Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Upacara Adat Ulur-Ulur jadi Daya Pikat, Masyarakat Tulungagung Harapkan Perhatian Khusus dari Pemkab

Aditya Yuda Setya Putra • Senin, 12 Mei 2025 | 00:03 WIB
Salah satu proses upacara adat Ulur-Ulur di Telaga Buret, Jumat (9/5).
Salah satu proses upacara adat Ulur-Ulur di Telaga Buret, Jumat (9/5).

 

Di balik hamparan hitan rimbun yang menghijau, Telaga Buret di Desa Ngentrong, Kecamatan Campurdarat menyimpan kekayaan alam berupa sumber air yang melimpah. Sebagai bentuk syukur, masyarakat desa sekitar secara-turun temurun menggelar upacara adat Ulur-Ulur.

Jumat 9 Mei lalu, warga Desa Ngentrong dan sekitarnya memadati area pelataran Telaga Buret. Sejak pagi, masyarakat berdatangan membawa ambeng berupa nasi lengkap dengan lauk ayam kampung sebagai bagian dari tasyakuran.

Suasana syahdu bercampur haru ketika satu per satu ambeng yang jumlahnya mencapai ratusan disusun rapi oleh warga, khususnya para pemilik sawah dan pelaku usaha lokal.

Di tengah prosesi yang berlangsung hangat dan penuh kekhidmatan itu, Kepala Desa Ngentrong, Samuji, mngungkapkan makna mendalam dari tradisi ini.

“Air di sini tidak pernah surut, meski kemarau panjang datang. Inilah bentuk syukur kami,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan air bukan sekadar soal kebutuhan, tapi juga kepercayaan dan juga bentuk rahmat dan berkah dari Sang Pencipta.

Setelah doa bersama, warga bergerak menuju Telaga Ngembel, sumber kehidupan sekaligus pusat spiritual desa.

Arak-arakan dilakukan dengan penuh penghormatan, dipimpin oleh para sesepuh, tokoh masyarakat, dan para petani yang setiap hari bergantung pada air dari telaga tersebut.

“Telaga ini bukan sekadar sumber air, melainkan juga saksi sejarah dan pusat spiritual kami. Bahkan terkait dengan pusaka Tombak Kyai Upas dari legenda Baru Klinting,” tutur Samuji.

Tombak tersebut dipercaya sebagai pusaka keramat, simbol kekuatan dan perlindungan, dan bahkan disebut-sebut sebagai lambang yang dijunjung tinggi oleh Kabupaten Tulungagung.

Meski penuh makna, tradisi ulur-ulur belum sepenuhnya mendapat sorotan atau dukungan dari pemerintah kabupaten.

Itu sebabnya, Samuji berharap ada perhatian khusus dari Pemkab Tulungagung agar ucara adat ini tetap lestari. Itu sebabnya pemkab bakal memberi perhatian khusus agar tradisi yang hanya ada di Tulungagung ini tak tergerus zaman.

Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo menekankan pentingnya menjaga warisan budaya lelulur ini.

“Dan kegiatan tradisi ini sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda atau WBTB pada Tahun 2020 lalu. Maka Pemerintah Kabupaten Tulungagung akan senantiasa mendukung terselenggaranya kegiatan ini, baik secara materiil maupun moril,” tegasnya.

Editor : Aditya Yuda Setya Putra
#upacara adat ulur ulur #ulur ulur #tulungagung #Pemkab Tulungagung #ulur ulur tulungagung