TULUNGAGUNG- Juru pelihara (jupel) Candi Penampihan, Hendriman, sudah puluhan tahun menjaga bangunan bersejarah di Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung tersebut. Tentu banyak pelajaran didapat selama merawat candi di kawasan dataran tinggi tersebut.
Bekerja sebagai jupel di candi tertua di Tulungagung ketika masih muda memberikan tantangan tersendiri bagi Hendriman sejak tahun 2005 ini.
Dia tentu memiliki alasan khusus untuk memberanikan diri dalam mengabdi dan melestarikan sejarah di Tulungagung lewat Candi Penampihan.
Hampir tiap hari harus sambangi candi itu guna merawat atau membersihkan rerumputan agar terlihat bersih ketika tamu datang.
Dengan pengalaman tergolong matang, tentu menjadikan sebuah pengalaman kehidupan yang menarik. “Saya dulu menggantikan bapak (Suryani) yang juga juru pelihara,” tandas pria 55 tahun ini.
Dari situ, dia meneruskan amanah dari orang tua untuk selalu menjaga candi yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2019 silam ini.
Melayani tamu dengan ikhlas sudah merupakan kewajiban selama puluhan tahun dilakoni. Sebab, dia ingin melestarikan budaya dan peninggalan bersejerah di kawasan pegunungan Wilis ini.
Meski berada di kawasan pegunungan, tingkat kunjungan tergolong baik dalam kurun waktu dua dekade. Sebab belum banyak wisata dan lokasi-lokasi bersejarah yang merupakan alternatif utama.
Namun belakangan ini banyak muncul tempat wisata baru sehingga warga memiliki beragam pilihan. ”Kalau sekarang ya tetap ada meskipun tidak setiap hari,“ tandas bapak dua anak ini.
Dia pun tetap akan setia melayani tamu ketika ingin berkunjung, penelitian, hingga melakukan ritual di lokasi.
Menurut dia, menjadi jupel harus bisa menempatkan diri pada pelayanan setiap tamu dan tidak membedakan.
Itu merupakan pengalaman hidup penting yang selama ini jadi pelajaran. Artinya memang harus memahami setiap karakter tamu.
“Kalau tamu beraneka macam karakter, jadi kita harus tetap bisa melayani dengan baik dan ikhlas agar pengabdian benar-benar tulus,” tandasnya.
Dia mengaku Candi Penampihan merupakan “rumah” baginya. Jadi tiap hari harus memang ditengok. Sebab, ada rasa kangen ketika tidak melihat.
Untuk diketahui, berdasar berbagai sumber, Candi Penampihan adalah sebuah candi yang menyimpan sejarah tentang kisah cinta bertepuk sebelah tangan (cinta ditolak, Red) hingga dikenal dengan Candi Asmoro Bangun.
Dilansir dari Ditjen Kebudayaan, cikal bakal Candi Penampihan ini berawal dari seorang pembesar Kerajaan Ponorogo Wengker. Kala itu, dia sedang gandrung dengan pesona Putri Kediri, Dewi Kilisuci.
Pembesar itu ingin melamar Dewi Kilisuci. Di tengah perjalanan, dia mengutus seorang kurir untuk menyampaikan maksud kedatangannya ke Kediri.
Namun, kurir itu kembali dengan membawa pesan bahwa Dewi Kilisuci menolak lamarannya. Mendengar penolakan itu, Pembesar Kerajaan Ponorogo Wengker gundah.
Dia enggan kembali ke kampung halaman. Dia pun mendirikan candi sebagai ejawantah perasaannya ke Dewi Kilisuci. Candi itu kemudian dikenal dengan Candi Penampihan. Kata penampihan berasal dari kata “tampik” yang berarti “tolak”.Candi Penampihan ini didirikan sekitar tahun 820 Saka atau 898 Masehi. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah