TULUNGAGUNG – Selama ini sektor kepariwisataan di Tulungagung belum digarap secara maksimal. Padahal jika melihat potensinya, sektor pariwisata sungguh luar biasa baik dari sisi keindahan alam maupun kearifan lokal masyarakatnya.
Maka dari itu, diperlukan sosok kepala daerah yang mempunyai keberanian dan komitmen untuk meningkatkan sektor kepariwisataan di Kota Marmer.
Pegiat Lingkungan dan Pariwisata Tulungagung, Karsi Nerro Soethamrin mengatakan dengan adanya beberapa proyek strategis nasional (PSN) yang ada, Tulungagung saat ini mulai menjadi jujukan para wisatawan dari luar daerah.
Kemudahan aksesibilitas menuju Tulungagung dengan adanya jalur lintas selatan (JLS) Tulungagung, serta rencana pembangunan jalan tol Kediri - Tulungagung sampai rencana pembangunan selingkar wilis menjadi penopang pariwisata Kota Marmer.
“Apalagi kawasan selatan, sekarang ini sudah mulai luar biasa. Lihat saja di kawasan Bandung, Besuki dan Campurdarat yang setiap akhir pekan jalanannya dipenuhi oleh kendaraan dari luar kota untuk berwisata,” jelas Karsi, sapaan akrab pria gondrong itu.
Perlu sosok pemimpin yang peka dengan potensi yang dimiliki itu. Karena jika pariwisata bisa dikelola dengan baik, akan berimbas pada peningkatan ekonomi masyarakat yang luar biasa, dan disusul dengan dampak sosial bagi masyarakat Tulungagung sendiri.
Pun seharusnya, anggaran yang terbatas bukan menjadi alasan menahun yang dilontarkan oleh pemerintah daerah.
Karena jika Tulungagung dipimpin oleh bupati yang berani dan lincah, pembangunan pariwisata Tulungagung bisa dilakukan dengan menggunakan dana dari pemerintah pusat ataupun provinsi.
“Selama ini saya pandang belum ada keberanian dari Pemerintah Daerah. Okelah kalau beralasan anggaran yang terbatas, kita mencoba paham. Tapi seharusnya pemerintah daerah ini bisa juga berusaha mencari pendanaan lainnya tidak hanya pasrah dengan keadaan. Butuh pemimpin yang bisa menjemput bola menangkap potensi yang dimiliki Tulungagung,” ungkapnya.
Karsi melanjutkan, keberadaan wisata desa di Tulungagung juga harus dipikirkan kembali pemimpin hasil pemilihan kepala daerah (Pilkada) Tulungagung tahun ini. Wisata desa sempat mekar di Tulungagung sekitar tiga tahun yang lalu.
Namun karena pengelolaan dan sentuhan dari pemerintah daerah yang kurang, kondisi wisata desa di Tulungagung saat ini seakan mati suri. Dari banyaknya wisata desa yang ada, hanya ada beberapa saja yang mampu bertahan. Sisanya pada gulung tikar sendiri-sendiri.
“Seperti Ulur-ulur di Telaga Buret yang itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Kita (Pengelola) sudah mengadakan event, tapi ide dari pemerintah daerah untuk bagaimana mempromosikan asetnya itu seakan masih ada. Saat event pariwisata, mereka pejabat hanya datang dan menyaksikan, setelah itu tidak ada tindak lanjutnya,” paparnya.
Menurut dia, salah satu hal yang berkaitan dengan pariwisata adalah lingkungan. Contohnya saja infrastruktur Tulungagung penunjang wisata yang banyak rusaknya ini, juga berkaitan dengan hutan-hutan kawasan selatan yang gundul.
Karena setiap kali hujan turun deras di pegunungan selatan, selalu turun ke bawah membawa lumpur dan batu kecil-kecil.
“Kami harapkan bacakada Tulungagung ini juga harus peka lingkungan. Mereka harus paham setiap musim penghujan datang, banjir lumpur dan batu kecil selalu datang. Jadi kalau infrastruktur dibangun tanpa pembenahan lingkungan, saya pikir itu hanya akan menambah proyek tahunan saja,” tandasnya.
Karsi juga mengingatkan selain pariwisata alam yang mempesona, Tulungagung juga memiliki kearifan lokal dan wisata sejarah yang patut untuk dijual.
Seperti adanya peninggalan manusia prasejarah yang ada di Tulungagung yaitu Homo Wajakensis, cerita Dewi Gayatri sampai makam pengasuh Presiden RI pertama Soekarno yaitu Sarinah yang ada di Tulungagung juga.
“Pemerintah sebelumnya tidak mempunyai inisiasi untuk menjual potensi-potensi wisata yang semacam ini. Nah ini tugas pimpinan selanjutnya untuk membuat terobosan,” tutup Karsi.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra