RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dinilai masih sering disalahpahami dalam praktik pendidikan di Indonesia. Seorang pakar pendidikan menyebut RPP bukan sekadar dokumen administrasi untuk memenuhi permintaan kepala sekolah atau pengawas, melainkan rancangan penting agar guru mampu mengarahkan proses belajar sesuai kompetensi yang ingin dicapai siswa.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada ada atau tidaknya dokumen RPP, tetapi pada bagaimana guru memahami tujuan pembelajaran sebelum masuk kelas.
Guru harus mengetahui apa yang ingin dicapai dalam satu kali pertemuan, aktivitas apa yang dilakukan siswa, serta alasan setiap kegiatan tersebut diberikan.
Ia menegaskan, perencanaan pembelajaran tidak harus dibuat rumit. Yang dibutuhkan adalah rencana yang realistis dan benar-benar digunakan sebagai pedoman mengajar.
RPP Bukan Sekadar Laporan untuk Pengawas
Persepsi bahwa RPP hanya menjadi kewajiban administratif disebut muncul karena sebagian pihak lebih menekankan bentuk dokumen dibandingkan fungsi pembelajaran.
Padahal, inti RPP adalah membantu guru memastikan proses belajar berjalan terarah.
Menurutnya, kepala sekolah maupun pengawas seharusnya tidak hanya melihat kelengkapan format RPP. Hal yang lebih penting adalah memastikan guru memahami tujuan dari setiap aktivitas yang dilakukan di kelas.
Pertanyaan utama bagi guru bukan sekadar apakah RPP sudah dibuat, tetapi apakah mereka mengetahui apa yang sedang dilakukan dan kompetensi apa yang ingin dibangun pada siswa.
Pembelajaran Dinilai Terlalu Berorientasi Materi
Ia menilai salah satu masalah pendidikan saat ini adalah kebiasaan mengukur keberhasilan belajar dari jumlah materi yang selesai diberikan.
Akibatnya, pembelajaran sering berubah menjadi proses mengejar target penyampaian materi.
Siswa kemudian lebih banyak menerima informasi, menghafal konsep, mengerjakan latihan soal, lalu mengikuti ujian.
Menurutnya, pola tersebut belum cukup untuk membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata.
Kurikulum, kata dia, sebenarnya tidak hanya berisi pengetahuan, tetapi juga mencakup keterampilan dan sikap.
Kualitas Pembelajaran Berhubungan dengan Tantangan Dunia Kerja
Dalam diskusi tersebut, ia mengaitkan kualitas proses belajar dengan tantangan yang dihadapi lulusan saat memasuki dunia kerja.
Ia menyebut kondisi ketenagakerjaan saat ini semakin kompetitif karena jumlah lulusan terus bertambah, sementara lapangan kerja formal terbatas.
Berdasarkan data yang disebut dalam diskusi, terdapat sekitar 1,7 juta fresh graduate pada Februari 2024 yang bersaing mendapatkan sekitar 400 ribu pekerjaan formal.
Selain itu, disebutkan sekitar 10 juta Generasi Z Indonesia berada dalam kondisi tidak sekolah dan tidak bekerja.
Menurutnya, situasi tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan perlu lebih serius membangun kemampuan yang benar-benar dibutuhkan peserta didik.
Guru Perlu Mengenal Kebutuhan Industri
Ia mengusulkan agar pelatihan guru tidak hanya berlangsung di lingkungan pendidikan.
Guru juga perlu mendapat kesempatan memahami dunia industri secara langsung.
Dengan begitu, pendidik dapat mengetahui kompetensi, karakter, dan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.
Menurutnya, hubungan antara sekolah dan dunia industri perlu diperkuat agar proses pembelajaran tidak berjalan terpisah dari realitas kehidupan setelah siswa lulus.
Guru juga dapat lebih mudah memberikan gambaran masa depan kepada siswa mengenai hubungan antara pembelajaran di sekolah dan pilihan karier.
Pembelajaran Menyenangkan Tidak Berarti Sekadar Hiburan
Ia juga menyoroti kesalahpahaman mengenai konsep pembelajaran menyenangkan dalam pembelajaran mendalam.
Menurutnya, pembelajaran menyenangkan bukan berarti kelas harus selalu diisi dengan aktivitas hiburan seperti tepuk tangan, permainan, atau gerakan tertentu.
Suasana menyenangkan muncul ketika siswa merasa tertarik, terlibat, dan memahami manfaat dari aktivitas yang mereka lakukan.
Aktivitas belajar harus membuat siswa menggunakan pikiran dan perasaan secara bersamaan.
Contohnya, sebuah tugas kreatif tetap harus memiliki tujuan kompetensi yang jelas. Aktivitas menarik tidak cukup jika tidak membantu siswa memahami materi atau membangun keterampilan tertentu.
Perencanaan Pembelajaran Harus Menjadi Budaya Guru
Menurutnya, RPP seharusnya menjadi bagian dari budaya profesional seorang guru.
Perencanaan tersebut bukan dibuat karena takut diperiksa, tetapi karena guru memiliki tanggung jawab memastikan setiap menit pembelajaran memberikan dampak bagi siswa.
Baca Juga: Gelar Workshop Penyusunan Soal dan RPP Berbasis HOTS
Ia mencontohkan, dalam praktik pendidikan di sebuah sekolah di Filipina, guru membuat rencana pembelajaran sederhana yang dapat dibaca oleh guru lain ketika diperlukan.
Rencana tersebut bukan dokumen panjang, melainkan gambaran tujuan, aktivitas, dan perkembangan pembelajaran siswa.
Dengan cara tersebut, guru dapat melakukan evaluasi terhadap praktik mengajarnya sendiri.
Menurutnya, pendidikan membutuhkan perubahan cara pandang. Sekolah tidak boleh hanya mengejar penyelesaian materi, tetapi harus memastikan setiap siswa tumbuh sesuai kompetensi yang dibutuhkan untuk masa depannya.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : JURUSANKU, You Tube, DIOLAH