Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 kembali memunculkan pembahasan mengenai kualitas pendidikan di Indonesia. Meski dirancang untuk memetakan kemampuan akademik murid secara terstandar, sejumlah pihak mengingatkan bahwa hasil asesmen tidak boleh berhenti sebagai kumpulan data. Pemerintah dinilai perlu memastikan hasil TKA ditindaklanjuti melalui program nyata untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam sebuah diskusi yang menghadirkan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Toni Toharudin, serta pakar pendidikan Indra Kharismaji. Keduanya menyampaikan pandangan mengenai tujuan, manfaat, sekaligus tantangan pelaksanaan TKA.
TKA Mengukur Tiga Mata Pelajaran Wajib dan Dua Pilihan
Toni Toharudin menjelaskan bahwa TKA bertujuan mengukur kemampuan akademik setiap murid secara terstandar. Pada jenjang SMA dan sederajat, peserta mengikuti asesmen tiga mata pelajaran wajib, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Selain itu, murid juga mengerjakan dua mata pelajaran pilihan sesuai tujuan masing-masing.
Menurut Toni, pelaksanaan TKA dilakukan secara bertahap dan terus dipantau bersama pemerintah daerah serta satuan pendidikan. Pemantauan tersebut bertujuan memastikan peserta memperoleh layanan yang baik dan kendala selama pelaksanaan dapat segera ditangani.
TKA sendiri bukan penentu kelulusan sekolah. Kemendikdasmen menjelaskan bahwa asesmen ini berfungsi sebagai pemetaan capaian akademik, bahan evaluasi pembelajaran, serta salah satu sumber informasi untuk kepentingan seleksi pendidikan lanjutan.
Pakar Ingatkan Jangan Hanya Mengukur Kemampuan Siswa
Indra Kharismaji memberikan catatan kritis terhadap pelaksanaan asesmen pendidikan. Menurutnya, Indonesia telah memiliki berbagai data hasil pengukuran kemampuan siswa, termasuk dari asesmen internasional dan nasional. Namun, persoalan mendasar justru terletak pada tindak lanjut untuk memperbaiki kemampuan tersebut.
Ia mengibaratkan kondisi siswa seperti pasien yang terus diperiksa, tetapi tidak mendapatkan penanganan. Baginya, hal terpenting bukan sekadar mengetahui tingkat kemampuan siswa, melainkan memastikan mereka memperoleh pembelajaran yang dapat meningkatkan kompetensinya.
Indra juga menyoroti risiko penggunaan hasil TKA untuk seleksi jalur prestasi. Ia mengingatkan agar hasil pengukuran tidak menjadi alat untuk menghakimi kemampuan anak. Menurutnya, pendidikan seharusnya berorientasi pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan hanya mengejar angka hasil asesmen.
Pembelajaran Kontekstual Dinilai Perlu Diperkuat
Selain tindak lanjut hasil asesmen, Indra menilai pola pembelajaran di sekolah perlu diperbaiki. Ia mencontohkan pembelajaran matematika yang selama ini sering dimulai dari angka dan simbol, bukan dari pengalaman konkret yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sebagai ilustrasi, siswa mungkin mampu menjawab penjumlahan sederhana seperti 1 + 2 + 3. Namun, ketika soal disajikan dalam bentuk cerita tentang kegiatan membeli pakaian, sebagian siswa dapat mengalami kesulitan memahami persoalannya.
Menurut Indra, pembelajaran sebaiknya dimulai dari pengalaman nyata atau konkret, kemudian beralih ke bentuk gambar, hingga akhirnya menggunakan simbol. Pendekatan tersebut diharapkan membantu siswa memahami konsep, bukan sekadar menghafal cara menghitung.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan bagi orang tua. Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan sekolah dan guru, tetapi perlu melibatkan keluarga melalui program pendampingan yang memadai.
Kemendikdasmen Siapkan Pelatihan Guru Berbasis Sekolah
Menanggapi kritik tersebut, Toni menyampaikan bahwa Kemendikdasmen telah mengubah pendekatan pelatihan guru. Salah satu upayanya adalah teacher experimental training, yaitu kegiatan pengembangan kemampuan guru yang dilakukan langsung di satuan pendidikan masing-masing.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk melalui pembelajaran mendalam dan kegiatan satu hari belajar guru. Sekolah juga didorong memiliki guru pendamping atau champion yang membantu meningkatkan kompetensi rekan sejawat.
Toni menyebut hasil TKA sebelumnya menjadi salah satu dasar penyusunan strategi peningkatan mutu pendidikan. Pemerintah berharap berbagai upaya tersebut dapat memberikan hasil yang lebih baik pada 2029.
Indra mengingatkan agar pelatihan tidak berhenti pada pelaksanaan program atau sekadar pemberian sertifikat. Dampaknya harus dapat diukur dan dirasakan oleh siswa. Dengan demikian, TKA 2026 diharapkan tidak hanya menghasilkan peta kemampuan akademik, tetapi juga mendorong perubahan nyata dalam proses pembelajaran di sekolah.
Sumber : CNN Indonesia