RADAR TULUNGAGUNG - Organ relawan Projo telah sukses menggelar Kongres III hari ini di Jakarta, menghasilkan keputusan penting bagi masa depan organisasi.
Hasil kongres memutuskan Budi Arie Setiadi kembali menjadi Ketua Umum Projo untuk periode lima tahun mendatang, yakni 2025-2030.
Terpilihnya kembali Budi Arie Setiadi sebagai pucuk pimpinan Projo ditetapkan secara aklamasi oleh seluruh peserta kongres.
Keputusan ini menunjukkan adanya kesepakatan bersama dan dukungan penuh dari seluruh anggota organisasi relawan tersebut.
Selain menjabat kembali sebagai Ketum, budi arie juga ditetapkan sebagai Ketua Formatur. Tugasnya adalah mengatur kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Projo yang akan datang.
Baca Juga: Terpilih Secara Aklamasi, Jairi Irawan Nakhoda Baru DPD Partai Golkar Tulungagung
Keputusan penetapan Budi Arie ini dibacakan oleh Freddy Damanik yang bertindak sebagai pimpinan sidang Kongres III.
Freddy lantas menanyakan kesepakatan tersebut, yang disambut setuju dan tepuk tangan meriah oleh peserta kongres.
Kongres III Projo yang menetapkan keputusan ini diselenggarakan selama dua hari penuh. Acara berlangsung dari tanggal 1 hingga 2 November 2025, bertempat di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.
Pengurus Projo dari seluruh Indonesia hadir untuk meramaikan dan berpartisipasi dalam perhelatan akbar ini.
Meskipun Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), batal hadir, beliau sempat menyampaikan pesannya melalui video kepada peserta kongres.
Setelah kembali terpilih, Budi Arie Setiadi mengungkapkan rencana besar terkait transformasi organisasi. Salah satu langkah transformatif yang akan diambil adalah kemungkinan mengubah logo Projo yang selama ini dikenal publik.
Budi Arie menjelaskan bahwa perubahan logo ini merupakan langkah penegasan bahwa Projo tidak mengultuskan individu tertentu.
Ia mengisyaratkan bahwa logo yang baru kemungkinan tidak lagi menampilkan wajah Presiden Jokowi.
Meski logo berencana diubah, Budi Arie memastikan nama organisasi akan tetap menggunakan nama Projo. Ia meluruskan pemahaman publik bahwa Projo sejatinya bukanlah singkatan dari Pro Jokowi.
Menurut Budi Arie, kata "Projo" berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kawi yang memiliki makna mendalam. Arti dari kata tersebut adalah "negeri" dan "rakyat".
Oleh karena itu, kaum Projo didefinisikan sebagai kaum yang mencintai negara dan rakyatnya. Langkah perubahan logo dan penegasan makna ini menjadi penanda babak baru bagi organisasi relawan tersebut.
Transformasi organisasi juga mencerminkan arah politik baru Projo yang kini cenderung merapat. Organisasi relawan ini menunjukkan sinyal kuat untuk mendukung penuh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Baca Juga: Sosok Agus Santosa, Ketua KONI Tulungagung Periode 2025-2029 yang Terpilih Secara Aklamasi
Budi Arie bahkan secara terbuka memberi sinyal kuat mengenai kemungkinan dirinya akan bergabung dengan Partai Gerindra.
Sinyal tersebut menandai pergeseran arah politik bagi organisasi yang sebelumnya sangat identik dengan Jokowi.
Pihak Gerindra melalui Dasco juga sudah merespons sinyal tersebut, menyatakan siap menampung gelombang relawan Projo.
Keputusan ini menunjukkan bagaimana Projo bersiap untuk memperkuat partai yang dipimpin oleh Prabowo Subianto.
Secara pribadi, Budi Arie Setiadi memiliki rekam jejak jabatan yang signifikan di kabinet Indonesia. Di masa pemerintahan Presiden Jokowi, ia pernah menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo).
Sementara itu, di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Budi Arie sempat mengisi posisi sebagai Menteri Koperasi. Ia juga pernah disebut sebagai Eks Menteri Koperasi.
Kehadirannya kembali sebagai Ketum Projo dengan mandat transformasi organisasi menunjukkan kesiapan Projo menyambut era politik yang baru.
Penetapan kembali Budi Arie secara aklamasi pada 2 November 2025 menjadi penentu arah gerak Projo lima tahun ke depan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana