Smariduta Visual Art di RFF 2026, Angkat Kisah Kakak-Adik Tunadaksa dan Makna Kasih Sayang

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 09:15 WIB

Tim Smariduta Visual Art saat menjalani proses produksi film untuk RFF 2026. Pendalaman karakter dan riset menjadi bagian penting dalam mengangkat kisah perjuangan penyandang tunadaksa melalui karya mereka.

Tim Smariduta Visual Art saat menjalani proses produksi film untuk RFF 2026. Pendalaman karakter dan riset menjadi bagian penting dalam mengangkat kisah perjuangan penyandang tunadaksa melalui karya mereka.

TULUNGAGUNG - Kisah kakak dan adik tunadaksa yang yatim piatu menjadi cerita utama yang diangkat Smariduta Visual Art (SVA) dalam RaTu Film Festival (RFF) 2026. Melalui karya tersebut, mereka ingin menyampaikan bahwa keterbatasan fisik tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk menemukan dan menjalani passion.

Film itu tidak hanya menyoroti perjuangan menjalani kehidupan dengan keterbatasan fisik. SVA juga membawa pesan tentang hak setiap orang untuk mengembangkan kemampuan serta pentingnya memberikan ruang bagi orang yang disayangi agar dapat tumbuh dan mandiri.

Perwakilan SVA, Ismi, mengungkapkan bahwa tema RFF 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi tim. Cakupan tema yang dinilai cukup umum membuat mereka perlu berdiskusi dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan sebelum menemukan cerita yang dianggap sesuai dengan tema ATMORASIA.

Setelah menemukan cerita, SVA menghadapi tantangan untuk membangun karakter dan suasana yang sesuai dengan kisah yang diangkat. Tim berupaya membangun chemistry serta mendalami karakter, khususnya pemeran sang adik yang digambarkan sebagai penyandang tunadaksa.

Baca Juga: Debut di RFF 2026, RebelD Tertantang Bedah Tema yang Sangat Luas

Proses tersebut dilakukan melalui riset dan diskusi dengan penulis cerita. Tim berusaha memahami perjuangan penyandang tunadaksa agar pesan yang disampaikan melalui film dapat terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.

“Dari situ, kami menjadi lebih bisa merasakan perjuangan teman-teman tunadaksa menjalani kehidupan yang luar biasa,” ujar Ismi.

Proses produksi sekaligus menjadi pengalaman baru bagi sebagian besar anggota SVA. Mayoritas anggota belum memiliki pengalaman membuat film secara langsung sehingga mereka harus mengikuti pelatihan selama beberapa hari sebelum menjalani proses produksi.

Berbagai kendala teknis juga muncul saat syuting. Tim sempat menghadapi barang yang hilang akibat keteledoran, anggota yang belum siap ketika pengambilan gambar, hingga gangguan peralatan seperti mikrofon dan kartu memori yang penuh.

Baca Juga: Debut Jurnareta di RFF 2026, Keterbatasan Alat Jadi Pengalaman Belajar Sinematografi

Di tengah keseriusan produksi, sejumlah kejadian justru menjadi kenangan lucu bagi anggota SVA. Dini dan Feby, misalnya, tidak sengaja menjatuhkan kue kering saat syuting, padahal benda tersebut masih menjadi bagian dari adegan yang mereka mainkan.

Aksi Zaki yang memerankan karakter orang asing juga kerap mengundang tawa kru. Momen-momen tersebut menjadi selingan di tengah proses produksi yang membutuhkan konsentrasi dan persiapan.

Pengalaman tak terlupakan lainnya terjadi ketika tim hendak menuju Monumen Wajakensis untuk syuting. Salah seorang anggota, Resta, salah membaca peta sehingga rombongan justru tersasar ke kawasan tambang marmer dan sempat naik ke atas bukit.

Di luar kejadian tersebut, proses produksi mengajarkan mereka bahwa pembuatan film membutuhkan persiapan panjang. Tim harus menyiapkan shotlist, script report, hingga melakukan reading script selama dua hari sebelum adegan dieksekusi.

“Persiapan seperti pembuatan shotlist, script report, hingga reading script selama dua hari menjadi hal baru yang membuat kami memahami bahwa sebuah film membutuhkan proses panjang sebelum akhirnya dieksekusi,” tutur Resta.

Baca Juga: The Breaker Rules Empat Kali Ikut RFF, Eksplorasi Wajakensis Jadi Pengalaman Berkesan

Melalui film di RFF 2026, SVA ingin menegaskan bahwa penyandang tunadaksa memiliki hak yang sama untuk mencari dan mengembangkan keahlian. Keterbatasan fisik tidak semestinya menjadi alasan untuk menutup kesempatan seseorang dalam menjalani passion yang dimiliki.

Selain tentang kesempatan dan kemandirian, film tersebut juga membawa pesan mengenai kasih sayang. Menurut gagasan yang ingin disampaikan melalui cerita, menyayangi seseorang tidak selalu berarti mengambil alih seluruh tanggung jawabnya.

Memberikan ruang kepada orang yang disayangi untuk belajar bertanggung jawab, tumbuh, dan berkontribusi dengan caranya sendiri juga merupakan bentuk kepedulian.

Pesan itulah yang ingin ditinggalkan SVA kepada penonton. Melalui kisah kakak dan adik tunadaksa, mereka berharap penonton tidak hanya melihat keterbatasan fisik sebagai bagian utama cerita, tetapi juga memahami pentingnya kesempatan, kemandirian, dan dukungan bagi setiap orang untuk menjalani hidupnya.(sri)

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
rff 2026 smariduta visual art tunadaksa film pendek ratu film festival