TULUNGAGUNG – Bapaslon pilkada Tulungagung harus benar-benar berhati-hati saat berkomunikasi dengan maksud PDKT ke kalangan gen Z dan milenial. Salah sedikit mengeluarkan susunan kalimat bisa berpengaruh pada arah pilihan mereka dalam pilkada mendatang. Apalagi kalangan anak muda ini tidak bisa disamakan dengan kalangan tua dalam hal pendekatan. Dan kalangan tua harus ambyur ke dunia mereka.
Praktisi komunikasi Berdit Zanzabela mengatakan, kalangan gen Z tentunya tidak menyukai pola komunikasi lawas atau zaman kolonial yang berbasis instruksional. Karena umumnya lebih suka komunikasi berbasis kesepakatan dalam berkomunikasi satu sama lain. Sehingga itu harus dari hati ke hati untuk merebut simpati kalangan ini. “Tentu pola komunikasi model lama tidak tepat diarahkan ke mereka,” katanya melalui sambungan telepon, Jumat (20/9).
Baca Juga: Bapaslon Pilkada Tulungagung Pantang Sepelekan Gen-Z, Alasannya Bikin Mengernyitkan Dahi
Bela, -sapaan akrabnya menambahkan, berkaca pada hal di atas, tentunya kalangan yang lebih tua mau tidak mau harus mengakrabkan diri. Bahkan tidak jarang hal ini menggunakan istilah-istilah khas anak muda jika ada kalangan tua masuk ke dunia anak muda. Alhasil jika dikaitkan dengan dunia politik, para politisi harus ikut menjadi anak muda meskipun dari segi usia terbilang generasi lama.
“Para anak muda ini bisa lebih menerima jika ada kalangan tua yang berkomunikasi ala nom-noman. Kalau tetap menggunakan cara konvensional tentunya mau ketemu saja bakal kesulitan,” tambahnya.
Cewek asal Trenggalek ini tak menampik jika populasi anak muda pada era sekarang cukup besar. Jika melihat pileg lalu, persentase mereka mencapai lebih dari 50 persen. Dengan demikian, mereka memiliki kekuatan untuk menentukan siapa yang bakal mengisi tampuk pimpinan sebuah wilayah. Bahkan dia memperkirakan kondisi yang kurang lebih sama bisa terjadi di Tulungagung.
Baca Juga: Bapaslon Pilkada Tulungagung Minim PDKT Anak Muda, Mahasiswa dan Pengusaha Muda Beri Pesan Menohok
“Para peserta pesta demokrasi pun harus memahami dan memiliki data pendukung mengenai demografi anak muda. Maka konsultan politik bisa berperan dalam mengarahkan paslon bersangkutan untuk menggarap. Namun jangan diarahkan ke forum yang didominasi kalangan tua, seperti lurah, kades, dan lain sebagainya. Komunikasinya harus berbasis mendatangi komunitas anak muda agar lebih cepat akrab,” tandasnya. ***
Editor : Dharaka R. Perdana