Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ajarkan Semangat Nasionalime, Inilah Serat Tripama Karya KGPAA Mangkunegara IV

Dharaka R. Perdana • Kamis, 14 Agustus 2025 | 20:34 WIB

Potret KGPAA Mangkoenegara IV yang menciptakan Serat Tripama (WIKIPEDIA)
Potret KGPAA Mangkoenegara IV yang menciptakan Serat Tripama (WIKIPEDIA)

RADAR TULUNGAGUNG - Agustus merupakan bulan yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tidak lepas dari semangat memperingati HUT Kemerdekaan RI.

Tentunya saat peringatan HUT Kemerdekaan RI harus dimaknai dengan semangat nasionalisme dan menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam karya sastra Jawa klasik ada satu karya yang membahas nasionalime. Yakni Serat Tripama (tiga suri tauladan) karya KGPAA Mangkunegara IV (1809-1881) di Surakarta, yang ditulis dalam tembang Dhandanggula sebanyak 7 pada (bait).

Baca Juga: Warisan Kerajaan Mataram Kuno? Ini Nama Jabatan di Majapahit Sesuai Prasasti Waringin Pitu

Serat Tripama mengisahkan keteladanan Patih Suwanda (Bambang Sumantri), Kumbakarna dan Suryaputra (Adipati Karna)

Bagi yang tidak mengenal dunia wayang memang agak sulit memahami apa dan siapa ketiga tokoh tersebut. Secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Bambang Sumantri yang setelah menjadi patih disebut “Patih Suwanda” adalah Patih dari Raja Harjunasasrabahu dari negara Maespati pada era sebelum Sri Rama tokoh dalam kisah Ramayana.

Baca Juga: Kisah Tragis Pengkhianat Mataram, Jasadnya Dinjak-injak Pengunjung Astana Pajimatan Imogiri

Patih Suwanda termasyhur dalam kegagahberaniannya, mampu melaksanakan semua tugas dari Prabu Harjunasasrabahu dengan penuh tanggungjawab dan akhirnya gugur di palagan melawan Dasamuka.

Kumbakarna adalah adik dari Prabu Dasamuka raja Ngalengkadiraja (Alengka), walaupun berbentuk raksasa tetapi tidak mau membenarkan tindakan kakaknya yang angkara murka dengan menculik Dewi Shinta.

Baca Juga: Dikelola Dua Keraton Pecahan Mataram, Begini Sejarah Astana Pajimatan Imogiri Yogyakarta

Walaupun demikian pada saat kerajaan Ngalengkadiraja diserang oleh musuh, yaitu Sri Rama dan pasukannya, Kumbakarna memenuhi panggilan sifat ksatrianya, mengorbankan jiwa untuk membela tanah air.

Kumbakarna gugur membela negara, bukan membela kakaknya. Kumbakarna adalah salah satu pelaku dalam kisah Ramayana.

Adipati Karna adalah tokoh dalam Mahabharata. Ia tidak membela Pandawa yang saudara satu ibu melainkan membela Prabu Suyudana (Kurupati) raja Hastina untuk membalas budi baik sang raja yang telah mengangkat derajatnya.

Adipati Karna yang saat kelahirannya dibuang di sungai kemudian ditemukan dan diangkat anak oleh kusir Adirata, dijadikan adipati oleh Prabu Suyudana.

Oleh sebab itu dalam perang besar Bharatayuda Adipati Karna berada di pihak Kurawa yang ia tahu bahwa Kurawa adalah pihak yang angkara murka. Sang Suryaputra gugur dalam perang tanding melawan Harjuna, adiknya, satu ibu.

Secara ringkas, itulah kepahlawanan tiga ksatria dalam tiga jaman yang berbeda yang diangkat oleh Sri Mangkunegara IV dalam Serat Tripama yang terdiri dari 7 bait tembang Dhandanggula.

Bait pertama dan ke dua mengisahkan kepahlawanan Kumbakarna, Bait ke tiga dan empat tentang Kumbakarna, Bait ke lima dan enam mengenai Adipati Karna dan Bait ke tujuh adalah kesimpulan/penutup. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#hut kemerdekaan ri #nasionalisme #KGPAA Mangkunegara IV #serat tripama