Radar Tulungagung – Persaingan masuk sekolah kedinasan 2026 diperkirakan kembali berlangsung sengit. Ribuan lulusan SMA dan sederajat diprediksi akan berebut kursi di berbagai sekolah kedinasan favorit seperti STAN, IPDN, STIS, STIN, hingga Poltekim dan Poltekip.
Karena itu, calon peserta wajib memahami tahapan seleksi sekolah kedinasan 2026 sejak awal. Sebab, seluruh proses seleksi menggunakan sistem gugur sehingga peserta yang gagal pada satu tahap otomatis tidak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya.
Seleksi sekolah kedinasan selama ini memang dikenal sangat kompetitif. Selain menawarkan pendidikan gratis, banyak sekolah kedinasan juga memberikan fasilitas asrama dan peluang besar menjadi aparatur sipil negara (ASN) setelah lulus.
Seleksi Administrasi Jadi Tahap Awal Penentu
Tahapan pertama dalam seleksi sekolah kedinasan adalah seleksi administrasi melalui portal SSCASN Kedinasan milik Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Pada tahap ini peserta diwajibkan mengunggah seluruh dokumen persyaratan sesuai ketentuan instansi tujuan. Dokumen yang diperiksa biasanya meliputi rapor, ijazah, usia, KTP, kartu keluarga, hingga dokumen tambahan lainnya.
Beberapa sekolah kedinasan juga memiliki syarat khusus seperti tinggi badan minimum maupun sertifikat kemampuan bahasa Inggris.
Karena itu, peserta diminta teliti saat mengunggah dokumen agar tidak gugur akibat kesalahan administrasi.
Bagi lulusan tahun 2026 yang ijazahnya belum terbit, umumnya diperbolehkan menggunakan surat keterangan lulus dari sekolah.
SKD Jadi Penyaring Terbesar
Peserta yang lolos administrasi akan melanjutkan ke Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT).
Tahapan ini menjadi penyaring terbesar dalam proses seleksi sekolah kedinasan 2026 karena seluruh peserta wajib mengikuti tes yang sama.
SKD terdiri dari tiga materi utama, yaitu Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP).
TWK menguji pemahaman peserta mengenai Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, serta bahasa Indonesia.
Sementara TIU berisi soal kemampuan verbal, numerik, logika, silogisme, analogi, hingga deret angka.
Adapun TKP lebih fokus pada penilaian karakter, integritas, profesionalisme, serta kemampuan mengambil keputusan dalam situasi tertentu.
Peserta Wajib Lolos Passing Grade dan Ranking
Dalam seleksi SKD, peserta tidak cukup hanya memperoleh nilai tinggi. Mereka juga wajib memenuhi passing grade atau ambang batas pada setiap subtes.
Selain itu, peserta akan diranking secara nasional berdasarkan jumlah kuota yang dibuka oleh masing-masing sekolah kedinasan.
Sebagai contoh, jika suatu instansi membuka 500 kuota, maka biasanya hanya sekitar tiga kali jumlah kuota yang akan lolos SKD atau sekitar 1.500 peserta dengan nilai tertinggi.
Peserta yang tidak memenuhi passing grade akan tetap dinyatakan gugur meskipun masuk dalam ranking nasional.
Karena itulah, persaingan nilai SKD dari tahun ke tahun terus meningkat dan semakin ketat.
Ada Tes Kesehatan hingga Kesamaptaan
Peserta yang berhasil lolos SKD akan mengikuti seleksi lanjutan yang berbeda di setiap sekolah kedinasan.
Tahapan tersebut biasanya meliputi tes kesehatan, psikotes, tes kesamaptaan, wawancara, hingga tes akademik tambahan.
Tes kesehatan mencakup pemeriksaan fisik luar dan dalam, tes darah, urin, hingga rontgen.
Sementara tes kesamaptaan terdiri dari Samapta A berupa lari selama 12 menit dan Samapta B seperti push up, sit up, pull up, shuttle run, serta chinning untuk peserta perempuan.
Tes wawancara dilakukan untuk melihat motivasi, mental, dan kesiapan peserta mengikuti pendidikan kedinasan.
Pantukhir Jadi Penentuan Kelulusan Akhir
Tahap terakhir dalam seleksi sekolah kedinasan adalah Pantukhir atau Pemantauan Akhir.
Pada tahap ini seluruh nilai peserta dari awal hingga akhir akan diakumulasikan sebelum dilakukan rapat penentuan kelulusan akhir sesuai jumlah kuota yang tersedia.
Menariknya, tidak semua kuota harus terisi penuh apabila peserta dianggap belum memenuhi standar instansi.
Setiap sekolah kedinasan juga memiliki karakter seleksi berbeda pada tahap Pantukhir. STIS misalnya lebih menekankan tes matematika, sedangkan STIN memiliki tes kesehatan jiwa dan potensi akademik tambahan.
Karena itu, peserta disarankan fokus mempersiapkan SKD sejak dini karena tahapan tersebut menjadi gerbang utama menuju seleksi lanjutan sekolah kedinasan 2026.
Editor : M. Helmi Nurhisam