Debut Jurnareta di RFF 2026, Keterbatasan Alat Jadi Pengalaman Belajar Sinematografi

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 09:48 WIB
Tim Jurnareta saat menjalani proses produksi film dalam RaTu Film Festival (RFF) 2026. Keikutsertaan perdana di RFF menjadi ruang belajar bagi mereka untuk mendalami sinematografi sekaligus mengasah kreativitas lewat keterbatasan peralatan.
Tim Jurnareta saat menjalani proses produksi film dalam RaTu Film Festival (RFF) 2026. Keikutsertaan perdana di RFF menjadi ruang belajar bagi mereka untuk mendalami sinematografi sekaligus mengasah kreativitas lewat keterbatasan peralatan.

TULUNGAGUNG - RaTu Film Festival (RFF) 2026 menjadi pengalaman perdana bagi tim Jurnareta. Meski baru pertama mengikuti festival film tersebut, proses produksi menjadi ruang belajar bagi anggota tim untuk mengenal lebih jauh dunia sinematografi.

Perwakilan Jurnareta, Luthfia Salsa Billah Zahra, mengatakan tema RFF 2026 memberikan tantangan tersendiri bagi tim. Menurutnya, proses membuat film tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mencoba berbagai hal baru selama pengambilan gambar.

“Menarik dan menantang,” ujar Luthfia saat menceritakan kesan mereka terhadap tema RFF tahun ini.

Pengalaman yang paling menarik bagi Jurnareta justru muncul ketika proses take. Berbagai hal baru dicoba selama produksi sehingga setiap pengambilan gambar memberikan pengalaman tersendiri bagi anggota tim.

Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan mulus. Keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi Jurnareta selama membuat film.

Baca Juga: The Breaker Rules Empat Kali Ikut RFF, Eksplorasi Wajakensis Jadi Pengalaman Berkesan

Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat tim untuk menyelesaikan karya. Mereka tetap berusaha menyesuaikan proses produksi dengan peralatan yang tersedia.

Selain persoalan teknis, sejumlah kejadian tak terduga juga muncul selama proses syuting. Salah satunya ketika tim lupa membawa beberapa properti yang dibutuhkan untuk pengambilan gambar.

Ada pula adegan yang justru memunculkan momen lucu selama proses produksi. Berbagai kejadian tersebut akhirnya menjadi bagian dari pengalaman yang berkesan bagi Jurnareta dalam mengikuti RFF 2026.

“Berbagai pengalaman tersebut justru menjadi bagian yang berkesan selama mengikuti RFF 2026,” ungkapnya sambil tersenyum.

Bagi Jurnareta, seluruh bagian film yang telah dibuat menjadi sesuatu yang patut dibanggakan. Setiap tahapan produksi memberikan kesempatan kepada anggota tim untuk mencoba sekaligus memahami proses pembuatan film.

Baca Juga: Debut TOMBRO WIDODO di RFF 2026, Koreografi Fighting Diubah Spontan di Lokasi

Pengalaman tersebut membuat mereka dapat mempelajari sinematografi secara lebih mendalam. Hal-hal yang sebelumnya belum mereka kenal menjadi bagian dari proses belajar ketika harus menerapkannya secara langsung dalam produksi.

Selain menghasilkan karya, pengalaman pertama di RFF 2026 juga membuka kesempatan bagi Jurnareta untuk mengembangkan kemampuan di bidang film. Tantangan selama produksi menjadi bagian dari proses yang dapat mereka jadikan bekal untuk karya berikutnya.

Melalui film tersebut, Jurnareta ingin menyampaikan pesan mengenai pentingnya peran keluarga, guru, dan teman dalam perjalanan pendidikan. Dukungan dari lingkungan terdekat dinilai menjadi bagian penting dalam membantu seseorang tumbuh dan berkembang.

Sebagai peserta yang baru pertama mengikuti RFF, Jurnareta berharap pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman sekali jadi. Mereka ingin terus mengembangkan kemampuan, khususnya dalam bidang sinematografi, agar dapat menghasilkan karya yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.(sri)

Editor : Vidya Sajar Fitri
rff 2026 film pelajar jurnareta sinematografi ratu film festival