Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Malam Satu Suro di Tulungagung: Tradisi, Ritual, dan Makna Sakral bagi Suku Jawa

Rinto Wahyu Hidayat • Kamis, 19 Juni 2025 | 21:00 WIB
Momentum malam Satu Suro dianggap sakral dan penuh makna mistis oleh masyarakat Jawa.
Momentum malam Satu Suro dianggap sakral dan penuh makna mistis oleh masyarakat Jawa.

TULUNGAGUNG – Malam Satu Suro bukan malam biasa bagi warga Tulungagung.

Momentum ini dianggap sakral dan penuh makna mistis oleh masyarakat Jawa, termasuk warga desa-desa di Boyolangu, Campurdarat, Ngunut, hingga Kalidawir. 

Satu Suro menandai pergantian tahun baru Jawa dan sering diperingati dengan berbagai ritual yang kaya nilai spiritual dan budaya.

Makna Malam Suro bagi Warga Tulungagung

Dalam tradisi Jawa, malam Satu Suro adalah waktu untuk menyepi, instropeksi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. 

Di Tulungagung, banyak warga menganggap malam ini sebagai waktu yang tepat untuk “ngalap berkah” (mencari berkah), serta menjauhkan diri dari kegiatan duniawi seperti pesta atau keramaian.

Tradisi Tirakat dan Kungkum di Sumber Alam

Di beberapa wilayah seperti Campurdarat, Pagerwojo, dan Sendang, warga menjalankan tradisi kungkum (berendam malam hari) di sumber air atau sendang.

Salah satu lokasi populer adalah Sendang Kalimati yang dipercaya memiliki energi alami untuk membersihkan jiwa dan raga secara spiritual.

Banyak juga yang memilih melakukan tirakat di rumah atau tempat-tempat yang dianggap keramat, sambil membaca doa, wirid, dan tahlil. 

Bahkan ada pula yang melakukan tapa bisu—tirakat semalam suntuk tanpa berbicara.

Ziarah Leluhur dan Tradisi Tahlilan

Warga di Tulungagung juga ramai melakukan ziarah ke makam para leluhur, tokoh desa, dan wali lokal.

Tempat-tempat seperti Makam Ki Ageng Pulung di Boyolangu atau petilasan di daerah Ngunut dan Kalidawir sering menjadi tujuan peziarah.

Tradisi kenduri atau doa bersama juga digelar di masjid atau rumah-rumah warga sebagai bentuk penghormatan kepada arwah leluhur sekaligus memohon keselamatan untuk tahun yang baru.

Baca Juga: Mitos Malam 1 Suro: Larangan, Kepercayaan, dan Tradisi yang Masih Hidup hingga Kini

Pantangan dan Suasana Mistis

Warga Tulungagung juga masih memegang teguh pantangan malam Suro, seperti larangan menikah, bepergian jauh, atau mengadakan pesta. 

Banyak yang percaya bahwa malam ini adalah malam “angker” karena dipercaya menjadi waktu berkeliarannya makhluk halus atau waktu pembersihan energi gaib.

Masyarakat memilih bersikap tenang dan fokus pada kegiatan spiritual untuk menjaga diri dari bala atau gangguan metafisik.

Malam Satu Suro di Tulungagung adalah warisan budaya yang terus hidup dan lestari. 

Melalui ritual tirakat, kungkum, ziarah, dan doa bersama, masyarakat tidak hanya melestarikan budaya Jawa, tetapi juga memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi generasi muda Tulungagung, memahami makna malam Suro bukan hanya tentang mistis dan tradisi, tetapi juga tentang kearifan lokal, ketenangan batin, dan kedekatan dengan Sang Pencipta.(rin)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Tirakat #Pantangan #satu suro #malam suro