TULUNGAGUNG - Persiapan matang tak selalu berjalan sesuai rencana ketika kamera mulai dinyalakan.
Pengalaman tersebut dirasakan tim TOMBRO WIDODO saat menjalani produksi karya untuk RaTu Film Festival (RFF) 2026.
Sebagai peserta debutan, mereka justru mendapat tantangan ketika harus mengubah koreografi fighting secara spontan di lokasi syuting.
Rencana adegan perkelahian yang telah disiapkan beberapa hari sebelumnya tidak dapat diterapkan setelah tim melihat kondisi lokasi yang dipenuhi batu.
Tombro Widodo mengaku RFF 2026 menjadi pengalaman pertama bagi timnya.
Tema yang diberikan panitia dinilai cukup menantang sekaligus unik sehingga menarik untuk diolah menjadi sebuah karya.
Meski sebagian anggota tim sudah terbiasa menggunakan kamera, mengikuti RFF tetap memberikan pengalaman baru.
Proses produksi juga relatif mudah dari sisi koordinasi karena tidak melibatkan terlalu banyak orang.
"Proses produksi dilakukan dengan koordinasi yang relatif mudah karena tidak melibatkan terlalu banyak orang," terangnya saat dikonfirmasi, Jumat (2/10).
Kendala terbesar tim muncul ketika menerjemahkan tema RFF ke dalam cerita yang sesuai dengan petunjuk teknis (juknis).
Sementara dari sisi peralatan, kebutuhan produksi disebut cukup lengkap.
Tantangan paling rumit terjadi saat pengambilan adegan perkelahian di kawasan Wajakensis.
Koreografi stunt yang telah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya terpaksa dibatalkan karena kondisi lokasi tidak memungkinkan.
Batu-batu di lokasi membuat sejumlah gerakan berisiko dilakukan.
Adegan bantingan maupun gerakan yang dilakukan di atas tanah dinilai tidak memungkinkan untuk diterapkan dengan aman.
"Tim akhirnya harus menyusun koreografi baru secara langsung di lokasi agar adegan tetap bisa direkam," katanya.
Perubahan tersebut membuat tim harus beradaptasi dengan cepat.
Rencana yang telah disusun sebelumnya tidak bisa dipaksakan sehingga koreografi disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Bagi TOMBRO WIDODO, kendala tersebut justru menjadi salah satu pengalaman penting selama mengikuti RFF 2026.
Mereka belajar bahwa proses produksi film tidak cukup hanya mengandalkan persiapan sebelum syuting.
Kemampuan beradaptasi dan kerja sama antarpersonel menjadi bagian penting ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai rencana.
Hal itu terutama terasa saat tim harus mencari alternatif agar adegan tetap dapat direkam tanpa menghilangkan tujuan cerita.
“Proses membuat film membutuhkan persiapan, adaptasi, dan kerja sama tim yang baik,” ungkapnya.
Scene perkelahian kemudian menjadi salah satu bagian yang paling dibanggakan tim.
Selain membutuhkan proses panjang, adegan tersebut menunjukkan kemampuan mereka mengubah rencana ketika menghadapi kondisi lokasi yang berbeda dari perkiraan.
Melalui karya yang dibuat untuk RFF 2026, TOMBRO WIDODO berharap pesan dan pengalaman yang dituangkan dapat dirasakan penonton.
Sebagai peserta baru, mereka juga berharap RFF terus berkembang dan menjadi ruang bagi lebih banyak kreator untuk berkarya sekaligus belajar bersama.(sri)
Editor : Vidya Sajar Fitri