RADAR TULUNGAGUNG - Dalam epos Mahabharata, sosok Adipati Karna sering kali berada di sisi yang berlawanan dengan Pandawa.
Meskipun Adipati Karna sesungguhnya saudara seibu mereka, yakni Dewi Kunthi Talibrata dengan ayah Bathara Surya.
Baca Juga: Meski Tak Sepaham dengan Rahwana Kakaknya, Kumbakarna Tetap Maju Perang Membela Tanah Air
Dalam Serat Tripama, KGPAA Mangkunegara IV menempatkan Adipati Karna sebagai salah satu dari tiga teladan ksatria yang patut dicontoh karena pengabdian dan kesetiaannya membela negara.
Kisah Adipati Karna sendiri terdapat di bait 5 dan 6 Serat Tripama.
Adipati Karna adalah penguasa Kadipaten Awangga, sekaligus saudara seibu Pandawa (anak Kunti).
Baca Juga: Tiga Pegangan Patih Suwanda Berikut Bisa Dijadikan Contoh Mencintai Bangsa dan Negara, Apa Saja?
Meskipun memiliki ikatan darah dengan Pandawa, ia memilih setia mengabdi kepada Prabu Duryudana, Raja Hastina (Kurupati).
Kesetiaan ini bukan tanpa alasan, karena Duryudanalah yang mengangkat derajat Karna dari seorang yang diremehkan menjadi raja bergelar dan dihormati.
Dalam perang besar Baratayuda, Karna menjadi agul-agul (andalan) dan senopati utama pihak Kurawa.
Baca Juga: Ajarkan Semangat Nasionalime, Inilah Serat Tripama Karya KGPAA Mangkunegara IV
Bahkan ketika harus berhadapan langsung dengan Arjuna, adiknya sendiri, Karna tidak gentar.
Baginya, membalas budi raja yang telah memberinya kedudukan adalah sebuah kehormatan. Dia percaya bahwa kesetiaan terhadap negara dan pemimpinnya merupakan janji yang harus dipegang sampai akhir hayat.
Pertempuran Karna dengan Arjuna menjadi salah satu duel paling terkenal di Baratayuda. Dengan keberanian tanpa ragu, Karna mengerahkan seluruh kemampuannya, bahkan mengeluarkan senjata pamungkasnya, Kuntawijayadanu.
Namun, takdir berkata lain, Karna gugur terkena panah Arjuna. Dia meninggal sebagai wiratama (ksatria utama) yang teguh menjalankan tugasnya sampai titik darah penghabisan.
Kisah Karna mengajarkan bahwa nasionalisme dan pengabdian tidak selalu hitam-putih. Dia memilih jalan yang dianggapnya benar berdasarkan rasa terima kasih, kesetiaan, dan tanggung jawab. Di era sekarang, sikap ini dapat dimaknai sebagai:
1. Integritas dalam pengabdian – menepati janji dan komitmen meskipun menghadapi pilihan sulit.
2. Budi balas – menghargai jasa dan kebaikan orang lain.
3. Keberanian moral dan fisik – siap menghadapi tantangan demi tugas dan negara.
Editor : Dharaka R. Perdana