TULUNGAGUNG – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kabupaten Tulungagung menyisakan catatan penting.
Dari total 48 SMP negeri yang membuka penerimaan, hanya delapan sekolah yang mampu memenuhi kuota SPMB 2026. Sementara itu, sebanyak 40 sekolah lainnya masih menyisakan total 2.847 kursi kosong.
Data tersebut menjadi gambaran bahwa pemerataan peserta didik di SMP negeri Tulungagung masih menjadi tantangan.
Hasil SPMB 2026 menunjukkan minat calon peserta didik belum tersebar merata sehingga hanya sebagian sekolah yang mampu menutup seluruh pagu penerimaan.
Kondisi itu sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Pendidikan (Disdik) Tulungagung.
Selain memastikan proses penerimaan berjalan lancar, evaluasi terhadap distribusi siswa antarsekolah diperkirakan menjadi perhatian dalam pelaksanaan SPMB pada tahun berikutnya.
Delapan SMP Negeri Berhasil Memenuhi Kuota
Berdasarkan data sisa pagu SPMB, hanya delapan SMP negeri yang berhasil memenuhi seluruh kuota penerimaan.
Delapan sekolah tersebut adalah SMP Negeri 1 Campurdarat, SMP Negeri 1 Gondang, SMP Negeri 1 Kauman, SMP Negeri 1 Ngunut, SMP Negeri 1 Sumbergempol, SMP Negeri 1 Tulungagung, SMP Negeri 2 Tulungagung, dan SMP Negeri 3 Tulungagung.
Di sisi lain, mayoritas SMP negeri masih belum mampu memenuhi pagu yang telah ditetapkan. Total bangku kosong yang tersisa mencapai 2.847 kursi setelah seluruh tahapan SPMB 2026 berakhir.
Data tersebut menunjukkan adanya ketimpangan minat masyarakat terhadap sekolah negeri.
Sejumlah sekolah menjadi tujuan utama pendaftar, sedangkan sekolah lain masih kesulitan memperoleh jumlah peserta didik sesuai kuota yang tersedia.
Sejumlah Sekolah Masih Menyisakan Banyak Bangku Kosong
SMP Negeri 2 Ngunut tercatat sebagai sekolah dengan jumlah kursi kosong terbanyak, yakni 216 bangku.
Posisi berikutnya ditempati SMP Negeri 3 Ngunut yang masih memiliki 193 kursi kosong.
Selanjutnya terdapat SMP Negeri 3 Kedungwaru dengan sisa 170 kursi, SMP Negeri 2 Sumbergempol sebanyak 163 kursi, SMP Negeri 2 Kedungwaru dengan 144 kursi, serta SMP Negeri 1 Besuki yang masih menyisakan 139 bangku.
Meski demikian, terdapat pula sejumlah sekolah yang hampir memenuhi kuotanya.
SMP Negeri 1 Bandung hanya menyisakan empat kursi kosong, disusul SMP Negeri 6 Tulungagung yang masih memiliki lima kursi, SMP Negeri 1 Karangrejo dengan 10 kursi, serta SMP Negeri 1 Boyolangu yang menyisakan 16 bangku.
Perbedaan jumlah sisa kuota tersebut memperlihatkan bahwa distribusi calon peserta didik antarsekolah belum berlangsung seimbang.
Sebagian sekolah menjadi pilihan utama masyarakat, sementara sekolah lain masih memiliki banyak kursi yang belum terisi hingga akhir proses penerimaan.
DPRD Dorong Evaluasi Pemerataan Kualitas Sekolah
Anggota Komisi A DPRD Tulungagung, Sukanto, menilai kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari semakin ketatnya persaingan antara sekolah negeri dan sekolah swasta.
Menurutnya, banyak sekolah swasta kini menawarkan berbagai program unggulan yang menjadi pertimbangan orang tua dalam memilih sekolah bagi anak-anaknya.
Selain itu, kemampuan ekonomi masyarakat yang semakin baik membuat sebagian orang tua tidak lagi hanya berorientasi pada sekolah negeri.
"Swasta sekarang menawarkan program-program tambahan yang dinilai menarik. Kemampuan ekonomi masyarakat juga semakin baik sehingga banyak orang tua tidak lagi hanya berorientasi pada sekolah negeri," ujarnya.
Sukanto juga menilai persepsi masyarakat mengenai sekolah favorit masih cukup kuat.
Padahal, sistem penerimaan peserta didik dirancang untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan di seluruh sekolah negeri.
"Secara konsep tidak boleh ada sekolah yang dianggap favorit. Tetapi faktanya masyarakat tetap memilih sekolah-sekolah tertentu sehingga terjadi ketimpangan jumlah siswa," katanya.
Karena itu, dia mendorong Disdik Tulungagung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah-sekolah yang belum mampu memenuhi pagu penerimaan.
Menurutnya, peningkatan kualitas layanan, fasilitas, maupun program unggulan perlu dilakukan agar daya saing seluruh SMP negeri semakin merata.
"Ke depan, kualitas seluruh SMP negeri harus terus ditingkatkan. Jangan sampai hanya sekolah-sekolah tertentu yang menjadi tujuan utama, sementara sekolah lain terus kekurangan siswa. Pemerataan kualitas itu yang harus diwujudkan," tegasnya.
Data hasil SPMB 2026 tersebut menjadi gambaran bahwa pemerataan peserta didik di Tulungagung masih menjadi tantangan.
Meski proses penerimaan berlangsung lancar, masih banyak sekolah yang belum memenuhi kuota sehingga evaluasi terhadap distribusi siswa diperkirakan menjadi salah satu fokus pada pelaksanaan SPMB tahun mendatang.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri