pil
TULUNGAGUNG - Ceruk suara dari kelompok Gen Z alias pemilih muda di Tulungagung terbilang masif. Kalangan akademisi dan pengamat politik menilai hal ini bisa jadi kerugian jika sampai luput dari perhatian keempat bapaslon di pilbup tahun ini.
Berdasarkan data KPU Tulungagung yang dihimpun Koran ini, jumlah pemilih di kategori kaum muda mencapai angka 60 persen dari total daftar pemilih sementara (DPS). Itu menunjukkan besarnya ceruk suara yang bisa diraih paslon dari kaum milenial.
"Prinsip dasarnya, paslon harus bisa menggalang suara secara terbuka. Paslon harus memahami karakter anak muda bagaimana pemilih pemula. Sebab, jumlahnya lebih banyak dibanding pemilih berusia dewasa," ujar pengamat politik, Khoirul Anam.
Paslon, lanjut Anam, sepatutnya bisa mendekatkan diri dengan kaum pemuda. Hal ini bisa dilakukan dengan menggelar silaturahmi secara terbuka ke kelompok-kelompok muda. Mulai dari kelompok kepemudaan Islam atau kelompok muda nasionalis.
"Kalau tidak silaturahmi terus piye? Kalau bisa mendekat, paslon bisa tahu apa yang dibutuhkan anak muda," sambungnya.
Usai komunikasi antara paslon dan kaum milenial terjalin, paslon harus mulai memahami berbagai kebutuhan kamu milenial. Hal ini penting untuk menentukan langkah selanjutnya. Termasuk dalam upaya menentukan program yang akan ditawarkan pada Gen Z.
"Dengan begitu bisa akomodasi kebutuhan kaum milenial. Sesuai yang disampaikan dalam agama, berdakwah sesuai bahasa kaumnya," kata Anam lagi.
Menilik kondisi di lapangan, Anam mengungkapkan bahwa kaum milenial saat ini dihadapkan dengan berbagai tantangan. Mulai dari sulitnya mendapat lapangan pekerjaan hingga sulitnya membuka usaha sendiri. Hal ini bisa jadi salah satu poin yang ditawarkan paslon. Yakni, membuat program untuk memperbanyak lapangan kerja.
"Tantangan terberat yang dihadapi kaum muda adalah kompetisi dunia kerja. Ketika pemda tidak bisa mengakomodasi kebutuhan ini, potensi kriminal meningkat. Lalu, sebagian besar anak muda juga ingin membuka usaha sendiri. Ini yang harus diakomodasi paslon," tegasnya.
Tapi, calon pemimpin daerah juga harus objektif dalam menyampaikan program dan gagasan. Salah satunya dengan terbuka soal latar belakang program yang ditawarkan kepada calon pemilihnya.
"Itu harus jelas. Apakah programnya sudah diuji atau masih dalam tataran konsep," tandasnya.
Editor : Dharaka R. Perdana