TULUNGAGUNG, RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Mental health mahasiswa menjadi perhatian serius Universitas Brawijaya (UB). Melalui Direktorat Kemahasiswaan, kampus tersebut meluncurkan program penguatan kesehatan mental sebagai langkah strategis untuk meningkatkan resiliensi mahasiswa sekaligus mencegah berbagai persoalan psikologis yang dapat mengganggu proses perkuliahan.
Program mental health mahasiswa ini hadir sebagai respons atas meningkatnya kompleksitas tantangan yang dihadapi mahasiswa, mulai dari tekanan akademik, persoalan keluarga, hubungan sosial, kondisi ekonomi, hingga perundungan. Universitas Brawijaya menilai kesehatan mental merupakan fondasi penting agar mahasiswa mampu berkembang secara akademik maupun personal.
Penguatan mental health mahasiswa diwujudkan melalui dua program utama, yakni Kampus Sehat Mental yang berfokus pada edukasi dan pencegahan, serta program intervensi dan pendampingan bagi mahasiswa yang membutuhkan layanan psikologis.
Baca Juga: 6 Penyebab Bantuan Sosial Ditolak pada 2026, Pemilik KK dan KTP Wajib Cek Sebelum Bansos Dicoret
Kampus Sehat Mental Perkuat Resiliensi Mahasiswa
Koordinator program menjelaskan, Kampus Sehat Mental dirancang untuk memberikan psikoedukasi kepada seluruh sivitas akademika. Materi yang diberikan meliputi resiliensi, manajemen stres, kemampuan beradaptasi di lingkungan kampus, hingga pengenalan karakteristik mahasiswa.
Tak hanya mahasiswa, dosen penasihat akademik (PA) juga akan mendapatkan pelatihan agar mampu memahami kondisi psikologis mahasiswa sekaligus memberikan pendampingan yang tepat. Orang tua pun dilibatkan melalui program edukasi pola asuh guna mendukung kesehatan mental anak selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi.
Selain itu, Universitas Brawijaya membentuk agen perubahan yang berasal dari berbagai organisasi mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), komunitas kerohanian, Dharma Wanita Persatuan UB, ULT KSP di masing-masing fakultas, hingga berbagai komunitas lain di lingkungan kampus.
Keberadaan agen perubahan tersebut diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menyebarkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan mental sekaligus menciptakan lingkungan kampus yang lebih suportif.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Belum Cair? Kemensos Beri Kabar Baik untuk KPM Gagal Cek Rekening
Pelatihan Konselor hingga Skrining Kesehatan Mental
Selain edukasi, Universitas Brawijaya juga memperkuat layanan pendampingan melalui pelatihan bagi konselor di tingkat universitas maupun fakultas. Pelatihan tersebut diwajibkan agar setiap fakultas memiliki sumber daya yang mampu memberikan bantuan awal kepada mahasiswa yang mengalami permasalahan psikologis.
Seluruh dosen juga akan mengikuti pelatihan bimbingan dan konseling sehingga memiliki kemampuan dasar dalam mengenali gejala gangguan kesehatan mental pada mahasiswa.
Program ini turut diperkuat dengan aktivasi relawan mahasiswa, pelaksanaan skrining kesehatan mental secara berkala, serta sosialisasi kepada mahasiswa dan orang tua. Skrining tidak hanya dilakukan kepada mahasiswa, tetapi juga mempertimbangkan latar belakang keluarga dan pola komunikasi dalam mendukung kondisi psikologis mahasiswa.
Baca Juga: Bansos Juli 2026 Cair Bersamaan, Pemilik KKS Berpeluang Dapat 3 Bantuan Sekaligus
Cegah Mahasiswa Mengalami Krisis Mental
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Brawijaya menegaskan bahwa penguatan mental health merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Menurutnya, mahasiswa menghadapi berbagai tekanan yang berpotensi mengganggu stabilitas mental apabila tidak ditangani sejak dini.
Permasalahan tersebut dapat berasal dari faktor keluarga, akademik, ekonomi, hubungan pertemanan, hingga kasus perundungan. Jika tidak mendapatkan pendampingan yang memadai, kondisi tersebut berisiko membuat mahasiswa kehilangan motivasi belajar, menghentikan studi, bahkan melakukan tindakan ekstrem.
Karena itu, Universitas Brawijaya telah memiliki berbagai layanan pendukung seperti Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan (ULT KSP), layanan e-konseling, Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS), serta berbagai komunitas pendamping mahasiswa.
Seluruh program tersebut diintegrasikan untuk membangun sistem pendampingan yang komprehensif sehingga mahasiswa memiliki ruang aman untuk berkonsultasi ketika menghadapi persoalan psikologis.
Melalui penguatan mental health yang berkelanjutan, Universitas Brawijaya berharap mahasiswa mampu mengenali potensi diri, mengelola emosi dengan baik, serta membangun ketahanan mental dalam menghadapi berbagai tantangan selama menempuh pendidikan. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kampus yang sehat, inklusif, dan mendukung keberhasilan mahasiswa, baik dalam bidang akademik maupun kehidupan sosial.
Editor : Gita Dwi Nuraini