TULUNGAGUNG-Di tengah gempuran budaya populer dan gaya hidup modern di Tulungagung, tarian tradisional kerap dianggap usang.
Namun bagi Khosyi’ Naifah Asmawati, seorang remaja 18 tahun asal Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung menari bukan sekadar hobi namun sebagai jalan hidup hingga bisa meraih segudang prestasi.
Dia yang tumbuh sejak kecil di Tulungagung tentu ingin melestarikan seni tradisinal. Meski masih duduk sebagai siswi MAN 2 Tulungagung, sudah malang melintang dan keleksi beragam pengalaman.
“Setiap gerakan itu punya makna. Bisa jadi inspirasi buat banyak orang,” ucapnya penuh keyakinan.
Namun perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Khosyi’ pernah mengalami berbagai tantangan mulai dari cedera, tekanan saat lomba, hingga insiden lucu di atas panggung.
“Pernah pas tampil tiba-tiba lupa gerakan, atau aksesoris jatuh, tapi ya tetap lanjut aja. Malu sih, tapi itu bagian dari proses,” tuturnya sambil tertawa kecil.
Satu hal penting selalu dijaganya adalah kondisi fisik.
“Kurangi minum es,” katanya singkat. Sebuah nasihat sederhana namun efektif agar stamina tetap prima saat tampil.
Sebagai generasi muda yang setia pada akar budaya, Khosyi’ ingin terus menari, terus berbagi, dan terus memberi inspirasi.
Pesannya kepada remaja lain pun sederhana namun bermakna. “Jangan ragu menari dan terus berkarya. Dunia tari butuh semangat, kreativitas anak muda,” pungkasnya. (*/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah