Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Terbongkar! Ribuan Motor Listrik Berlogo BGN Masih Menganggur di Sentul, Diduga Terkait Kasus Mark Up Rp1 Triliun

M. Helmi Nurhisam • Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:45 WIB
Ribuan motor listrik BGN masih tersimpan di gudang Sentul sejak tiga bulan lalu dan diduga terkait kasus mark up Rp1 triliun.(Pinterest)
Ribuan motor listrik BGN masih tersimpan di gudang Sentul sejak tiga bulan lalu dan diduga terkait kasus mark up Rp1 triliun.(Pinterest)

Radar Tulungagung - Polemik dugaan korupsi pengadaan barang di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN) terus menjadi perhatian publik. Salah satu yang menyita perhatian adalah keberadaan ribuan motor listrik berlogo BGN yang hingga kini masih tersimpan di gudang kawasan Sentul, Bogor.

Kasus ini mencuat setelah Kejaksaan Agung mengungkap dugaan mark up atau penggelembungan harga dalam sejumlah proyek pengadaan yang diduga melibatkan tiga mantan pimpinan BGN. Salah satu proyek yang disorot adalah pengadaan 21.801 unit motor listrik dengan nilai anggaran mencapai lebih dari Rp1 triliun.

Selain motor listrik, penyidik juga menelusuri pengadaan 31.994 unit tablet, 31.994 pasang sepatu, serta 5.400 unit televisi berukuran 75 inci yang diduga turut mengalami penggelembungan harga.

Baca Juga: Murah Tapi Fitur Melimpah, Indomobil eMotor Quty Pro Punya NFC, TCS dan HSA, Jarak Tempuh Tembus 135 Km

Terparkir di Gudang PT EMO Electric Mobility

Ribuan motor listrik tersebut diketahui berada di fasilitas milik PT EMO Electric Mobility yang berada di kawasan industri Sentul, Kabupaten Bogor.

Dari luar area gudang, tampak ratusan hingga ribuan motor berjajar rapi. Sebagian besar kendaraan masih dalam kondisi baru dengan plastik pelindung yang masih menempel pada bodi.

Motor-motor tersebut juga ditutupi jaring hitam untuk melindungi kendaraan dari cuaca. Meski tidak diizinkan masuk ke area gudang, keberadaan logo BGN pada bodi kendaraan terlihat jelas dari luar pagar.

Baca Juga: Bulan Sura di Tebing Cemundil Kalibatur Tulungagung, Tradisi Warga yang Dongkrak Wisata dan UMKM Desa

Terdapat Motor Trail dan Skuter Matik

Dari pengamatan di lokasi, kendaraan yang tersimpan terdiri dari dua tipe, yakni motor bergaya trail dan skuter matik.

Kedua jenis motor tersebut dipersiapkan sebagai sarana operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah. Namun hingga kini kendaraan tersebut belum didistribusikan.

Kondisi kendaraan yang masih terbungkus plastik menunjukkan bahwa motor-motor itu belum pernah digunakan sejak tiba di gudang.

Sudah Mengendap Sejak Setelah Lebaran

Seorang warga sekitar yang ditemui di lokasi menyebut motor-motor tersebut telah berada di kawasan gudang sejak usai Hari Raya Idulfitri.

Menurutnya, kendaraan itu sudah tersimpan sekitar tiga bulan. Pada awalnya motor dibiarkan terbuka sebelum akhirnya ditutupi pelindung agar tidak terkena hujan dan angin.

"Sejak habis Lebaran, sudah sekitar tiga bulanan. Awalnya terbuka, sekarang ditutup supaya tidak kehujanan," ujarnya.

Ia juga membenarkan bahwa motor yang berada di lokasi memiliki tulisan atau logo BGN pada bagian bodinya.

Kejaksaan Agung Masih Lakukan Pendalaman

Keberadaan ribuan motor listrik yang belum dimanfaatkan ini semakin menambah perhatian terhadap kasus dugaan korupsi di tubuh BGN.

Kejaksaan Agung masih mendalami dugaan mark up dalam berbagai proyek pengadaan tersebut. Hingga kini belum ada penjelasan resmi terkait alasan motor-motor listrik tersebut masih tersimpan di gudang dan belum dikirim ke SPPG yang menjadi tujuan penggunaannya.

Sementara itu, pihak perusahaan maupun pengelola gudang belum memberikan keterangan resmi saat dimintai konfirmasi oleh awak media.

Editor : M. Helmi Nurhisam
#motor listrik sppg #Motor listrik BGN #Dugaan mark up BGN #Motor listrik Sentul #Proyek motor listrik Rp1 triliun