Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Disdik Tulungagung Sebut Jumlah Lulusan SD yang Berbeda Tiap Tahun Jadi Penyebab Kuota SMP Negeri Belum Terpenuhi

Sandy Sri Yuwana • Selasa, 30 Juni 2026 | 11:43 WIB
Dari total 48 SMP negeri, baru delapan sekolah yang berhasil memenuhi pagu penerimaan, sedangkan 40 sekolah lainnya masih memiliki kursi kosong.(DOK. RATU)
Dari total 48 SMP negeri, baru delapan sekolah yang berhasil memenuhi pagu penerimaan, sedangkan 40 sekolah lainnya masih memiliki kursi kosong.(DOK. RATU)

TULUNGAGUNG – Kuota SMP negeri belum terpenuhi di Tulungagung pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 tidak selalu dipengaruhi oleh faktor yang sama setiap tahun.

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Tulungagung menyebut perbedaan jumlah lulusan sekolah dasar (SD) menjadi salah satu penyebab utama masih banyaknya kursi kosong di sejumlah SMP negeri.

Penjelasan tersebut disampaikan di tengah dibukanya SPMB gelombang kedua yang berlangsung pada 1–4 Juli 2026. Tahapan lanjutan itu dikhususkan bagi SMP negeri yang hingga penutupan gelombang pertama masih belum memenuhi daya tampung peserta didik baru.

Menurut Disdik, jumlah lulusan SD yang berbeda setiap tahun berdampak langsung terhadap banyaknya calon peserta didik yang mendaftar ke jenjang SMP negeri. Karena itu, tingkat keterisian kuota di setiap sekolah juga tidak selalu sama dari tahun ke tahun.

Baca Juga: SPMB Gelombang Kedua Tulungagung Prioritaskan SMPN Satap Sendang lewat Jalur Domisili, Disdik Kejar Pengisian Kursi Kosong

Perbedaan Jumlah Lulusan SD Berpengaruh pada Penerimaan SMP

Panitia Pelaksana SPMB Disdik Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah, mengatakan kondisi penerimaan peserta didik baru selalu mengalami dinamika. Salah satunya dipengaruhi jumlah lulusan SD yang tidak tetap setiap tahunnya.

Menurut dia, perbedaan jumlah lulusan tersebut berimbas pada jumlah pendaftar yang mengikuti seleksi masuk SMP negeri.

"Setiap tahun kondisinya tidak selalu sama. Jumlah lulusan berbeda-beda sehingga sangat berpengaruh terhadap penerimaan peserta didik baru di SMP," ujarnya saat dikonfirmasi pada 29 Juni.

Karena itulah, Disdik tidak melihat kondisi masih banyaknya kursi kosong di sejumlah SMP negeri sebagai situasi yang selalu berulang dengan penyebab yang sama setiap tahun.

Sebagai langkah untuk mengoptimalkan daya tampung sekolah, Disdik kembali membuka SPMB gelombang kedua yang hanya diperuntukkan bagi SMP negeri dengan kuota yang belum terpenuhi.

"SPMB gelombang kedua diselenggarakan untuk sekolah-sekolah yang pagunya belum terpenuhi. Pendaftarannya mulai tanggal 1 Juli," kata Zuyun.

Baca Juga: Disdik Petakan Daya Tampung Sekolah Berdasarkan Ruang Kelas, Guru, dan Sarana untuk Pemerataan SPMB 2026 Tulungagung

Puluhan SMP Negeri Masih Menyisakan Kursi Kosong

Hingga berakhirnya pelaksanaan SPMB gelombang pertama, baru delapan dari total 48 SMP negeri di Kabupaten Tulungagung yang berhasil memenuhi kuota 100 persen.

Kedelapan sekolah tersebut yakni SMPN 1 Campurdarat, SMPN 1 Gondang, SMPN 1 Kauman, SMPN 1 Ngunut, SMPN 1 Sumbergempol, SMPN 1 Tulungagung, SMPN 2 Tulungagung, dan SMPN 3 Tulungagung.

Sementara itu, puluhan SMP negeri lainnya masih memiliki banyak kursi kosong. SMPN Satap Sendang menjadi sekolah dengan keterisian paling rendah karena baru memperoleh dua siswa dari pagu 32 peserta didik.

Selain itu, SMPN 2 Ngantru baru menerima tujuh siswa dari kuota 96 siswa, SMPN 2 Pucanglaban sembilan siswa dari pagu 64 siswa, SMPN 2 Kedungwaru sebanyak 48 siswa dari kuota 192 siswa, serta SMPN 2 Karangrejo baru terisi 65 siswa dari pagu 160 siswa.

Kemudian SMPN 1 Pucanglaban telah menerima 63 siswa dari kuota 128 siswa. SMPN 2 Besuki dan SMPN 2 Kalidawir masing-masing baru memperoleh 73 siswa dari pagu 160 siswa dan 128 siswa.

Baca Juga: SPMB Gelombang Kedua Tulungagung Dibuka 1–4 Juli, Prioritaskan Peserta yang Belum Lolos Tahap Pertama

Jalur Domisili Disiapkan untuk Mengisi Kuota yang Masih Kosong

Untuk meningkatkan keterisian kursi di sekolah-sekolah tersebut, Disdik akan memanfaatkan jalur domisili pada pelaksanaan SPMB gelombang kedua.

Sekolah yang jumlah siswanya masih sangat minim, seperti SMPN Satap Sendang, akan menjadi prioritas. Calon peserta didik yang belum mengikuti seleksi atau belum diterima pada gelombang pertama akan diarahkan mendaftar ke sekolah terdekat.

"Untuk sekolah-sekolah seperti di Sendang, nanti anak-anak di wilayah tersebut yang belum mendaftar pada gelombang pertama akan diarahkan ke sana melalui jalur domisili. Harapannya ada tambahan peserta didik sehingga pagunya bisa bertambah terisi," jelas Zuyun.

Skema yang sama juga akan diterapkan pada sekolah lain yang tingkat keterisian siswanya masih rendah, termasuk SMPN 2 Ngantru, SMPN 2 Rejotangan, dan sejumlah SMP negeri lainnya.

Di sisi lain, Disdik memastikan pelaksanaan SPMB 2026 secara umum berjalan lancar. Hingga memasuki tahapan daftar ulang, tidak ditemukan kendala berarti dalam proses penerimaan peserta didik baru.

"Alhamdulillah sejauh ini tidak ada kendala. Saat ini tinggal proses daftar ulang selama dua hari," katanya.

Sementara itu, penerimaan peserta didik baru jenjang SD tetap berlangsung sesuai jadwal dengan sistem pendaftaran offline. Berbeda dengan SMP, jenjang SD tidak membuka gelombang kedua.

Disdik menegaskan, pelaksanaan tahap lanjutan hanya berlaku bagi SMP yang kuotanya belum terpenuhi melalui jalur domisili agar kursi kosong dapat segera terisi.(sri)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#spmb gelombang kedua tulungagung #kuota smp negeri belum terpenuhi #spmb tulungagung 2026 #jumlah lulusan sd #disdik tulungagung