After Frame di RFF 2026 Angkat Perundungan dan Hilangnya Empati di Sekolah

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:21 WIB
Tim After Frame menggarap film untuk RaTu Film Festival (RFF) 2026 dengan mengangkat persoalan perundungan di lingkungan sekolah. Melalui karyanya, mereka ingin menumbuhkan empati dan mengajak pelajar berani membela teman yang menjadi korban perundungan.
Tim After Frame menggarap film untuk RaTu Film Festival (RFF) 2026 dengan mengangkat persoalan perundungan di lingkungan sekolah. Melalui karyanya, mereka ingin menumbuhkan empati dan mengajak pelajar berani membela teman yang menjadi korban perundungan.

TULUNGAGUNG - Perundungan di lingkungan sekolah tidak hanya berkaitan dengan tindakan pelaku, tetapi juga sikap orang-orang yang memilih diam saat melihat temannya menjadi korban. Persoalan hilangnya empati tersebut menjadi pesan yang diangkat tim After Frame melalui karya film mereka dalam RaTu Film Festival (RFF) 2026.

Perwakilan tim After Frame, Gabrielle Wahyu, mengatakan keikutsertaan tahun ini menjadi kesempatan bagi tim untuk menunjukkan kemampuan yang sebelumnya belum bisa dimaksimalkan. Pada penyelenggaraan tahun lalu, kesibukan sekolah membuat mereka belum dapat menggarap karya secara optimal.

Untuk RFF 2026, tim mempersiapkan karya dengan antusiasme lebih besar. Mereka memilih persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi Z, khususnya dinamika pergaulan di lingkungan sekolah, agar pesan film lebih mudah dipahami penonton.

After Frame menyoroti bagaimana lingkungan yang terasa menakutkan tidak selalu terbentuk karena teknologi, algoritma, atau sistem pengawasan. Sikap pasif ketika menyaksikan perundungan dan hilangnya kepedulian terhadap sesama juga dapat memperburuk keadaan.

Melalui film tersebut, mereka ingin mengajak penonton lebih peka terhadap situasi di sekitarnya. Keberanian untuk membela teman yang mengalami perundungan dinilai penting untuk membangun lingkungan sekolah yang lebih aman.

Baca Juga: Debut di RFF 2026, SPECTRA Angkat Pesan Persahabatan di Tengah Perbedaan

Proses produksi film juga memberikan pengalaman tersendiri bagi para anggota tim. Salah satu bagian yang paling berkesan adalah ketika mereka melakukan pengambilan gambar atau take scene dengan melibatkan warga sekolah.

“Serunya saat proses take scene. Itu cukup menantang bagi tim, tetapi kami merasa seru karena bisa melibatkan warga sekolah juga,” kata Gabrielle.

Keterlibatan pemeran dari luar tim menjadi tantangan tersendiri. Mereka harus menyesuaikan kebutuhan adegan agar suasana yang ingin dibangun dalam film dapat tersampaikan dengan baik.

Meski begitu, dukungan guru dan teman-teman di sekolah menjadi pengalaman positif selama produksi. Kehadiran para aktor yang mampu mencairkan suasana juga membantu menjaga semangat tim ketika menjalani proses pengambilan gambar.

Keikutsertaan dalam RFF 2026 tidak hanya menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan sosial, tetapi juga ruang belajar bagi After Frame dalam mengembangkan keterampilan produksi film.

Mereka mempelajari berbagai aspek teknis, mulai dari pengaturan kamera, penataan audio, penyuntingan suara, hingga color grading. Keterampilan tersebut diperlukan untuk membangun suasana dan mendukung penyampaian cerita melalui gambar maupun suara.

Baca Juga: ANTICANCEL 2 di RFF 2026, Angkat Kisah Tulang Punggung Keluarga yang Butuh Dukungan

Pengalaman juga diperoleh sejak tahap praproduksi. Penyusunan naskah, storyboard, dan shot list menjadi bagian penting dalam merencanakan adegan sebelum proses pengambilan gambar dimulai.

Dengan persiapan tersebut, tim dapat memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan setiap adegan. Proses pengambilan gambar pun diharapkan berjalan lebih terarah dan efisien.

Bagi After Frame, pengalaman mengikuti festival film menjadi kesempatan untuk memahami bahwa pembuatan film membutuhkan kerja sama, perencanaan, dan penguasaan keterampilan yang terus dikembangkan.

Pesan utama yang ingin disampaikan After Frame adalah pentingnya empati dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika berhadapan dengan perundungan. Mereka ingin penonton memahami bahwa membiarkan tindakan tersebut terjadi tanpa berbuat apa-apa juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Di tengah kehidupan generasi muda yang semakin dekat dengan dunia digital, tim berharap film mereka dapat mendorong penonton untuk lebih berani membela sesama dan ikut menciptakan lingkungan yang aman.

Ke depan, After Frame ingin terus mengembangkan kemampuan dalam produksi film dan membawa karya mereka ke kompetisi lain. Mereka berharap kesempatan tersebut dapat membuka jalan untuk berpartisipasi dalam festival film hingga tingkat nasional.(sri)

Editor : Vidya Sajar Fitri
after frame rff 2026 film pendek pelajar perundungan di sekolah kreator film tulungagung ratu film festival