RADAR TULUNGAGUNG - Belajar jurnalistik dapat menjadi salah satu cara bagi siswa untuk melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus memahami informasi sebelum menyebarkannya. Keterampilan tersebut tidak hanya berguna bagi siswa yang ingin menjadi jurnalis, tetapi juga penting ketika mereka berhadapan dengan berbagai informasi di internet dan media sosial.
Belajar jurnalistik membuat siswa terbiasa membedakan informasi yang sudah terverifikasi dengan informasi yang masih perlu diperiksa. Proses membuat berita mengharuskan siswa mencari informasi, memahami fakta, menyusun tulisan, dan mempertimbangkan apakah informasi yang digunakan cukup kuat untuk disampaikan kepada pembaca.
Karena itu, belajar jurnalistik dapat ditempatkan sebagai bagian dari pengembangan keterampilan di luar pelajaran akademik. Materinya pun tidak harus terbatas pada penulisan berita, tetapi dapat mencakup penggalian informasi, fotografi, hingga pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca Juga: SMAN 1 Karangrejo Tulungagung Bekali 100 Siswa dengan Jurnalistik, Fotografi, dan AI
Jurnalistik Melatih Siswa Tidak Langsung Percaya Informasi
Salah satu kemampuan dasar dalam jurnalistik adalah memeriksa informasi sebelum menggunakannya. Siswa perlu memahami fakta yang diperoleh, mencari sumber yang relevan, kemudian menyusun informasi secara hati-hati agar tidak menghasilkan berita yang keliru.
Kebiasaan tersebut berkaitan erat dengan literasi media dan informasi. UNESCO menjelaskan bahwa literasi media dan informasi mencakup kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi secara kritis, menggunakan, menciptakan, serta menyebarkan informasi secara kreatif, legal, dan etis.
Kemampuan itu semakin penting karena informasi tidak hanya diterima melalui buku atau ruang kelas. Siswa juga berhadapan dengan konten dari mesin pencari, media sosial, video, dan berbagai platform digital.
UNICEF juga menekankan pentingnya kemampuan anak dan remaja untuk memahami informasi secara kritis, menemukan sumber yang tepercaya, serta mengenali informasi yang salah atau menyesatkan. Literasi media dapat membantu mereka menghadapi risiko misinformasi dan disinformasi.
Menulis Berita Membiasakan Siswa Mengolah Fakta
Kemampuan berpikir kritis dapat dilatih melalui proses membuat karya jurnalistik. Siswa tidak sekadar diminta menghasilkan tulisan, tetapi belajar menentukan informasi yang relevan, memahami konteks, dan menyusun fakta agar mudah dipahami pembaca.
Praktik tersebut dapat diterapkan dalam diklat jurnalistik. Materi jurnalistik mencakup dasar-dasar jurnalistik, teknik penulisan berita, penggalian informasi, serta pentingnya menggunakan fakta dan menghindari hoaks. Dengan materi tersebut, siswa diperkenalkan pada proses mengubah informasi menjadi karya yang dapat dipublikasikan.
Fotografi juga menjadi bagian penting. Siswa belajar menghasilkan gambar yang bukan sekadar pelengkap tulisan, tetapi dapat memperkuat informasi dalam sebuah karya jurnalistik.
UNESCO menempatkan fakta dan verifikasi sebagai dasar dalam kerja jurnalistik. Pembelajaran jurnalistik juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis, ketepatan, verifikasi, analisis, dan pemahaman terhadap informasi.
Baca Juga: Rayakan Usia Ke-24, Radar Tulungagung Siap Menjawab Tantangan AI Tanpa Tinggalkan Nilai Jurnalistik
Belajar Jurnalistik di Era AI Perlu Tetap Kritis
Perkembangan AI membuat kemampuan mengolah informasi menjadi semakin penting. Teknologi dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses kreatif, tetapi hasil yang diperoleh tetap perlu diperiksa sebelum digunakan.
AI bagi siswa dapat diperkenalkan sebagai bagian dari perkembangan teknologi dan alat bantu pembuatan karya. Pemanfaatannya tetap diarahkan agar siswa memperhatikan ketepatan informasi serta tanggung jawab dalam menghasilkan konten.
Hal tersebut sejalan dengan perkembangan literasi media dan informasi. UNESCO memasukkan AI, transformasi digital, serta meningkatnya misinformasi dan disinformasi sebagai bagian dari isu yang perlu dipahami dalam pendidikan literasi media.
Karena itu, siswa tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi. Mereka juga perlu memahami cara mengevaluasi informasi yang dihasilkan atau ditemukan melalui teknologi tersebut.
Sekolah dapat memperkuat pembelajaran ini melalui praktik sederhana. Misalnya, siswa diberi tugas mencari informasi tentang suatu peristiwa, membandingkan beberapa sumber, menentukan fakta yang dapat digunakan, kemudian menuliskannya dalam bentuk berita.
Pada akhirnya, belajar jurnalistik bukan hanya tentang mencetak calon wartawan. Prosesnya dapat menjadi latihan untuk berpikir sebelum percaya, memeriksa sebelum menyebarkan, dan menyusun informasi berdasarkan fakta.
Keterampilan tersebut menjadi semakin relevan ketika siswa hidup dalam lingkungan informasi yang bergerak cepat. UNESCO menyebut literasi media dan informasi sebagai kemampuan penting untuk membantu masyarakat berpikir kritis dan berinteraksi dengan informasi secara bertanggung jawab.
Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber