 yang membuatnya cepat memahami konsep.
Namun Sastia menegaskan bahwa metode tersebut tidak bisa diterapkan kepada semua orang, karena setiap individu memiliki cara belajar yang berbeda.
Karier Ilmuwan di Jepang
Setelah menempuh pendidikan tinggi, Sastia akhirnya berkarier sebagai peneliti metabolomik di Jepang. Bidang ini mempelajari senyawa metabolit dalam makhluk hidup yang berperan dalam proses metabolisme.
Riset yang ia lakukan mencakup berbagai topik, mulai dari kopi, kakao, hingga pangan fermentasi tradisional Indonesia.
Salah satu penelitian yang membuat namanya dikenal luas adalah riset tentang autentikasi kopi luwak.
Penelitian tersebut bahkan membawanya meraih penghargaan internasional L’Oréal–UNESCO For Women in Science Award.
Saat ini, Sastia memiliki laboratorium riset sendiri di Jepang dan juga aktif membimbing mahasiswa dari Indonesia.
Peran Besar Keluarga
Sastia mengakui keberhasilannya tidak lepas dari dukungan orang tua.
Ayahnya sejak kecil selalu mendorongnya untuk memilih bidang yang memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Bapak saya selalu bilang, kamu boleh jadi apa saja, tapi pilih sesuatu yang paling bermanfaat untuk banyak orang,” katanya.
Pesan tersebut menjadi prinsip yang ia pegang hingga sekarang.
Ia percaya bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi warisan yang terus hidup bahkan setelah seseorang meninggal dunia.
Inspirasi untuk Generasi Muda
Pengalaman hidupnya membuat Sastia ingin membantu generasi muda menemukan potensi terbaik mereka.
Ia bahkan membangun komunitas belajar bernama Bright Squad yang terbuka bagi siapa saja yang ingin mengembangkan diri.
Anggotanya berasal dari berbagai usia, mulai dari anak muda hingga lansia.
“Yang penting adalah kita menemukan versi terbaik dari diri kita sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, setiap orang memiliki bakat yang berbeda dan membutuhkan lingkungan yang mendukung untuk berkembang.
Karena itu, ia berharap sistem pendidikan ke depan dapat lebih fleksibel dan mampu menghargai keragaman cara belajar siswa.
Editor : Cholifatun Nisak