Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pendidikan Karakter Generasi Muda Dinilai Kian Tergerus, Pakar Ungkap 3 Fondasi Penting Cegah Dekadensi Moral

Gita Dwi Nuraini • Selasa, 7 Juli 2026 | 16:06 WIB
Pendidikan karakter generasi muda dinilai semakin tergerus. Pakar mengungkap tiga fondasi utama membangun karakter dan pentingnya peran keluarga serta sekolah.(Gemini AI)
Pendidikan karakter generasi muda dinilai semakin tergerus. Pakar mengungkap tiga fondasi utama membangun karakter dan pentingnya peran keluarga serta sekolah.(Gemini AI)

 

TULUNGAGUNG, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COMPendidikan karakter generasi muda kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap menurunnya moral dan perilaku generasi muda di Indonesia. Dalam sebuah diskusi yang disiarkan melalui kanal Masumi TV dan Matra 64, pakar pembentukan karakter Legisan Santasfir menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kompetensi, tetapi juga oleh karakter yang kuat.

Menurut Legisan, pendidikan karakter generasi muda selama ini belum mendapat perhatian yang seimbang dibandingkan pencapaian akademik. Banyak lembaga pendidikan masih berfokus pada nilai, prestasi, hingga akreditasi sekolah, sementara pembentukan kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin justru mulai terabaikan.

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memicu dekadensi moral. Sebab, seseorang yang memiliki kemampuan tinggi belum tentu mampu menghasilkan kinerja terbaik apabila tidak dibarengi dengan karakter yang baik.

Baca Juga: Bantuan Pemerintah Cair Juli 2026, PKH, BPNT hingga Beras 10 Kg Mulai Disalurkan, Ini Daftar Penerimanya

Kompetensi Saja Tidak Cukup

Legisan menjelaskan bahwa produktivitas seseorang dibangun oleh dua unsur utama, yakni kompetensi dan karakter. Kompetensi berkaitan dengan kemampuan teknis atau keterampilan, sedangkan karakter menjadi alasan yang mendorong seseorang bekerja secara sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.

"Orang bisa sangat ahli dalam bidangnya, tetapi jika tidak memiliki karakter seperti disiplin, jujur, dan bertanggung jawab, maka kompetensinya tidak akan menghasilkan performa yang maksimal," ujarnya.

Ia menambahkan, dunia pendidikan saat ini cenderung lebih banyak mengembangkan aspek keterampilan dibandingkan pembentukan karakter peserta didik. Akibatnya, banyak siswa mengejar nilai tinggi tanpa memahami pentingnya integritas dalam proses belajar.

Baca Juga: Update Kesejahteraan Guru Jadi Sorotan, Pakar Ingatkan Gaji dan Sarana Pendidikan Tak Boleh Diabaikan

Tiga Lapisan Pembentukan Karakter

Dalam pemaparannya, Legisan mengibaratkan karakter seperti sebuah pohon yang memiliki tiga lapisan utama.

Lapisan pertama adalah perilaku atau attitude yang tampak dalam kehidupan sehari-hari, seperti disiplin, ramah, suka menolong, bertanggung jawab, dan bekerja keras.

Lapisan kedua merupakan prinsip hidup. Prinsip inilah yang menjadi pedoman seseorang dalam bertindak, misalnya keyakinan untuk selalu jujur, tidak merugikan orang lain, serta memiliki rasa malu ketika melakukan kesalahan.

Sementara lapisan paling mendasar adalah belief system atau sistem keyakinan. Menurut Legisan, fondasi ini menentukan lahirnya prinsip hidup yang benar. Ketika keyakinan seseorang kuat, maka prinsip dan perilakunya akan terbentuk secara konsisten.

"Keyakinan yang baik akan melahirkan prinsip yang baik, prinsip yang baik akan melahirkan sikap yang baik, kemudian dipadukan dengan kompetensi sehingga menghasilkan performa terbaik," jelasnya.

Baca Juga: Kendala Pencairan Tunjangan Guru 2026 Terungkap, Dindik Jatim Ungkap Penyebab Tambahan TPG Belum Cair

Pendidikan Karakter Perlu Didukung Penegakan Aturan

Legisan menilai pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui penyampaian teori di ruang kelas. Sekolah juga harus menerapkan aturan yang tegas agar nilai-nilai karakter benar-benar dipraktikkan.

Ia mencontohkan larangan menyontek saat ujian atau plagiarisme dalam penyusunan tugas. Menurutnya, aturan tersebut harus disertai pengawasan dan konsekuensi yang jelas agar peserta didik terbiasa berperilaku jujur.

"Kalau hanya diajarkan mana yang benar dan salah tanpa ada penegakan aturan, maka karakter sulit terbentuk," katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama bukan sekadar memberi hukuman, melainkan membangun kesadaran sehingga seseorang tetap berbuat benar meskipun tidak diawasi.

Materialisme Dinilai Menggeser Nilai Karakter

Dalam diskusi tersebut, Legisan juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang lebih menghargai simbol-simbol kesuksesan dibandingkan integritas seseorang.

Menurutnya, ukuran keberhasilan sering kali dinilai dari jabatan, rumah mewah, kendaraan, atau atribut lain yang melekat pada seseorang. Padahal, karakter seperti kejujuran, integritas, dan kepedulian justru menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang sehat.

Ia mengingatkan bahwa penghargaan terhadap simbol material tanpa memperhatikan proses pencapaiannya dapat memicu praktik yang bertentangan dengan nilai moral.

Orang Tua Berperan Besar Membentuk Karakter Anak

Selain sekolah, keluarga dinilai memiliki peran penting dalam membangun karakter generasi muda sejak dini. Legisan mengajak para orang tua untuk tidak membiasakan pola asuh yang terlalu memanjakan anak.

Menurutnya, anak perlu dibiasakan hidup disiplin, bertanggung jawab, dan memahami bahwa kesuksesan tidak diperoleh secara instan.

Ia juga mengutip pandangan budayawan Cak Nun yang membedakan antara sikap keras dan kejam dalam mendidik anak. Orang tua, katanya, boleh bersikap tegas dalam menegakkan aturan, tetapi tidak boleh menyakiti anak secara fisik maupun psikis.

Dengan kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial, Legisan optimistis pendidikan karakter generasi muda dapat kembali diperkuat sehingga mampu melahirkan generasi yang berintegritas, berdaya saing, dan memiliki moral yang kokoh.

Editor : Gita Dwi Nuraini
#pembentukan karakter #Pendidikan Karakter Generasi Muda #Dekadensi Moral #Legisan Santasfir #pendidikan indonesia