TULUNGAGUNG - Saat ini kualitas produksi film Indonesia sudah mengalami perkembangan yang cukup signifikan, mulai dari pengambilan gambar, penulisan naskah, editing, dan pewarnaan atau yang biasa disebut color grading.
Namun bagaimana jadinya kalau sebuah film Indonesia masih menerapkan pewarnaan hitam putih di masa kini?. Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan film karya Yandy Laurens yang berjudul "Jatuh Cinta Seperti di Film-Film" yang dirilis pada 30 November 2023.
Film ini menceritakan tentang seorang penulis naskah film bernama Bagus yang sedang jatuh cinta dengan teman lamanya, Hana. Bagus dengan cerdiknya berniat mengungkapkan perasaan cintanya kepada Hana melalui naskah film untuk dijadikan skenario film.
Namun di lain sisi Hana masih berduka karena suaminya baru saja meninggal dunia. Dengan perasaan yang masih berduka, Hana masih belum bisa move on lalu merasa emosi dan sulit menerima cinta dari Bagus.
Film ini berani tampil beda di masa kini dimana 80% film ini menggunakan pewarnaan hitam putih ala film klasik. Selain pewarnaan hitam putih, film ini cukup berani tampil beda dengan menghadirkan genre romance komedi dengan karakter utama yang sudah berumur 40 tahunan.
Awalnya saya masih meragukan film ini karena sutradara film ini, Yandy laurens yang belum familiar dengan karya film populer di Indonesia.
Namun setelah saya menonton film ini, semua keraguan saya terpatahkan. Satu kata untuk film ini "Jenius".
Saya akhirnya bisa mengerti mengapa film ini menerapkan format pewarnaan hitam putih. Di akhir film dijelaskan suatu alasan yang cukup masuk akal mengapa film ini menerapkan format pewarnaan hitam putih.
Namun saya tidak bisa menjelaskan alasannya disini karena akan mengandung spoiler yang akan mengurangi kenyamanan saat menonton filmnya.
Walaupun menerapkan format pewarnaan hitam putih, penonton akan tetap merasa nyaman karena kualitas penulisan naskah, music scoring dan pengambilan gambar dalam film ini sangat brilian dan elegan.
Film ini menerapkan metode penulisan yang sering disebut dengan "8 sequence". Metode 8 sequence ini bahkan juga bisa diterapkan untuk penulisan selain naskah film, seperti karya ilmiah, karya fiksi dan karya penelitian.
Selain penulisan, film ini juga mengajarkan tentang cara produksi film mulai pengambilan gambar, penataan posisi, dan manajemen kru pembuatan film.
Untuk pemilihan karakter yang sudah dewasa berumur 40 tahunan juga dirasa sangat pas. Ini menunjukkan bahwa genre romance tidak perlu cinta - cintaan yang berlebihan ala drama anak muda.
Pemilihan karakter yang sudah dewasa ini justru terasa lebih dekat dengan penonton karena sangat realistis dengan kehidupan nyata.
Yang cukup menarik di film ini juga menyiratkan berbagai selipan komedi tentang perfilman di Indonesia dan pasti relate dengan penonton film awam. Porsi komedi dalam film ini pun tidak berlebihan dan dirasa pas.
Komedi dalam film ini juga sangat khas ala produser film ini, yaitu Ernest Prakasa yang dulunya juga merupakan pelopor stand up comedy di Indonesia.
Film ini juga memenangkan 7 penghargaan pada acara Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 2024. Berikut adalah daftar penghargaan yang dimenangkan:
1. Film Cerita Panjang Terbaik
2. Penulis Skenario Asli Terbaik: Yandy Laurens
3. Pencipta Lagu Tema Terbaik: Donne Maulana – Bercinta Lewat Kata
4. Pemeran Utama Pria Terbaik: Ringgo Agus Rahman
5. Pemeran Utama Perempuan Terbaik: Nirina Zubir
6. Pemeran Pendukung Pria Terbaik: Alex Abbad
7. Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik: Sheila Dara Aisha
Walaupun di bioskop nasional hanya mendapat lebih dari 600.000 penonton, film ini sangat layak untuk ditonton seluruh masyarakat Indonesia, setidaknya sekali dalam seumur hidup. Film ini dapat ditonton di Netflix. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah