RADAR TULUNGAGUNG - Malam ini hingga Senin dini hari masyarakat Tulungagung dan sekitarnya akan menyaksikan fenomena gerhana bulan total.
Bahkan gerhana bulan total atau blood moon terhitung langka dan pantang dilewatkan masyarakat Tulungagug.
Gerhana bulan sejak lama menjadi peristiwa penting dalam pandangan orang Jawa.
Jika hari ini masyarakat mengenalnya sebagai fenomena astronomi, maka di masa lalu ia dimaknai sebagai kejadian gaib yang penuh simbol.
Salah satu tradisi khas yang diwariskan adalah menabuh kentongan, bedug, atau alu pada lesung ketika bulan tertutup bayangan bumi.
Saat terjadi gerhana, masyarakat meyakini bahwa Batara Kala sedang menelan bulan.
Itulah sebabnya cahaya bulan tampak meredup atau bahkan hilang sama sekali.
Namun, bulan tidak akan hilang selamanya. Agar bulan terbebas dari gigitan Batara Kala, orang Jawa menabuh kentongan sekeras-kerasnya.
Suara kayu yang bergemuruh dianggap mampu mengusir atau membuat Batara Kala terkejut, sehingga ia melepaskan kembali bulan ke langit malam.
Selain dimaknai secara mistis, tabuhan kentongan juga punya makna sosial. Saat gerhana bulan terjadi, warga desa berbondong-bondong keluar rumah.
Mereka berkumpul di halaman, sebagian memukul kentongan, sebagian menabuh bedug masjid, dan yang lain memukul alu pada lesung.
Baca Juga: Gerhana Bulan Total Sarat Beragam Makna Spiritual dan Mitos, Bagaimana dengan Daerahmu?
Di balik suara ramai itu, terdapat nilai gotong royong dan rasa persaudaraan. Tradisi ini menjadi momen kebersamaan, di mana seluruh warga merasakan keterhubungan dengan alam semesta dan dengan sesamanya.
Kini masyarakat Jawa memahami bahwa gerhana bulan terjadi karena bumi menghalangi cahaya matahari yang menuju bulan. Tidak ada raksasa menelan bulan.
Meski begitu, sebagian tradisi lama tetap hidup dalam bentuk selamatan, doa bersama, atau tabuhan simbolis, bukan lagi karena takut pada Batara Kala, melainkan sebagai cara melestarikan warisan budaya leluhur.
Dengan demikian, kentongan saat gerhana bulan bukan sekadar mitos. Ia adalah jendela yang memperlihatkan bagaimana orang Jawa menghubungkan alam, mitologi, dan kehidupan sosial dalam satu kesatuan yang harmonis. ****
Editor : Dharaka R. Perdana