TULUNGAGUNG – Peningkatan suhu politik di Tulungagung dibarengi dengan manuver Partai Gerindra yang dipastikan bakal berkompetisi di pilkada tahun ini.
Usai menerima rekomendasi dari DPC, Ahmad Baharudin makin aktif gerilya ke berbagai parpol untuk memenuhi batas minimal jumlah kursi untuk pencalonan.
Ditemui Koran ini di kantor DPC Partai Gerindra, Ahmad Baharudin mengaku masih punya pekerjaan rumah (PR) lain.
Yaitu, untuk membuka komunikasi intens dengan berbagai parpol lain dalam upaya pemenuhan syarat pencalonan bupati-wakil bupati di pilkada tahun ini.
“Karena kami perlu koalisi agar bisa memenuhi batas minimal persyaratan untuk daftarkan calon. Gerindra mendapat delapan kursi di pileg tahun ini. Sedangkan batas minimal pencalonan di pilkada adalah 10 kursi,” ujarnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, lanjut Baharudin, komunikasi lintas partai coba diintensifkan. Total ada sebanyak empat parpol yang diajak berembuk.
Sayangnya Baharudin enggan merinci karena masih perlu menanti rekomendasi resmi dari parpol calon koalisi.
“Sebenarnya sudah ada yang menyatakan keinginannya bergabung dengan kami. Tapi, itu baru disampaikan dalam komunikasi nonformal. Mudah-mudahan dalam waktu dekat rekomendasi dari partai yang akan berkoalisi dengan Gerindra bisa diturunkan,” akunya.
Hal lain yang perlu dicermati adalah jumlah kursi dengan parpol dalam koalisi. Meski cukup dengan tambahan dua kursi, ketua DPC Partai Gerindra Tulungagung ini mengungkapkan bahwa pihaknya tidak ingin membatasi keinginan partai lain untuk bergabung.
“Yang penting kami penuhi dulu batas minimal 10 kursi. Setelah aman, kami tetap terima teman-teman atau partai lain yang ingin gabung. Jadi, tidak harus pas 10 kursi,” tegasnya.
Meraba peta politik di Tulungagung saat ini, menurut dia, kemungkinan muncul tiga atau empat poros di kompetisi pilkada tahun ini besar kemungkinan terjadi. Tapi, hal ini akan ditentukan oleh keputusan masing-masing DPP partai dalam beberapa waktu ke depan.
“Bisa saja sebelum pendaftaran nanti ada perubahan. Karena beberapa partai belum menentukan arah dukungan,” kata Baharudin.
Disinggung soal pecahnya koalisi Gatut Sunu-Ahmad Baharudin (Abah), dia menerangkan bahwa sebagai kader parpol, Baharudin sepenuhnya tunduk pada keputusan DPP Partai Gerindra.
Tapi, di sisi lain dia juga berterima kasih kepada relawan Projo yang sempat menjodohkannya dengan kader PDIP, Gatut Sunu Wibowo (GS).
“Terima kasih ke teman-teman Projo. Itu berarti mereka simpatik dengan saya karena menjodohkan saya dengan Pak GS. Tapi ini kan hubungannya dengan rekom partai, bukan relawan. Jadi, saya harus mengikuti kebijakan partai,” lanjutnya.
Meski begitu, dia memastikan hubungan personalnya dengan Gatut Sunu baik-baik saja. Dia juga berharap seluruh pihak bisa menyikapi dinamika politik secara dewasa.
“Hubungan saya dengan Pak GS tidak ada masalah. Pilkada itu kan bukan untuk saling memusuhi,” pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra