TULUNGAGUNG - Peserta RaTu Film Festival (RFF) 2026 memiliki cara berbeda dalam menerjemahkan tema Atmorasia ke dalam karya. Tim CINEMA BOY dari SMABOY MADKru memilih kehidupan masyarakat desa dan tradisi pintan sebagai bagian utama film berjudul “Getun”.
Bagi SMABOY MADKru, RFF 2026 bukan pengalaman pertama mengikuti festival. Namun, bagi kru dan generasi baru CINEMA BOY, festival tahun ini menjadi debut mereka.
Tema Atmorasia yang dinilai memiliki makna luas memberi ruang bagi tim untuk mengeksplorasi cerita dari sudut pandang masing-masing. CINEMA BOY kemudian memilih kehidupan masyarakat desa sebagai latar cerita yang dekat dengan keseharian.
Perwakilan CINEMA BOY, Cakka Raditia Dwi Anggara, mengatakan berbagai karakter yang kerap ditemui di lingkungan masyarakat turut dihadirkan dalam film. Mulai ibu-ibu sosialita hingga bapak-bapak yang digambarkan sebagai bos besar.
Baca Juga: Tiba-Tiba Cinema Kembali Adu Karya di RaTu Film Festival (RFF) 2026
“Proses syuting menjadi bagian paling menarik bagi tim. Para kru dan pemain mencoba mendalami karakter masing-masing agar suasana yang dibangun dalam film terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sebenarnya,” jelasnya.
Proses produksi film “Getun” tidak selalu berjalan mudah. Salah satu tantangannya muncul ketika tim harus menuju Gua Jutul di Campurdarat yang menjadi salah satu lokasi pengambilan gambar.
Medan menuju lokasi cukup sulit. Kru harus melewati perbukitan dan jalan yang curam untuk mencapai tempat tersebut.
Perjalanan itu bahkan membuat beberapa kru sempat tergelincir dan terjatuh. Namun, rasa lelah selama perjalanan terbayar setelah mereka tiba di lokasi dan melihat keindahan Gua Jutul.
Baca Juga: Kisah BeDe Motion di RaTu Film Festival 2026, Belajar Kompak dalam Produksi Film
“Pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita yang berkesan selama proses produksi,” ungkapnya.
Selain Gua Jutul, adegan tahlilan dan rewang juga menjadi bagian dari proses produksi. Para aktor dinilai mampu masuk ke karakter yang telah dibangun sehingga suasana film terasa dekat dengan kehidupan masyarakat sebenarnya.
Namun, bagi CINEMA BOY, hal yang paling dibanggakan justru pilihan objek utama dalam film, yakni pintan.
Pintan merupakan tradisi persembahan untuk almarhum atau almarhumah saat acara tahlilan. Tradisi tersebut dipilih karena dinilai memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat di sekitar Tulungagung.
“Menurut kami, tradisi ini merupakan ciri khas masyarakat sekitar Tulungagung. Kami berharap pintan dapat menjadi wajah utama tema RFF 2026,” ujar Cakka.
Pilihan tersebut sekaligus menjadi cara CINEMA BOY menerjemahkan tema Atmorasia melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kehidupan desa, karakter warga, hingga tradisi yang masih ditemui dalam keseharian menjadi bagian dari cerita yang mereka bangun.
Baca Juga: Perdana Ikut RFF 2026, HereWeGoPeeps Belajar Kerja Tim hingga Manajemen Waktu
Di balik proses kreatif itu, para anggota CINEMA BOY juga mendapatkan pembelajaran mengenai kerja sama dalam tim. Cakka mengakui sempat muncul berbagai gangguan selama produksi akibat emosi yang meluap.
Kondisi tersebut justru menjadi pembelajaran bagi seluruh anggota untuk lebih mampu mengendalikan diri. Kesabaran kemudian dianggap sebagai salah satu hal penting dalam menyelesaikan karya bersama.
“Setiap proses, baik menyenangkan maupun kurang menyenangkan, merupakan bagian menuju hasil yang diharapkan. Karena itu, kesabaran menjadi salah satu hal penting dalam menyelesaikan sebuah karya secara bersama-sama,” tuturnya.
Melalui “Getun”, CINEMA BOY ingin mengajak penonton lebih menghargai tradisi dan berbagai hal kecil yang telah terbangun di lingkungan masyarakat.
Menurut mereka, setiap tradisi memiliki tujuan dan nilai yang perlu dipahami sebelum dinilai dari sudut pandang berbeda. Pesan tersebut menjadi bagian yang ingin mereka sampaikan melalui karya di RFF 2026.
“Setiap tradisi, setiap hal di dunia ini, pasti memiliki tujuan yang baik. Penting bagi kita untuk menghargai setiap hal kecil yang telah terbangun,” jelasnya.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri