RADAR TULUNGAGUNG – Di balik kondisi SDN 4 Besuki di Kecamatan Besuki, Tulungagung yang tahun ajaran 2026/2027 tidak memperoleh murid baru, tersimpan perjalanan panjang sebuah sekolah yang selama puluhan tahun menjadi tempat menimba ilmu bagi anak-anak di Dukuh Comanuk, Dusun/Desa/Kecamatan Besuki, Tulungagung.
Sekolah tersebut berdiri pada 7 Juni 1988. Artinya, tahun ini usianya telah menginjak 38 tahun. Pada awal berdirinya, sekolah itu masih berstatus Sekolah Dasar Pembantu (SDP) dengan nama SD Kecil Comanuk.
Baca Juga: SDN 4 Besuki di Tulungagung Nihil Murid Baru Tahun Ini, Total Siswa Tinggal Delapan untuk Enam Kelas
Kehadirannya saat itu ditujukan untuk mendekatkan akses pendidikan dasar bagi warga yang tinggal di kawasan tersebut.
SDN 4 Besuki menempati lahan seluas 820 meter persegi. Lokasinya berada di Dusun Comanuk dan kini tidak jauh dari jalur Jalur Lintas Selatan (JLS) Tulungagung–Trenggalek, yang menjadi salah satu akses utama di kawasan selatan Kabupaten Tulungagung.
Guru SDN 4 Besuki, Edy Sutrisno, menuturkan bahwa sejak awal berdiri sekolah itu memang melayani lingkungan yang relatif kecil.
Baca Juga: SPMB Belum Merata, SMP Pinggiran Tulungagung Berharap Penataan Pagu Dievaluasi
Wilayah layanan sekolah hanya mencakup dua rukun tetangga (RT) di sekitar Dusun Comanuk sehingga jumlah calon peserta didik setiap tahun tidak pernah banyak.
"Awalnya sekolah ini berdiri sebagai SD Pembantu dengan nama SD Kecil Comanuk. Tujuannya agar anak-anak di sekitar sini bisa lebih mudah mengakses pendidikan dasar," ujarnya.
Baca Juga: SPMB Tulungagung 2026 Berakhir, 40 SMP Negeri Masih Kekurangan Siswa
Seiring berjalannya waktu, status sekolah berubah menjadi SD Negeri 4 Besuki. Dalam perjalanannya, bangunan sekolah juga beberapa kali mendapat perhatian pemerintah melalui program rehabilitasi.
Edy menjelaskan, rehabilitasi pertama dilakukan pada 2009 untuk memperbaiki kondisi bangunan yang mulai mengalami kerusakan akibat usia.
Selanjutnya, rehabilitasi kembali dilaksanakan pada 2018 guna meningkatkan kelayakan sarana pembelajaran sehingga aktivitas belajar mengajar dapat berlangsung lebih nyaman.
Meski telah dua kali direhabilitasi, keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan.
Jumlah ruang belajar yang tersedia belum mencukupi sehingga setiap bangunan kelas harus dibagi menjadi dua ruang untuk melayani enam jenjang kelas.
Menurut Edy, kondisi tersebut masih bertahan hingga sekarang. Selain keterbatasan ruang, jumlah peserta didik juga terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Pada tahun ajaran 2026/2027, SDN 4 Besuki bahkan tidak memperoleh satu pun murid baru. Padahal, pada tahun sebelumnya sekolah itu masih menerima dua siswa baru.
Saat ini, total peserta didik yang belajar dari kelas I hingga kelas VI hanya delapan siswa.
Ironisnya, jumlah tenaga pendidik dan kependidikan justru mencapai sembilan orang, termasuk seorang penjaga sekolah.
Baca Juga: Cuma Dapat Satu Murid Baru, SDN 2 Sembon Tulungagung Tetap Gelar Belajar Normal
Meski demikian, proses belajar mengajar tetap berlangsung seperti biasa, termasuk pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Edy mengatakan, berkurangnya jumlah siswa juga dipengaruhi perubahan pilihan masyarakat. Dahulu, anak-anak dari Dusun Klatak, Desa Keboireng, masih banyak yang bersekolah di SDN 4 Besuki.
Namun kini sebagian besar memilih bersekolah di wilayah Besuki yang berada di bawah karena dinilai lebih mudah dijangkau.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, para guru tetap berkomitmen mempertahankan layanan pendidikan di sekolah tersebut.
Bagi mereka, SDN 4 Besuki bukan sekadar bangunan sekolah, melainkan bagian dari sejarah pendidikan di Dusun Comanuk yang telah mengabdi selama hampir empat dekade. ****
Editor : Dharaka R. PerdanaSumber : Radar Tulungagung