RADAR TULUNGAGUNG – Nama Gibran Rakabuming Raka kembali mencuri perhatian dalam peta politik nasional.
Wakil Presiden Indonesia 2024-2029 ini dinilai berpotensi menjadi kuda hitam Pilpres 2029, terlebih jika Presiden terpilih Prabowo Subianto berhalangan tetap selama masa jabatannya.
Pengamat politik yang hadir dalam diskusi Ruang Konsensus menyebut, posisi Gibran saat ini bukan hanya strategis secara politik, tapi juga memberi modal elektoral yang besar untuk melaju di Pilpres mendatang.
Baca Juga: Gibran Ungkap Fakta Mengejutkan: Kemenyan Indonesia jadi Rahasia Parfum Mewah Dunia
Dengan status sebagai putra Presiden Joko Widodo, Gibran membawa kombinasi pengaruh keluarga politik dan pengalaman eksekutif.
“Kalau skenario berhalangan tetap terjadi, otomatis Gibran naik menjadi presiden. Ini akan memberinya posisi start yang sangat diuntungkan untuk 2029,” ujar salah satu narasumber.
Sejak mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden, Gibran berhasil memecah polarisasi politik yang tajam antara pendukung Prabowo dan Jokowi.
Ia dianggap sebagai simbol kompromi politik yang mempertemukan dua kekuatan besar: Gerindra dan PDI Perjuangan.
Pengalaman memimpin Solo sejak 2021 juga menjadi catatan positif, meski masa jabatannya singkat sebelum maju ke Pilpres 2024, Gibran dinilai mampu menjaga stabilitas kota, menginisiasi program inovatif, dan memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi publik.
Baca Juga: Pilpres 2029, Prabowo: Kalau Program Saya Tidak Berhasil, Tidak Perlu Calonkan Saya
Kombinasi modal elektoral ini membuat banyak pihak percaya, jika diberi kesempatan memimpin secara nasional, Gibran akan sulit dibendung pada Pilpres 2029.
Skenario yang paling banyak dibicarakan adalah kemungkinan Gibran naik menjadi presiden lebih cepat dari jadwal.
Dalam sistem presidensial Indonesia, jika presiden berhalangan tetap, wakil presiden otomatis menggantikan posisi tersebut hingga akhir masa jabatan.
Bila ini terjadi di periode awal, Gibran akan memiliki waktu panjang untuk membangun citra, memperluas jaringan politik, dan mengukuhkan elektabilitasnya menjelang 2029.
Tak bisa dipungkiri, efek Jokowi akan terus melekat pada Gibran. Dukungan dari basis massa loyal Jokowi di berbagai daerah berpotensi tetap mengalir, apalagi jika ayahnya masih aktif memberi dukungan politik di belakang layar.
Baca Juga: Temui Bupati Tulungagung, Kaesang Pangarep: Tak Bicara Politik tapi Bahas Ikan Patin
Selain itu, jaringan kepala daerah, relawan, dan simpatisan yang dulu mengantarkan Jokowi ke kursi presiden kemungkinan akan diarahkan untuk memperkuat posisi Gibran di pentas politik nasional.
Di mata sebagian publik, Gibran adalah representasi generasi muda di politik nasional. Gayanya yang lugas, humoris, dan akrab dengan media sosial membuatnya mudah didekati oleh kelompok milenial dan Gen Z.
Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa popularitas di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas kepemimpinan. Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi Gibran untuk membuktikan diri.
Berdasarkan analisis politik yang berkembang, jika Gibran maju di Pilpres 2029 dengan status petahana, ia akan menjadi kandidat paling diperhitungkan.
Dukungan dari kelompok pro-Jokowi, potensi koalisi besar, dan posisi strategis di pemerintahan membuatnya berpeluang besar unggul.
Namun, peta politik bisa berubah sewaktu-waktu. Munculnya tokoh baru atau perubahan dinamika koalisi dapat memengaruhi kalkulasi. Meski begitu, banyak pengamat menilai Gibran tetap akan menjadi figur sentral yang harus diwaspadai oleh semua calon. ****
Editor : Dharaka R. Perdana