TULUNGAGUNG-Tedhak Siten adalah salah satu tradisi turun-temurun masyarakat Jawa yang sarat makna dan nilai kehidupan.
Tradisi Tedhak Siten ini dilakukan saat seorang anak menginjak usia 245 hari, ketika ia dianggap siap menapakkan kaki di tanah untuk pertama kalinya.
Dalam prosesi Tedhak Siten, berbagai perlengkapan digunakan.
Masing-masing perlengkapan mengandung simbol, harapan, dan ajaran moral masyarakat Jawa.
Berikut perlengkapan upacara Tedhak Siten dan maknanya bagi masyarakat Jawa.
1. Tumpeng
Tumpeng adalah sajian utama dalam selamatan Tedhak Siten, berbentuk kerucut dari nasi kuning lengkap dengan lauk-pauk, seperti ayam lodho.
Sajian ini melambangkan doa dan harapan orang tua kepada Tuhan agar sang anak kelak tumbuh dalam keberkahan dan dikelilingi oleh hal-hal baik.
Sementara ayam lodho pada tumpeng melambangkan kekuatan, harapan agar anak memiliki ketangguhan dalam menghadapi hidup.
Baca Juga: Mengungkap Makna dan Tradisi dalam Ayam Lodho di Berbagai Upacara Adat Jawa
2. Bokor
Bokor adalah wadah berbahan logam yang diisi air dan bunga setaman. Air ini digunakan untuk memandikan anak dalam prosesi Tedhak Siten.
Bokor melambangkan kekuatan dan keteguhan dalam menjalani hidup. Air yang suci menjadi simbol penyucian jiwa dan awal kehidupan yang baru.
3. Dhampar
Dhampar adalah tempat duduk kayu dihias, diletakkan di atas tangga tebu.
Dhampar melambangkan kekuasaan dan kedudukan. Orang tua berharap anak kelak memiliki posisi yang terhormat dan dapat dihargai di lingkungan sosial.
4. Sangkar Ayam
Dalam prosesi ini, anak akan dimasukkan dalam sangkar ayam. Di dalam sangkar ayam, ada beberapa benda yang harus dipilih anak, seperti peralatan menulis.
Sangkar ayam menggambarkan pilihan dalam hidup yang harus dihadapi anak di masa depan.
5. Pala Pendem
Pala pendem adalah umbi-umbian seperti ketela, ubi, kentang, dan kacang tanah yang ditanam di dalam tanah.
Makanan ini dibagikan kepada tamu sebagai simbol nilai-nilai kesederhanaan, rendah hati, dan menghargai proses dalam kehidupan.
Harapan ini menjadi dasar pembentukan karakter anak yang kuat dan membumi.
6. Jadah 7 Warna
Jadah tujuh warna melambangkan berbagai fase kehidupan anak yang akan dilalui.
Warna gelap ke terang menggambarkan proses dari kesulitan menuju kemudahan.
Anak dituntun berjalan di atas jadah 7 warna dengan harapan akan mendapat pertolongan dalam hidup.
Baca Juga: Berikut Makna Filosofis Lima Riasan Pengantin Adat Jawa, Mana yang Kamu Tahu?
7. Tangga Tebu
Tangga yang terbuat dari batang tebu ini melambangkan perjalanan hidup yang harus dijalani dengan usaha, bimbingan, dan arah yang benar.
Tebu sebagai simbol manisnya kehidupan mengandung harapan agar anak kelak menjadi pemimpin yang bisa memberi kebahagiaan bagi sekitarnya.
8. Piranti Nulis
Peralatan menulis, seperti buku tulis, buku Iqra, alat tulis, dimasukkan dalam sangkar sebagai simbol pendidikan.
Maknanya adalah harapan agar anak mencintai ilmu, rajin belajar, dan dapat mengakses pendidikan yang baik, termasuk kemampuan membaca Alquran bagi keluarga muslim.
9. Jajan Tradisional
Jajanan tradisional, seperti kue basah, disajikan dengan harapan agar anak mampu beradaptasi dan bergaul dengan berbagai karakter manusia.
Jajan ini melambangkan keragaman masyarakat dan pentingnya menjalin hubungan sosial yang harmonis.
Melalui upacara ini, masyarakat Jawa mengajarkan filosofi hidup kepada anak sejak dini dalam balutan tradisi sakral dan penuh makna. (*)
Editor : Didin Cahya FirmansyahSumber : DIOLAH