Radar Tulungagung - Sandal terompah atau Bangkiyak merupakn salah satu bentuk alas kaki tradisional yang pernah populer di Indonesia, terutama pada era sebelum dan sesudah kemerdekaan.
Sandal terompah ini terbuat dari kayu sebagai bahan utama, terompah tidak hanya berfungsi sebagai alas kaki, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal dan budaya masyarakat tempo dulu.
Asal Usul dan Sejarah
Terompah berasal dari kebudayaan Melayu dan juga dipengaruhi oleh unsur-unsur Timur Tengah dan Asia Selatan.
Di Indonesia, terompah banyak digunakan di pesantren, masjid, dan rumah-rumah tradisional.
Umumnya, terompah digunakan oleh laki-laki saat akan ke tempat ibadah atau di sekitar rumah.
Pada masa dahulu, masyarakat memproduksi terompah secara manual dengan menggunakan kayu keras seperti kayu waru atau kayu jati.
Bagian atasnya dilengkapi dengan ikatan dari kulit atau kain, sementara bagian bawahnya rata dan keras, menghasilkan suara khas ketika dipakai berjalan.
Makna Budaya
Sandal terompah memiliki nilai simbolik yang kuat. Dalam konteks keagamaan, penggunaannya menunjukkan kesederhanaan dan kerendahan hati.
Terompah juga sering dianggap lebih, suci, karena mudah dilepas dan tidak menyentuh tanah secara langsung seperti sepatu tertutup.
Ciri khas terompah terletak pada bentuknya yang sederhana, datar, dan terbuat dari kayu keras.
Beberapa jenis terompah memiliki keunikan pada ukiran sederhana sebagai hiasan. Warna alami kayu dipertahankan atau diberi sedikit warna coklat atau hitam agar terlihat bersih dan tahan lama.
Beberapa terompah zaman dulu juga dibuat dengan model yang sedikit melengkung di bagian depan untuk mengikuti bentuk kaki, meski tetap terasa kaku saat digunakan.
Seiring perkembangan zaman dan hadirnya alas kaki modern seperti sandal karet dan sepatu, popularitas terompah mulai menurun.
Kini, terompah lebih banyak ditemukan sebagai koleksi barang antik, digunakan untuk dekorasi, atau dijual sebagai oleh-oleh khas budaya lokal.
Namun, beberapa komunitas masih mempertahankan penggunaannya dalam konteks keagamaan dan tradisi, terutama di daerah-daerah pedesaan atau dalam kegiatan kebudayaan.(Lia)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz