TULUNGAGUNG - Meneladani Rasulullah SAW bukan sekadar mengenang kelahiran beliau. Di dalamnya ada ikhtiar untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menghadirkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat itulah yang terasa dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Milad ke-9 Majlis Ta’lim An-Najah, Sabtu (12/9/2026).
Ratusan jamaah memadati Gedung KH Arief Mustaqim lantai 6 UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung. Mereka datang tidak hanya dari Tulungagung, tetapi juga dari luar kota.
Peringatan Maulid Nabi tersebut dikemas dengan kegiatan yang dekat dengan kebutuhan perempuan.
Yakni talk show interaktif fiqh wanita yang menghadirkan Ning Hajjah Sheila Hasina Zamzami, pengasuh Pondok Pesantren Al Baqarah, Lirboyo, Kediri, bersama dr Shofia Ulfa, SpOG, praktisi kesehatan kandungan.
Suasana majelis pun tidak sekadar menjadi ruang untuk memperingati kelahiran Baginda Rasulullah SAW.
Jamaah juga mendapatkan kesempatan memperluas wawasan keilmuan, khususnya mengenai fiqh wanita dan kesehatan reproduksi.
Ketua Majlis Ta’lim An-Najah, Hj Umi Abidah, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar majelis untuk terus menjaga kekompakan sekaligus menambah wawasan jamaah.
“Milad ini selain memperingati lahirnya Baginda Rasul juga untuk menambah wawasan keilmuan fiqh tentang wanita,” kata Umi.
Menurut dia, antusiasme jamaah menjadi energi tersendiri bagi keberlangsungan Majlis Ta’lim An-Najah.
Dia berharap kebersamaan yang selama ini terjalin dapat terus dijaga dan jumlah jamaah semakin bertambah.
“Insyaallah kami akan tetap solid dan semoga jamaah kita semakin banyak,” ujarnya.
Belajar Fiqh hingga Kesehatan Reproduksi
Kehadiran dr Shofia Ulfa, SpOG, membuat pembahasan semakin luas. Tidak hanya dari sisi fiqh, jamaah juga diajak memahami persoalan perempuan melalui perspektif kesehatan reproduksi.
Dokter Shofia menyampaikan rasa syukurnya karena kegiatan berlangsung lancar dengan antusiasme jamaah yang tinggi.
“Alhamdulillah hari ini sukses, lancar dan antusiasme para jamaah sangat tinggi untuk belajar fiqh wanita dan reproduksi wanita,” kata dr Shofia.
Dia berharap semangat belajar tersebut terus tumbuh di lingkungan Majlis Ta’lim An-Najah.
Bagi dia, keberadaan majelis menjadi ruang penting bagi jamaah untuk terus menambah pengetahuan sekaligus menjaga keistiqamahan dalam menuntut ilmu.
“Semoga jamaah An-Najah semakin istiqamah, dalam bermajlis ta’lim,” harapnya.
Bagi jamaah, momentum Maulid Nabi dan milad majelis menjadi pertemuan antara kecintaan kepada Rasulullah SAW dan semangat mencari ilmu.
Peringatan tidak berhenti pada seremoni, tetapi diisi dengan pembahasan yang menyentuh kehidupan perempuan sehari-hari.
Kegiatan tersebut juga berlangsung semakin meriah dengan pembagian berbagai hadiah kepada jamaah.
Doorprize disiapkan untuk peserta, termasuk hadiah utama berupa mesin cuci dan kulkas.
Di tengah kemeriahan itu, Majlis Ta’lim An-Najah juga terus menjaga kegiatan sosialnya.
Hj Umi Abidah menyebut majelis secara rutin melaksanakan Jumat Berkah setiap Jumat kelima setiap bulan.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan sembilan tahun Majlis Ta’lim An-Najah.
Sembilan tahun bukan hanya tentang bertambahnya usia, tetapi juga tentang menjaga semangat jamaah untuk terus berkumpul dalam majelis, belajar, berbagi, dan memperkuat silaturahmi.
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, semangat itu kembali diteguhkan.
Kecintaan kepada Rasulullah SAW dihidupkan melalui majelis ilmu, sementara kepedulian kepada sesama diwujudkan melalui kegiatan sosial yang terus berjalan.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.