TULUNGAGUNG - Kalangan milenial Tulungagung, khususnya mahasiswa dan pengusaha muda, menilai perlu dibukanya ruang komunikasi antara bacakada dan pemilih muda. Tujuannya agar para pemuda mengetahui visi-misi dan program bacakada secara konkret.
Ketua Asosiasi Mahasiswa Tulungagung Indonesia (AMTI), Wahid Ilham, menilai bahwa semua calon pimpinan daerah yang mendaftar ke KPU merupakan golongan senior. Itu sebabnya, mereka yang macung sebagai pimpinan daerah wajib terbuka dengan kaum muda.
"Menurut pandangan kami sebagai mahasiswa, mereka yang mendaftar (sebagai bacakada, Red) usianya bukan lagi milenial. Kalau pengin dekati pemuda ya buka diskusi publik dan turun ke bawah untuk membikin event diskusi," katanya.
Baca Juga: Bapaslon Pilkada Tulungagung Pantang Sepelekan Gen-Z, Alasannya Bikin Mengernyitkan Dahi
Dia menambahkan, selama ini bacakada kurang terbuka maupun mendekatkan diri ke milenial. Itu sebabnya, komunikasi antara calon pimpinan daerah dan kaum milenial tidak terbangun secara baik. Hal ini melatarbelakangi keinginan kelompok mahasiswa untuk kembali menggelar forum diskusi antara kaum muda dan bacakada pada Oktober mendatang.
"Oktober nanti ada diskusi. Bentuknya adalah forum talk show. Ini saya sudah komunikasi dengan presiden mahasiswa UIN SATU Tulungagung. Nanti semua calon diundang untuk duduk bersama. Yang aktif bicara adalah BEM, mahasiswa, dan LSM," ujarnya.
Selain itu, dia juga meminta agar bacakada membuat program yang menyentuh langsung ke kaum milenial. Sebab, selama ini kaum muda belum banyak diberi ruang untuk berkontribusi pada pembangunan daerah. Dengan begitu, ada berbagai gebrakan baru yang bisa dibuat di sektor-sektor primer.
"Rata-rata visi-misi yang dilayangkan hanya narasi pembangunan, pendidikan, dan ekonomi. Tapi, tidak ada yang menyasar langsung untuk membuat pemuda bisa berkontribusi. Harus ada program, event khusus pemuda, dan sering-sering menggaet pemuda," ucapnya.
Baca Juga: Polling Pilkada Tulungagung, Mardinoto Naik Tajam, Geser Posisi Gabah
Hal senada dilontarkan Pj Ketua Umum HIPMI Tulungagung Fajar Sulihtiawan. Menurut dia, pemimpin yang dibutuhkan Kota Marmer harus kreatif, inovatif, dan mau mendengar aspirasi kalangan anak muda.
Apalagi, dia mengetahui dari statistik jika Gen Z dan milenial mendominasi demografi Tulungagung. “Pemimpin itu harus memahami pengelolaan daerah sesuai karakter masyarakat yang mendominasi. Namun ini bukan berarti mengesampingkan generasi di atas anak muda ini,” jelasnya.
Fajar -sapaan akrabnya- menambahkan, kalangan muda memiliki banyak ide kreatif yang tentunya menyimpan potensi untuk turut mengembangkan Tulungagung. Dengan begitu, perlu dibuatkan sebuah forum untuk ngobrol dan sharing mengenai banyak hal. “Kami pun siap berbagi ide untuk pengembangan Tulungagung ke depan,” ujarnya.
Disinggung mengenai ada tidaknya paslon yang menengok HIPMI, Fajar mengaku belum ada. Alasannya sampai saat ini masih minim komunikasi sehingga belum bisa menentukan bakal memberikan suara ke siapa. “Pandangan tentu ada, namun semua masih harus ditimbang sebelum menentukan arah pilihan,” tandasnya. ***
Editor : Dharaka R. Perdana