Tulungagung - Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bahwa peran pemimpin harus melampaui sekadar tampil di hadapan publik. Ini disampaikannya pada Senat Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Kamis (5/9).
Ia menyatakan dalam kepemimpinan yang efektif, Emil fenomena "toxic leadership" patut dikritik, apalagi hal ini sering terjadi di lingkungan kerja.
"Dalam dunia kepemimpinan, pemimpin bukan sekadar tontonan tetapi harus menjadi tuntunan," ujar mantan Bupati Trenggalek ini.
Lebih lanjut dijelaskan Emil, ketidakpastian dan rasa takut yang ditanamkan pemimpin kepada anak buah dapat membatasi kreativitas dan produktivitas tim.
Disorotinya juga transparansi dan integritas dalam proses perizinan dan pengelolaan anggaran. Ia menceritakan pengalaman di Trenggalek di mana ia berhadapan dengan potensi konflik kepentingan.
“Saya tidak bisa ikut berinvestasi dalam proyek tersebut karena akan menimbulkan konflik kepentingan. Meski tidak diumumkan secara resmi, ini adalah bentuk kesadaran pribadi terhadap masalah ini,” jelasnya.
Menurut Emil, untuk mengatasi konflik kepentingan dan memastikan transparansi, sistem harus dirancang dengan baik dan prosedur harus dilakukan tanpa biaya yang tidak perlu.
“Di lembaga internasional, ada aturan jelas mengenai deklarasi konflik kepentingan, dan hal itu harus diterapkan di dalam sistem perizinan di Indonesia,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan dan keadilan dalam distribusi anggaran dan bantuan. Meskipun pengawasan anggaran tidak bisa 100% sempurna, Emil meyakini seorang pemimpin harus menunjukkan itikad baik menuju kesempurnaan.
Di akhir, Emil pun menyimpulkan bahwa pemimpin yang baik adalah sosok yang kualitasnya dapat dijadikan teladan.
“Sebagai pemimpin, kita harus mengayomi dan menghargai anak buah kita. Kepemimpinan bukan tentang elektabilitas semata, tetapi tentang menciptakan suasana yang mendukung produktivitas dan kesejahteraan,” pungkasnya.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.