RADAR TULUNGAGUNG - Hadrah Al Muhibbin dari Tulungagung dikenal sebagai salah satu kelompok hadrah legendaris yang memiliki sejarah panjang.
Keberadaannya tidak hanya sebagai seni hiburan, melainkan juga sarana dakwah yang melekat erat dengan tradisi keagamaan masyarakat di Tulungagung.
Kelompok hadrah ini terbentuk pada akhir 1960-an, ketika komunitas Banjar yang menetap di Tulungagung membawa tradisi rebana dan sholawat.
Baca Juga: Kementerian Agama Buka Program Bantuan Operasional Perpustakaan Masjid 2025, Simak Persyaratannya
Dari sinilah lahir sebuah kesenian yang kemudian dikenal luas dengan nama Hadrah Al Muhibbin.
Nama "Al Muhibbin" sendiri memiliki arti "orang-orang yang mencintai". Filosofi tersebut mencerminkan kecintaan mereka terhadap Rasulullah SAW melalui lantunan sholawat yang syahdu dan penuh makna.
Tradisi ini berkembang dari kegiatan amaliah diba’an atau pembacaan maulid Diba’ yang rutin digelar setiap malam Sabtu di Masjid Darussalam, Kampungdalem, Tulungagung.
Kegiatan tersebut diiringi dengan rebana khas Banjar yang kemudian menjadi identitas utama Al Muhibbin.
Seiring berjalannya waktu, Al Muhibbin bukan hanya menjadi bagian dari kegiatan ibadah, tetapi juga berkembang sebagai seni hadrah yang ditampilkan dalam berbagai acara.
Mulai dari peringatan Maulid Nabi, hajatan warga, hingga lomba tingkat kabupaten maupun provinsi.
Baca Juga: Tren Coffee Rave Makin Mendunia: Gaya Hidup Gen Z dengan Kopi, Musik DJ, dan Vibes Positif
Ciri khas pukulan rebana Al Muhibbin adalah hasil perpaduan gaya Banjar, Pekalongan, dan Tulungagung. Perpaduan itu menghasilkan alunan ritmis yang khas dan mudah dikenali dibandingkan dengan hadrah lain.
Alat musik utama yang digunakan adalah rebana atau terbang yang diwariskan turun-temurun. Hingga kini, beberapa rebana tua peninggalan leluhur masih digunakan dan dianggap memiliki nilai sejarah tinggi.
Tokoh penting yang berjasa dalam mendirikan dan mengembangkan Al Muhibbin antara lain Haji Basyuni dan Yik Bakr. Mereka adalah sosok sentral yang memperkuat tradisi majelis sholawat dengan melibatkan generasi muda.
Selain itu, ada juga Kyai Mustaqim yang dikenal sebagai ulama kharismatik dan mursyid tarekat Syadziliyah.
Ia pernah memberikan restu simbolis berupa bendera hijau, yang dipercaya sebagai tanda keberkahan dari Rasulullah SAW bagi kelompok ini.
Kharisma Al Muhibbin terletak pada kekompakan dan penghayatan para anggotanya ketika melantunkan sholawat.
Setiap alunan tidak sekadar musik, melainkan juga doa dan ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam setiap penampilan, Al Muhibbin selalu membawakan sholawat yang penuh semangat sekaligus khidmat. Lirik-lirik seperti “Ya Rasulallah” dan “Ya Sayyidi” menjadi ciri khas yang akrab di telinga jamaah.
Hadrah ini juga menjadi wadah silaturahmi masyarakat Tulungagung. Setiap kali Al Muhibbin tampil, suasana religius dan kebersamaan selalu tercipta di tengah masyarakat.
Baca Juga: Festival Woodstock 1969, Konser Musik Terbesar yang Menorehkan Sejarah
Peran Al Muhibbin tidak hanya di bidang seni, tetapi juga dalam pendidikan moral. Generasi muda yang bergabung diarahkan untuk mencintai sholawat dan menjaga akhlak Islami.
Hingga kini, Al Muhibbin tetap eksis meskipun banyak hadrah modern bermunculan. Keaslian tradisi menjadi kekuatan yang membuatnya tidak tergeser oleh tren musik religi kekinian.
Tidak sedikit video penampilan Al Muhibbin yang diunggah ke YouTube dan mendapat sambutan hangat. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi mereka juga mulai dikenal masyarakat luar daerah.
Baca Juga: Top 50 Lagu yang Mudah Dinanyikan Buat Karaokean Pas Weekend, Bisa Usir Penat
Keberadaan Hadrah Al Muhibbin dianggap sebagai salah satu identitas budaya religius Tulungagung. Masyarakat menganggapnya sebagai warisan yang wajib dilestarikan lintas generasi.
Pemerintah daerah pun sering melibatkan Al Muhibbin dalam acara resmi bernuansa Islami. Kehadirannya selalu mampu menghidupkan suasana dengan nuansa sholawat yang kental.
Kini, Hadrah Al Muhibbin tidak hanya dikenal sebagai kelompok seni, tetapi juga simbol spiritual masyarakat Tulungagung.
Kehadirannya menjadi bukti nyata bagaimana seni tradisi dan religiusitas bisa berjalan beriringan.
Dengan sejarah panjang dan kharisma yang kuat, Hadrah Al Muhibbin layak disebut sebagai warisan budaya religius Tulungagung yang legendaris.
Mereka bukan sekadar penghibur, melainkan penjaga tradisi sholawat yang tetap hidup hingga hari ini. ****
Editor : Dharaka R. Perdana