RADAR TULUNGAGUNG - Ketekunan para ulama dalam menuntut ilmu kerap menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya. Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah perjalanan hidup Imam Nawawi, ulama besar yang dikenal melalui karya-karyanya yang masih dipelajari hingga saat ini.
Dalam sebuah ceramah, Ustaz Abdul Somad menyinggung kegigihan Imam Nawawi yang dinilai jauh melampaui kebanyakan manusia pada umumnya. Menurutnya, apa yang dilakukan umat Islam saat ini dalam belajar dan beribadah masih belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan para ulama terdahulu.
"Belum ada apa-apanya amal kita ini dibandingkan dengan Imam Nawawi," ujar Ustaz Abdul Somad.
Menghabiskan Waktu untuk Belajar dan Menulis
Imam Nawawi dikenal sebagai ulama yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Dalam kisah yang disampaikan Ustaz Abdul Somad, Imam Nawawi disebut lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca, mengkaji, dan menulis dibandingkan beristirahat.
Ketika rasa kantuk datang, beliau tidak langsung berbaring di tempat tidur. Imam Nawawi dikisahkan hanya menempelkan keningnya di atas buku hingga tertidur sejenak. Setelah terbangun, beliau kembali melanjutkan aktivitas belajar dan menulis.
Kebiasaan tersebut dilakukan secara terus-menerus demi memaksimalkan waktu yang dimiliki untuk memperdalam ilmu agama dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi umat.
Disebut Tak Menyentuh Kasur Selama Dua Tahun
Salah satu kisah yang paling sering dikutip mengenai ketekunan Imam Nawawi adalah kebiasaannya yang disebut tidak menempelkan punggung ke kasur selama dua tahun.
Menurut cerita yang disampaikan dalam ceramah tersebut, hampir seluruh waktunya digunakan untuk menuntut ilmu, menghafal, menelaah kitab, dan menulis. Waktu istirahat yang dimiliki benar-benar dibuat seminimal mungkin agar tidak mengurangi produktivitasnya dalam belajar.
Kisah ini menjadi gambaran tentang besarnya pengorbanan seorang ulama dalam mencari ilmu dan menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat.
Baca Juga: Gaji 13 Cair Pekan Ini, Ribuan PPPK Paruh Waktu di Tulungagung Juga Ikut Menerima
Keteladanan Ulama dalam Menuntut Ilmu
Selain Imam Nawawi, Ustaz Abdul Somad juga menyinggung ulama lain yang menunjukkan dedikasi tinggi terhadap ilmu pengetahuan, seperti Ahmad Al-Maraghi, penulis Tafsir Al-Maraghi.
Menurut kisah yang disampaikan, Al-Maraghi menyelesaikan karya tafsirnya dalam waktu sekitar 10 tahun. Meski harus mengurus keluarga, mengajar, dan berdakwah, ia tetap mampu membagi waktu untuk menyelesaikan salah satu karya tafsir yang hingga kini banyak digunakan di dunia Islam.
Melalui contoh-contoh tersebut, Ustaz Abdul Somad mengajak umat Islam untuk tidak mudah mengeluh ketika menghadapi kesulitan dalam belajar maupun beribadah. Rasa lelah dan kantuk yang dirasakan saat menuntut ilmu dinilai sangat kecil jika dibandingkan dengan perjuangan para ulama terdahulu.
Pesan untuk Generasi Muda
Kisah Imam Nawawi menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak lahir dari kenyamanan semata. Kesungguhan, disiplin, dan kemampuan memanfaatkan waktu menjadi faktor penting yang mengantarkan seseorang mencapai prestasi besar.
Ustaz Abdul Somad menegaskan bahwa kehidupan di dunia berlangsung sangat singkat. Karena itu, setiap waktu yang dimiliki sebaiknya digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat, baik dalam menuntut ilmu, beribadah, maupun memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
Perjuangan Imam Nawawi dalam mengisi hari-harinya dengan belajar dan menulis menjadi teladan bahwa ilmu pengetahuan membutuhkan pengorbanan. Dari ketekunan itulah lahir berbagai karya yang terus memberi manfaat bagi umat Islam hingga berabad-abad setelah wafatnya sang ulama.
Editor : Gita Dwi Nuraini