TULUNGAGUNG – Daya tarik sekolah swasta dinilai menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyak SMP negeri di Kabupaten Tulungagung belum mampu memenuhi kuota penerimaan pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Penilaian tersebut disampaikan Anggota Komisi A DPRD Tulungagung, Sukanto, menyusul masih banyaknya kursi kosong di sekolah negeri setelah seluruh tahapan penerimaan berakhir.
Menurut Sukanto, meningkatnya daya tarik sekolah swasta membuat pilihan masyarakat dalam menentukan sekolah bagi anak semakin beragam.
Orang tua kini tidak lagi hanya berorientasi pada sekolah negeri karena sekolah swasta dinilai mampu menawarkan nilai tambah yang menjadi pertimbangan dalam memilih lembaga pendidikan.
Fenomena daya tarik sekolah swasta tersebut terlihat dari hasil pelaksanaan SPMB 2026. Dari 48 SMP negeri di Tulungagung, hanya delapan sekolah yang berhasil memenuhi kuota penerimaan, sedangkan 40 sekolah lainnya masih menyisakan total 2.847 kursi kosong.
Program Unggulan Sekolah Swasta Jadi Pertimbangan Orang Tua
Sukanto menilai persaingan antara sekolah negeri dan sekolah swasta kini semakin ketat.
Salah satu penyebabnya adalah banyak sekolah swasta yang menghadirkan berbagai program unggulan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Selain itu, kemampuan ekonomi masyarakat yang dinilai semakin baik juga memengaruhi pilihan orang tua dalam menentukan sekolah.
Kondisi tersebut membuat sekolah negeri tidak lagi menjadi satu-satunya tujuan utama bagi sebagian keluarga.
"Swasta sekarang menawarkan program-program tambahan yang dinilai menarik. Kemampuan ekonomi masyarakat juga semakin baik sehingga banyak orang tua tidak lagi hanya berorientasi pada sekolah negeri," ujarnya.
Menurut dia, perubahan pola pilihan masyarakat menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi distribusi peserta didik di sekolah negeri.
Dampaknya, masih banyak sekolah negeri yang belum mampu memenuhi pagu penerimaan meski proses SPMB telah selesai dilaksanakan.
Baca Juga: Hanya 8 SMP Negeri di Tulungagung Penuhi Kuota SPMB 2026, Sebanyak 2.847 Kursi Masih Kosong
Ketimpangan Minat Antarsekolah Masih Terjadi
Data sisa pagu SPMB menunjukkan ketimpangan minat calon peserta didik antarsekolah negeri masih cukup lebar.
Sejumlah sekolah menjadi tujuan utama pendaftar, sedangkan sekolah lainnya masih mengalami kekurangan siswa.
SMP Negeri 2 Ngunut tercatat memiliki sisa kursi terbanyak, yakni 216 bangku. Disusul SMP Negeri 3 Ngunut dengan 193 kursi kosong, SMP Negeri 3 Kedungwaru sebanyak 170 kursi, SMP Negeri 2 Sumbergempol dengan 163 kursi, SMP Negeri 2 Kedungwaru sebanyak 144 kursi, serta SMP Negeri 1 Besuki yang masih menyisakan 139 bangku.
Sebaliknya, terdapat delapan sekolah yang berhasil memenuhi seluruh kuota penerimaan.
Sekolah tersebut adalah SMP Negeri 1 Campurdarat, SMP Negeri 1 Gondang, SMP Negeri 1 Kauman, SMP Negeri 1 Ngunut, SMP Negeri 1 Sumbergempol, SMP Negeri 1 Tulungagung, SMP Negeri 2 Tulungagung, dan SMP Negeri 3 Tulungagung.
Beberapa sekolah lainnya hanya menyisakan sedikit kuota. SMP Negeri 1 Bandung masih memiliki empat kursi kosong, SMP Negeri 6 Tulungagung lima kursi, SMP Negeri 1 Karangrejo 10 kursi, serta SMP Negeri 1 Boyolangu dengan sisa 16 bangku.
DPRD Dorong Evaluasi dan Pemerataan Kualitas Sekolah
Selain meningkatnya persaingan dengan sekolah swasta, Sukanto juga menilai persepsi masyarakat mengenai sekolah favorit masih cukup kuat. Padahal, sistem penerimaan peserta didik dirancang untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan.
"Secara konsep tidak boleh ada sekolah yang dianggap favorit. Tetapi faktanya masyarakat tetap memilih sekolah-sekolah tertentu sehingga terjadi ketimpangan jumlah siswa," katanya.
Karena itu, Sukanto mendorong Dinas Pendidikan Tulungagung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah-sekolah yang belum mampu memenuhi pagu penerimaan.
Evaluasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya saing seluruh SMP negeri.
Menurutnya, peningkatan kualitas layanan, fasilitas, maupun program unggulan perlu terus dilakukan agar kualitas sekolah negeri semakin merata dan tidak hanya terkonsentrasi pada sekolah-sekolah tertentu.
"Ke depan, kualitas seluruh SMP negeri harus terus ditingkatkan. Jangan sampai hanya sekolah-sekolah tertentu yang menjadi tujuan utama, sementara sekolah lain terus kekurangan siswa. Pemerataan kualitas itu yang harus diwujudkan," tegasnya.
Data pelaksanaan SPMB 2026 menjadi gambaran bahwa pemerataan peserta didik di Tulungagung masih menjadi tantangan.
Meskipun proses penerimaan berlangsung lancar, distribusi siswa antarsekolah negeri belum sepenuhnya seimbang dan diperkirakan menjadi salah satu fokus evaluasi pada pelaksanaan SPMB tahun mendatang.(*)
Editor : Vidya Sajar Fitri