Cara Menggunakan AI untuk Konten Sekolah, Tetap Periksa Fakta dan Informasi

Vidya Sajar Fitri • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 19:36 WIB
Menggunakan AI untuk membuat konten sekolah bisa membantu siswa berkarya, tetapi fakta dan informasi tetap wajib diperiksa sebelum dipublikasikan.(ILUSTRASI AI)
Menggunakan AI untuk membuat konten sekolah bisa membantu siswa berkarya, tetapi fakta dan informasi tetap wajib diperiksa sebelum dipublikasikan.(ILUSTRASI AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Menggunakan AI untuk membuat konten sekolah dapat membantu siswa mengembangkan karya kreatif, mulai dari tulisan hingga materi pendukung lainnya. Namun, teknologi kecerdasan buatan sebaiknya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kemampuan siswa dalam mencari, memahami, dan memeriksa informasi.

Menggunakan AI untuk membuat konten sekolah membutuhkan proses yang tetap berpusat pada kemampuan manusia. Siswa perlu menentukan tujuan konten, mengumpulkan bahan, menilai informasi, kemudian menggunakan AI sesuai kebutuhan sebelum memeriksa kembali hasilnya.

Menggunakan AI untuk membuat konten sekolah juga tidak berarti seluruh proses pembuatan karya dapat diserahkan kepada teknologi. Prinsip tersebut sejalan dengan panduan UNESCO yang mendorong penggunaan AI dalam pendidikan secara berpusat pada manusia, termasuk menjaga kemampuan berpikir, kemandirian, serta tanggung jawab peserta didik.

Baca Juga: Bagaimana Siswa Membuat Karya Jurnalistik yang Berkualitas? Kenali Peran Menulis, Fotografi, dan AI

Tentukan informasi sebelum meminta bantuan AI

Tahap pertama adalah menentukan informasi yang ingin disampaikan. Dalam pembuatan konten jurnalistik, siswa perlu memahami topik, mencari bahan yang relevan, serta mengetahui fakta yang dapat digunakan sebelum mulai menyusun karya.

AI kemudian dapat digunakan pada bagian tertentu dari proses kreatif. Misalnya, siswa dapat memanfaatkannya untuk membantu menyusun ide, membuat alternatif struktur tulisan, atau mencari kemungkinan pengembangan sebuah konsep.

Namun, hasil AI tetap harus diperlakukan sebagai bahan yang perlu diperiksa. UNESCO menekankan pentingnya mekanisme validasi terhadap keluaran AI, termasuk memeriksa kemungkinan munculnya informasi yang tidak akurat atau konten bermasalah.

Karena itu, siswa sebaiknya tidak langsung menyalin hasil AI ke dalam tugas atau konten sekolah. Informasi yang dihasilkan perlu dibandingkan dengan sumber yang dapat dipercaya sebelum digunakan.

Baca Juga: Manfaat Belajar Jurnalistik bagi Siswa, Melatih Berpikir Kritis dan Mengolah Informasi

Periksa fakta sebelum konten dipublikasikan

Pemeriksaan fakta menjadi bagian penting ketika siswa membuat konten berbasis informasi. Apalagi, AI dapat menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan meskipun belum tentu sesuai dengan fakta.

Dalam jurnalistik, fakta dan verifikasi merupakan bagian penting dalam proses menghasilkan informasi. UNESCO menyebut verifikasi sebagai salah satu landasan jurnalistik karena informasi perlu diperiksa sebelum disampaikan kepada publik.

Langkah sederhana yang dapat dilakukan siswa adalah memeriksa nama, tanggal, angka, lokasi, pernyataan, dan informasi lain yang bersifat faktual. Jika sebuah data berasal dari internet, sumber aslinya juga perlu ditelusuri agar siswa tidak hanya mengandalkan rangkuman dari AI.

Cara tersebut sekaligus membantu siswa mengembangkan literasi media dan informasi. UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan ini mencakup kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis serta bertanggung jawab.

Dengan demikian, AI justru dapat ditempatkan dalam alur kerja yang tetap membutuhkan penalaran siswa. Teknologi membantu proses, sedangkan keputusan mengenai apakah informasi layak digunakan tetap berada pada pembuat konten.

Baca Juga: SMAN 1 Karangrejo Tulungagung Bekali 100 Siswa dengan Jurnalistik, Fotografi, dan AI

Gabungkan tulisan, visual, dan AI secara bertanggung jawab

Konten sekolah tidak selalu berbentuk tulisan. Siswa juga diharapkan menguasai materi fotografi agar mampu menghasilkan gambar yang mendukung informasi dalam sebuah karya.

Kemampuan tersebut penting ketika siswa membuat konten digital. Foto yang digunakan seharusnya memiliki hubungan dengan topik sehingga tidak sekadar menjadi hiasan, tetapi membantu pembaca memahami informasi.

AI juga dapat digunakan untuk mendukung proses kreatif, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. UNESCO mengingatkan bahwa AI tidak seharusnya menghilangkan kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan kognitif, melakukan pengamatan langsung, berdiskusi, dan menggunakan penalaran secara mandiri.

Karena itu, alur yang dapat diterapkan adalah menentukan topik, mengumpulkan fakta, membuat konsep, menggunakan AI bila diperlukan, memeriksa kembali hasilnya, lalu menyunting konten sebelum dipublikasikan.

Pola tersebut membuat teknologi tetap bermanfaat tanpa menghilangkan proses belajar. Siswa tetap berlatih mencari informasi, berpikir kritis, menulis, memilih visual, dan bertanggung jawab terhadap karya yang dibuat.

Pada akhirnya, menggunakan AI untuk membuat konten sekolah bukan tentang seberapa banyak pekerjaan yang dapat dilakukan teknologi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana siswa memanfaatkan AI untuk membantu proses kreatif tanpa meninggalkan verifikasi, ketepatan informasi, dan tanggung jawab.

UNESCO juga menempatkan literasi media dan informasi sebagai kemampuan penting di tengah perkembangan teknologi digital dan banyaknya sumber informasi. Kemampuan mengakses serta mengevaluasi informasi secara kritis menjadi dasar agar konten yang dibuat siswa tidak hanya menarik, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan.

Editor : Vidya Sajar Fitri
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
jurnalistik siswa ai untuk siswa menggunakan AI untuk membuat konten sekolah cek fakta ai dalam pendidikan