RADAR TULUNGAGUNG - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini menjadi momentum refleksi mendalam bagi jajaran pendidikan di Tulungagung.
Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Negeri Tulungagung menegaskan bahwa pembentukan karakter generasi bangsa tidak bisa hanya dipikul di pundak guru, tetapi butuh sinergi kuat dari tiga elemen utama yakni sekolah, orang tua, dan lingkungan masyarakat.
Ketua MKKS SMP Negeri Tulungagung, Heni Hendarto, menyoroti pentingnya kembali ke akar pemikiran Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara.
Baca Juga: Disiplin hingga Kolaborasi Jadi Kunci, SMKN 3 Boyolangu Tulungagung Bangun Pendidikan Bermutu
Menurut dia, konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani sering kali terlupakan di era modern, padahal filosofi tersebut adalah kunci dalam menghadapi tantangan karakter siswa yang kian kompleks.
"Makna Hardiknas ini adalah evaluasi diri bagi kita semua. Keberhasilan pendidikan itu nyata jika ada kolaborasi. Guru di sekolah hanya membersamai siswa selama 8 jam, sedangkan 16 jam sisanya adalah tanggung jawab keluarga dan lingkungan bermain mereka," jelas Heni.
Heni menekankan bahwa sekolah memiliki keterbatasan dalam memantau perilaku siswa secara penuh selama 24 jam.
Dia meminta masyarakat dan orang tua untuk tidak sepenuhnya menyerahkan beban moral pembentukan karakter kepada pihak sekolah.
Baginya, setiap elemen memiliki porsi masing-masing dalam menjaga moralitas generasi muda, mulai dari pencegahan kenakalan remaja, narkoba, hingga etika di ruang publik.
"Jangan sampai kita hanya pandai menyalahkan satu sisi saat terjadi masalah pada anak. Guru bersama kepala sekolah punya kewajiban di sekolah, tapi orang tua adalah pendidik utama di rumah. Jika kolaborasi tiga elemen ini didukung penuh pemerintah, insya Allah anak-anak kita akan menjadi generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045," tambahnya.
Lebih lanjut, Heni mengungkapkan bahwa MKKS terus berupaya memberikan motivasi kepada para kepala sekolah dan tenaga pendidik untuk tetap menjadi teladan (role model) bagi siswa.
Introspeksi kolektif dianggap perlu untuk melihat sejauh mana lingkungan di Tulungagung memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang anak didik.
"Pendidikan bukan hanya soal akademik atau kepintaran, tapi soal karakter. Harapan saya, di momen Hardiknas ini, kita semua berhenti saling menyalahkan dan mulai bergerak bersama. Dunia pendidikan adalah tanggung jawab dunia akhirat bagi kita semua," pungkas Heni. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri