TULUNGAGUNG–Di tengah derasnya arus budaya populer dan modernisasi, sebagian anak muda di Kabupaten Tulungagung memilih untuk menengok kembali akar budaya daerah mereka.
Kesenian tradisional seperti tayub, jaranan, dan campursari yang sebelumnya sempat redup, kini kembali digaungkan oleh kalangan muda yang ingin menjaga warisan leluhur.
Sejumlah kelompok pemuda yang tersebar di berbagai kecamatan mulai aktif menghidupkan kembali seni pertunjukan yang dulunya kerap mengisi hajatan rakyat.
Mereka tak hanya tampil di panggung desa, tetapi juga memanfaatkan media sosial sebagai ruang baru untuk mengekspresikan kecintaan terhadap budaya lokal.
Baca Juga: Jaranan Jawa Sepi Peminat di Tulungagung, Benarkah Kalah dengan Jenis Jaranan Lain?
Kesenian seperti tayub dan jaranan dulunya sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Tulungagung, terutama dalam acara syukuran desa, pernikahan, atau hajatan adat.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, pertunjukan-pertunjukan ini semakin jarang terlihat, digantikan oleh hiburan modern seperti dangdut koplo, DJ, bahkan karaoke keliling.
Namun persepsi itu tampaknya mulai berubah. Di beberapa desa, terlihat adanya inisiatif dari remaja untuk mempelajari seni tari tayub dan gamelan. Kegiatan pelatihan dilakukan secara mandiri, baik melalui sanggar budaya, kelompok komunitas, maupun bimbingan langsung dari para sesepuh seni.
Regenerasi kesenian tradisional di Tulungagung tidak berlangsung kaku. Anak-anak muda yang terlibat justru menghadirkan sejumlah inovasi agar budaya ini tetap relevan.
Beberapa kelompok memilih untuk menggabungkan alat musik tradisional dengan aransemen modern, sehingga menghasilkan pertunjukan campursari yang lebih segar dan dinamis.
Baca Juga: Tayub Tulungagung: Warisan Budaya Jawa yang Masih Lestari
Bahkan dalam beberapa kasus, pertunjukan jaranan disajikan secara teatrikal dan dipadukan dengan unsur visual digital. Hal ini dimaksudkan agar kesenian tersebut tidak hanya menjadi konsumsi lokal, tetapi juga bisa menjangkau khalayak lebih luas melalui platform digital.
Proses regenerasi ini sebagian besar digerakkan oleh sanggar-sanggar seni yang tersebar di wilayah pedesaan. Sanggar tersebut menjadi tempat belajar sekaligus ruang berlatih bagi anak-anak dan remaja yang tertarik mendalami kesenian.
Dukungan dari para tokoh budaya juga terlihat melalui peran mereka sebagai pembimbing yang menanamkan nilai-nilai filosofis dari setiap jenis kesenian yang dipelajari.
Upaya anak-anak muda dalam menghidupkan kembali tayub, jaranan, dan campursari bukan sekadar pelestarian budaya semata.
Baca Juga: Kesenian Asli Tulungagung Ini Dapat Perhatian Khusus Dari Bupati
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses merawat identitas daerah di tengah gempuran globalisasi. Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini dinilai memiliki nilai historis dan sosial yang penting untuk dikenalkan kembali kepada generasi masa depan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah