RADAR TULUNGAGUNG - Wayang merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang tidak lekang oleh waktu.
Dari berbagai jenis pertunjukannya, dikenal dua bentuk penting yaitu wayang pagelaran dan wayang ruwat.
Wayang pagelaran biasanya hadir sebagai hiburan sekaligus media pendidikan bagi masyarakat.
Sedangkan wayang ruwat lebih menekankan pada fungsi ritual untuk tolak bala atau membebaskan dari sengkala.
Pagelaran wayang umumnya mementaskan berbagai lakon, mulai dari kisah Mahabharata, Ramayana, hingga cerita carangan.
Tujuannya adalah menyampaikan nilai moral, filosofi kehidupan, dan hiburan yang mendidik.
Sebaliknya, wayang ruwat hanya menggunakan lakon khusus yang disebut Murwakala.
Lakon ini mengisahkan Batara Kala yang berusaha memangsa anak-anak sukerta, tetapi digagalkan tokoh Semar dan para Pandawa.
Baca Juga: Wayang Kulit Masihkah Diminati Anak Muda di Era Digital? Ternyata Masih Ada Harapan
Dalam wayang pagelaran, dalang bebas memilih lakon sesuai dengan acara, permintaan penanggap, atau konteks sosial.
Namun dalam wayang ruwat, lakon Murwakala menjadi syarat mutlak karena berkaitan langsung dengan prosesi ritual.
Penonton wayang pagelaran datang dengan suasana santai, menikmati iringan gamelan dan lawakan punakawan.
Sementara dalam wayang ruwat, penonton sekaligus peserta seringkali merupakan keluarga yang anaknya akan diruwat.
Tujuan utama wayang pagelaran adalah membangun hiburan sekaligus menyampaikan pesan moral secara kolektif.
Adapun tujuan wayang ruwat adalah membersihkan individu atau keluarga dari sengkala agar hidupnya selamat dan tenteram.
Wayang pagelaran biasanya dilangsungkan di hajatan seperti pernikahan, khitanan, syukuran desa, atau acara resmi pemerintah.
Wayang ruwat justru diadakan pada momen khusus, terutama jika ada keluarga yang memiliki anak sukerta.
Dalam persiapan, wayang pagelaran cukup dengan gamelan, dalang, sindhen, dan panggung yang representatif.
Tetapi dalam wayang ruwat, ada tambahan sesaji, air bunga, bambu wung-wung, serta perlengkapan khusus untuk prosesi siraman dan potong rambut.
Pada jalannya pertunjukan, wayang pagelaran bisa berlangsung semalam suntuk dengan lakon panjang.
Baca Juga: Nonton Wayang Kulit di Tulungagung sampai Subuh, Jadi Hiburan Langka yang Masih Ada
Sedangkan wayang ruwat meski tetap menampilkan pakeliran, biasanya disesuaikan dengan prosesi ritual sehingga tidak selalu sepanjang pagelaran biasa.
Wayang pagelaran menghadirkan suasana meriah, bahkan diselingi guyonan dari punakawan dan sindiran sosial politik.
Wayang ruwat lebih khidmat, meski tetap ada guyonan, namun nuansa spiritual dan doa-doa lebih mendominasi.
Seorang dalang dalam wayang pagelaran berperan sebagai seniman dan komunikator.
Sedangkan dalang wayang ruwat berperan ganda, yakni seniman sekaligus pemimpin ritual yang dipercaya mampu menetralkan sengkala.
Dalam wayang pagelaran, lakon dapat berakhir dengan berbagai kisah bahagia atau tragis sesuai jalan cerita.
Namun dalam wayang ruwat, alurnya ditutup dengan kemenangan kebaikan dan penetralan Batara Kala agar tidak memangsa anak sukerta.
Penonton wayang pagelaran bisa siapa saja, tanpa syarat khusus.
Sedangkan peserta dalam wayang ruwat umumnya adalah anak-anak sukerta beserta keluarganya yang memang menjadi tujuan prosesi.
Wayang pagelaran lebih fleksibel, bisa ditampilkan di alun-alun, gedung kesenian, atau rumah penanggap.
Wayang ruwat kerap digelar di rumah keluarga, pendapa, atau tempat yang sudah ditentukan dengan tata cara tertentu.
Dalam segi biaya, wayang pagelaran tergantung pada skala acara dan nama besar dalang.
Wayang ruwat biasanya memerlukan biaya tambahan untuk sesaji, air bunga, serta perlengkapan siraman dan potong rambut.
Wayang pagelaran dipandang sebagai bagian dari seni pertunjukan rakyat dan hiburan. Sementara wayang ruwat dipandang sebagai ritual sakral yang mengandung doa dan permohonan keselamatan.
Baca Juga: Nonton Wayang Kulit di Tulungagung sampai Subuh, Jadi Hiburan Langka yang Masih Ada
Meski berbeda fungsi, keduanya memiliki kesamaan sebagai media penyampai nilai budaya Jawa.
Baik pagelaran maupun ruwat, keduanya menunjukkan betapa wayang tetap menjadi sarana komunikasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Kini, wayang pagelaran banyak dikemas modern dengan tata lampu, layar digital, dan promosi media sosial.
Wayang ruwat tetap dijaga kesakralannya meski juga mulai dipublikasikan sebagai bagian dari pelestarian tradisi.
Dengan demikian, perbedaan wayang pagelaran dan wayang ruwat bukan hanya pada bentuk pertunjukannya, tetapi juga pada makna dan tujuan di baliknya.
Keduanya sama-sama penting sebagai warisan budaya yang memperkaya khazanah bangsa Indonesia. ****
Editor : Dharaka R. Perdana