TULUNGAGUNG – Budi Setiyahadi tidak jera meski beberapa kali kalah dalam kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Tulungagung. Tahun ini, pengusaha batu bara itu berencana maju lagi untuk menjadi orang nomor satu di Tulungagung.
Berdasar rekam jejak, Budi Setiyahadi sudah tiga kali maju di Pilkada Tulungagung. Pertama adalah Pilkada Tulungagung tahun 2003, 2008 dan pilkada tahun 2013.
Namun, tiga kali berkontestasi, tiga kali pula Budi Setiyahadi menelan pil pahit, kekalahan. Sementara pilkada terakhir yang diikutinya, 2013 lalu.
Budi Setiyahadi maju menjadi calon wakil bupati (cawabup) dari Athiyah, tapi dia kembali kalah dari pasangan Sahto (Syahri Mulyo – Maryoto Birowo). Kendati kalah untuk sekian kalinya, Budi Setiyahadi tak lantas putus asa.
“Bagi saya itu bukan kekalahan dan bukan kegagalan, tapi proses untuk hidup. Pengalaman hidup itu harus ditempa dengan semesta seperti itu,” jelas Budi Setiyahadi, saat ditemui koran ini di kawasan Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, Kamis (29/2/2024).
Suatu hal yang membuat Budi Setiyahadi gigih melanjutkan perjuangan meraih Tulungagung Satu tak lain berkat dukungan orang-orang sekitar. Misal, dorongan dari beberapa tokoh di Tulungagung yang ingin pribadinya menjadi pucuk pimpinan di Kota Marmer ini.
“Ada sebagian tokoh di Tulungagung yang ingin menghadirkan sosok pribadi saya untuk maju ke Pilkada. Prinsipnya sebagai warga negara Indonesia yang dilahirkan di Tulungagung dan ber-KTP Tulungagung, tentu menerima itu. Saya menerima untuk ikut pengabdian dalam konteks menyongsong Tulungagung kedepan,” katanya.
Dia mengaku ingin mewakafkan pikiran, tenaga dan apa yang dia miliki untuk masyarakat Tulungagung. Keinginannya mengajukan diri dalam Pilkada bukan mencari kekayaan, tapi memberikan manfaat lebih untuk masyarakat Tulungagung.
“Kalau ingin kaya jangan jadi pejabat, tapi jadi pengusaha. Karena saya diberi kesempatan Allah untuk menjadi pengusaha batu bara dan itu sudah cukup untuk makan anak istri,” bebernya.
Sampai saat ini, Budi memang belum membentuk sebuah tim pemenangan untuk menatap Pilkada yang sebentar lagi tahapannya akan dimulai.
Meski begitu, ada beberapa karya yang telah dilakukan. Pertama adalah memfasilitasi aplikasi Go Desa yang bisa membantu seluruh kepala desa di Tulungagung.
Juga membangun sebuah pelayanan pengobatan dan pelayanan terapi untuk kesehatan masyarakat Tulungagung yang lokasinya tepat berada di depan Kantor Pemkab Tulungagung.
“Nanti tanggal 9 Maret kita akan buka layanan pengobatan itu, lokasinya berada di depan kantor Pemkab Tulungagung,” ungkapnya.
Ditanya soal partai politik (parpol) sebagai kendaraan dalam maju Pilkada nanti, Budi menjelaskan komunikasi dengan para pentolan parpol di Tulungagung sudah berjalan baik. Masalah rekomendasi maju Pilkada, Keputusan ada di tataran dewan pimpinan pusat (DPP) parpol.
“Seluruh kebijakan partai terkait rekomendasi adalah Keputusan DPP partai. Sementara ini, komunikasi yang dilakukan hanyalah komunikasi biasa. Intinya proses Pilkada kita ingin seperti angin berhembus saja, kemanapun lah,” katanya.
Budi melihat Kabupaten Tulungagung memiliki bisa lebih maju saat dipimpin orang yang inovatif serta visioner.
Apalagi beberapa pembangunan proyek strategis nasional (PSN) yang dilaksanakan mulai dari Jalur Lintas Selatan (JLS), jalan tol Kediri – Tulungagung hingga Bandara Dhoho Kediri.
Karena itu, Budi Setiyahadi ingin memberikan sumbangsih untuk kemajuan Kabupaten Tulungagung.
Mulai dari rencana membebaskan stunting di Tulungagung, mensejahterakan masyarakat, serta meningkatkan sumber daya manusia melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang dimiliki.
Dia berencana menyongsong Indonesia emas tahun 2045 jika nanti ditakdirkan menjadi bupati Tulungagung.
“Tulungagung akan menjadi kota segitiga emas. Ini diperlukan sosok pemimpin yang visioner, inovatif dan merangkul anak-anak generasi Z yang sangat luar biasa kreatif. Kami ingin membawa Tulungagung menjadi kota Industri, pangan, dan budaya,” harapnya.
Dia menegaskan rencananya untuk maju Pilkada ini bukan untuk mengejar jabatan, melainkan untuk menjemput takdir kalau tuhan berkehendak menjadikannya bupati Tulungagung.
Janjinya, akan menjalankan amanah dengan baik dan membawa Tulungagung ini menjadi kota yang jaya seperti zaman marmer.
“Kalau ingin menjadi kesatria yang sejati jangan setelah jatuh malah menyerah dan merana. Kita harus jatuh bangun lari, jatuh bangun lari. Ini adalah perjuangan proses hidup,” tutup pria tersebut.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra