RADAR TULUNGAGUNG - Dalam Serat Tripama, karya KGPAA Mangkunegara IV, nama Raden Kumbakarna hadir sebagai contoh kedua teladan keprajuritan setelah Patih Suwanda.
Kisah Raden Kumbakarna memberikan pelajaran berharga tentang arti loyalitas pada negara, bahkan di tengah perbedaan pendapat dengan pemimpin.
Bait ketiga Serat Tripama menegaskan bahwa Kumbakarna, meskipun berwujud raksasa (diyu), memiliki budi pekerti luhur.
Baca Juga: Ajarkan Semangat Nasionalime, Inilah Serat Tripama Karya KGPAA Mangkunegara IV
Sejak awal perang Alengka, ia sudah mengingatkan kakaknya, Rahwana (Dasamuka), agar menghindari konflik dengan pasukan kera yang dipimpin Rama.
Tujuannya jelas menjaga keselamatan dan kelestarian negeri Alengka. Namun, Rahwana tetap keras kepala dan mengabaikan nasihatnya.
Bait keempat menggambarkan sikap Kumbakarna yang akhirnya menerima perintah turun ke medan perang.
Baca Juga: Tiga Pegangan Patih Suwanda Berikut Bisa Dijadikan Contoh Mencintai Bangsa dan Negara, Apa Saja?
Dia berangkat tanpa ragu, bukan karena membenarkan tindakan Rahwana, tetapi karena merasa terpanggil untuk membela tanah air dari serangan pihak luar, menjunjung kehormatan keluarga dan leluhur, serta menjalankan sumpahnya sebagai seorang ksatria.
Baginya, membela negeri adalah kewajiban, terlepas dari kesalahan penguasa. Kumbakarna lebih memilih gugur di medan perang sebagai pahlawan daripada hidup mewah menyaksikan tanah airnya hancur.
Kisah Kumbakarna mengajarkan bahwa nasionalisme bukan hanya kesetiaan pada pemimpin, tetapi pada negara dan rakyat.
Baca Juga: Kisah Tragis Pengkhianat Mataram, Jasadnya Dinjak-injak Pengunjung Astana Pajimatan Imogiri
Keberanian Kumbakarna yang berangkat perang meski hatinya tidak sepaham dengan kebijakan kakaknya adalah contoh nyata loyalitas pada tanah air di atas kepentingan pribadi.
Nilai yang bisa diambil untuk masa kini antara lain:
1. Cinta tanah air tak bersyarat
Membela negara meski tidak selalu setuju dengan pemerintah.
2. Kejernihan moral
Tetap memegang teguh nilai kebenaran walau dalam posisi sulit.
3. Pengorbanan tertinggi
Menempatkan keselamatan bangsa di atas keselamatan diri.
Baca Juga: Dikelola Dua Keraton Pecahan Mataram, Begini Sejarah Astana Pajimatan Imogiri Yogyakarta
Raden Kumbakarna, melalui penggambaran di Serat Tripama, adalah simbol patriotisme murni: setia pada tanah air, berani membela, dan rela berkorban nyawa.
Kisahnya relevan hingga kini, menjadi pengingat bahwa membela bangsa bukan berarti membenarkan semua keputusan pemimpin, melainkan menjaga kehormatan dan kelestarian negeri apa pun taruhannya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana