RADAR TULUNGAGUNG – Tradisi leang-leong yang sempat menjadi ikon kreativitas pemuda Tulungagung pada era 2010-an kini kembali menggeliat.
Salah satunya grup Nogo Bawono dari Desa Panjerejo, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung tengah bersiap untuk menampilkan kembali kesenian tersebut dalam karnaval desa pada 30 Agustus mendatang.
Leang-leong sendiri merupakan seni pertunjukan berbentuk naga raksasa yang digerakkan beberapa orang secara serempak.
Baca Juga: Nostalgia Merdeka! 9 Jajanan Legendaris yang Selalu Ada di Karnaval 17 Agustusan
Pada masanya, kesenian ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol kreativitas anak muda yang mencurahkan waktu, tenaga, serta keahliannya dalam membuat karya seni berbahan sederhana namun bernilai budaya tinggi.
Sejak awal 2010-an, hampir setiap desa di wilayah timur Tulungagung, seperti Sumbergempol, Ngunut, Kalidawir, dan Rejotangan, memiliki kelompok leang-leong yang aktif mengikuti lomba maupun pawai peringatan hari besar nasional, khususnya setiap Agustus.
Namun, memasuki tahun 2016, keberadaan leang-leong mulai meredup seiring dengan maraknya tren karnaval “sound horeg” yang berasal dari Malang.
Alih-alih menampilkan karya seni, banyak kelompok pemuda lebih memilih berkompetisi dalam menyewa sound system besar dan terkenal untuk memeriahkan karnaval.
Pergeseran budaya ini secara perlahan membuat kesenian leang-leong tersisih, bahkan sebagian besar kelompok yang dulu aktif akhirnya bubar dan meninggalkan tradisi tersebut.
Kondisi itu berubah setelah munculnya larangan penggunaan sound horeg oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Larangan tersebut seakan menjadi momentum baru bagi pemuda untuk menoleh kembali pada tradisi lama yang sarat kreativitas.
Di media sosial, terutama TikTok, mulai bermunculan unggahan video kenangan pawai leang-leong, lengkap dengan komentar warga yang menyuarakan kerinduan terhadap suasana karnaval tempo dulu.
Banyak di antara mereka menilai bahwa karnaval sejatinya bukan sekadar ajang menyalakan musik keras-keras, melainkan wadah untuk menampilkan ide, karya, dan seni budaya masyarakat.
Baca Juga: Nostalgia Merdeka! 9 Jajanan Legendaris yang Selalu Ada di Karnaval 17 Agustusan
Semangat itu pula yang kini dihidupkan kembali oleh grup Nogo Bawono. Kelompok ini pernah menjadi salah satu kelompok yang terkenal di Tulungagung karena beberapa kali meraih juara dalam lomba leang-leong di Tulungagung.
Setelah lama vakum, mereka akhirnya memutuskan untuk bangkit dan kembali tampil di hadapan publik.
Melalui unggahan akun TikTok @pelayangkulonan, Nogo Bawono mengajak masyarakat untuk datang menyaksikan karnaval Panjerejo dengan pesan singkat: “Entenono tanggal 30 mak, karnaval Panjerejo lawasan ngadek meneh mak.”
Untuk mewujudkan penampilan perdana setelah bertahun-tahun vakum, para anggota Nogo Bawono melakukan berbagai persiapan serius.
Mereka mengumpulkan kembali rangka naga lama yang tersimpan, memperbaiki bagian-bagian yang rusak, merestorasi kepala leang-leong agar tampak megah, sekaligus melakukan pengecatan ulang hingga tahap akhir finishing.
Semua itu dilakukan dengan semangat gotong royong, persis seperti awal mula tradisi ini muncul lebih dari satu dekade lalu.
Kebangkitan Nogo Bawono bukan hanya sekadar kembalinya sebuah grup, melainkan juga harapan akan lahirnya kembali tradisi leang-leong sebagai identitas budaya kreatif masyarakat Tulungagung.
Jika semangat ini terus terjaga, bukan tidak mungkin karnaval di Tulungagung akan kembali menjadi ajang unjuk kreativitas.
Seperti masa keemasan leang-leong pada awal 2010-an, di mana seni dan budaya berdiri di garda terdepan perayaan masyarakat. ****
Editor : Dharaka R. Perdana