Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kritik Pedas Kang Dedi Mulyadi: Studi Tour Sekolah Sekarang Cuma Niru Gaya Hidup Pejabat

Ria Romadoni • Selasa, 5 Agustus 2025 | 17:45 WIB

 

Kang Dedi Mulyadi berikan kritikan tajam terkait studi tour untuk siswa.
Kang Dedi Mulyadi berikan kritikan tajam terkait studi tour untuk siswa.

 

PURWAKARTA - Gubernur Jawa Barat yang juga dikenal sebagai tokoh publik kritis, Kang Dedi Mulyadi, kembali melontarkan kritik tajam terhadap fenomena studi tour sekolah yang dinilainya telah melenceng dari tujuan semula.

Lewat video pendek yang viral di media sosial, Kang Dedi Mulyadi menyoroti bagaimana kegiatan belajar luar kelas ini berubah menjadi ajang gaya-gayaan dan pemborosan, meniru pola hidup kalangan pejabat.

“Sekarang mah studi tour anak sekolah teh ngikutin gaya pejabat jalan-jalan. Pake bus mewah, makan di restoran mahal, nginep di hotel, padahal tujuannya apa?” kata Kang Dedi Mulyadi dalam pernyataannya.

Baca Juga: Bagaimana Jika Dedi Mulyadi Jadi Gubernur Jawa Timur, Apakah Kebijakan Kontroversinya Akan Relevan

Kang Dedi Mulyadi menyoroti bahwa studi tour seharusnya menjadi sarana edukatif, di mana para siswa bisa mengenal tempat-tempat bersejarah, belajar langsung dari sumber, hingga memahami budaya daerah lain.

Namun kini, praktiknya banyak berubah menjadi wisata konsumtif, bahkan terkadang membebani orang tua murid secara finansial.

Lebih miris lagi, menurut Kang Dedi, banyak sekolah dan pihak terkait tidak lagi menjadikan substansi pembelajaran sebagai tujuan utama, melainkan hanya formalitas.

Siswa lebih sibuk memikirkan OOTD, konten Instagram, hingga hotel tempat menginap, daripada ilmu yang didapat.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Wacanakan Sekolah Masuk Jam 06.30 dan Penghapusan PR: Anak Harus Punya Waktu untuk Keluarga

“Kalo tujuan studi tour-nya ke tempat bersejarah kayak Museum Sumpah Pemuda, terus malamnya nginep di hotel bintang empat, terus main ke mal... lah itu mah plesiran, bukan belajar,” tambahnya.

Dalam kritiknya, Kang Dedi juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap efek domino sosial dari model studi tour semacam ini. Tidak semua orang tua mampu membayar biaya studi tour yang kini bisa mencapai jutaan rupiah.

Akibatnya, anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa merasa terkucil, malu, atau bahkan tidak bisa ikut kegiatan yang seharusnya inklusif.

Baca Juga: Gunung Tangkuban Perahu di Bandung Barat, Kulturasi Kebudayaan dan Keindahan Alam Jawa Barat

“Orang tuanya kerja keras siang malam, eh duitnya dipake buat anaknya naik bus mahal, foto-foto di tempat wisata. Hasilnya mana? Ilmunya mana?” ujar Kang Dedi dengan nada prihatin.

Dalam video tersebut, Kang Dedi memberikan alternatif yang menurutnya jauh lebih relevan dan membumi. Ia menyarankan agar sekolah-sekolah kembali menghidupkan konsep “live-in” atau belajar dari kehidupan masyarakat langsung, seperti tinggal di rumah warga desa, belajar bertani, mengolah hasil bumi, hingga berinteraksi dengan kebudayaan lokal.

Menurutnya, pengalaman seperti ini tidak hanya murah, tetapi juga lebih membekas dan membentuk karakter siswa. Anak-anak jadi belajar empati, kerja keras, dan kebijaksanaan lokal yang tidak akan mereka dapatkan dari menginap di hotel atau berwisata ke kota besar.

Pernyataan Kang Dedi tersebut langsung mendapat respons luas dari masyarakat di berbagai platform media sosial. Banyak netizen yang mengamini kritik itu, mengaku pernah mengalami atau melihat sendiri bagaimana studi tour berubah menjadi ajang flexing.

Kembali ke tujuan awal, studi tour seharusnya menjadi ruang belajar di luar kelas yang mendorong keterlibatan, empati, dan pemahaman lintas budaya dan sejarah. Bukan ajang pamer gaya hidup yang meniru struktur sosial tidak sehat dari para elite. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#dedi mulyadi #deddy corbuzier #studi tour #gubernur jawa barat